Indonesia Diuntungkan dari Perang Dagang Amerika Serikat - Cina

Ameidyo Daud Nasution
5 Oktober 2025, 18:22
Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, John Low.
Katadata
Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, John Low. Katadata/Bintan Insani

Selain R&D, kebijakan apa lagi yang harus jadi prioritas?

Kebijakan logistik nasional. Itu sangat penting. Ketika kami membantu perusahaan untuk masuk ke Indonesia atau mereka melakukan pemilihan lokasi, satu hal negatif tentang Indonesia adalah logistik.

Termasuk di Jawa? Karena pemerintah telah membangun banyak infrastruktur di Jawa..

Iya, bahkan di Jawa. Logistik lewat laut, darat, atau udara, semuanya. Logistik lewat laut inefisien. Kapal sampai di pelabuhan, tertahan lama. Investor tidak mau itu. Mereka mau barang datang, bereskan, pergi. Bea cukainya juga sangat lambat.

Jika anda mengunjungi pelabuhan Singapura dan Indonesia, langsung dapat melihat perbedaannya. Indonesia perlu meningkatkan infrastrukturnya, bukan hanya membangun jalan, tetapi juga pengaturannya, teknologinya.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengirim barang di Jakarta saja sudah masalah besar karena macet. Contohnya Grab, Lala Move, atau Gojek dalam satu jam hanya bisa mengirim satu barang. Di Singapura, dalam satu jam sudah bisa mengirim sepuluh barang.

Jadi bukan cuma soal keberadaan infrastruktur secara fisik, tapi soal sistemnya?

Betul. Jadi itulah mengapa biaya logistik berbisnis di Indonesia sangat tinggi. Bahkan pasokan bahan baku kalau terjebak macet lama-lama, itu juga menjadi biaya. Jadi penting untuk memanfaatkan teknologi.

Neraca perdagangan Indonesia surplus 64 bulan berturut-turut
Neraca perdagangan Indonesia surplus 64 bulan berturut-turut (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.)

Soal ESG, bagaimana anda melihat ini dan dampaknya pada minat investasi?

ESG (prinsip environment, social, and governance) sangat penting karena beberapa konsumen, terutama di AS dan Eropa, mungkin tak mendukung Anda jika tak bersertifikat hijau.

Sekarang juga menjadi sangat penting untuk efisiensi, untuk transparansi, untuk ketertelusuran komoditas.  Jadi berinvestasi dalam teknologi, memastikan semuanya dapat dilacak. Bahkan, sekarang untuk minyak sawit ada kebijakan minyak sawit berkelanjutan. Anda bisa melacak dari perkebunan mana itu berasal, apakah berasal dari hutan yang ditebang? atau perusahaan memiliki praktik berkelanjutan yang baik di sana?

Jadi tuntutan global saat ini sama. Jika anda ingin mengekspor ke Eropa, Anda harus memenuhi peraturan hijau mereka.  Semakin banyak peraturan semacam ini dan pemerintah perlu memastikannya dan mendukung.

Bagaimana dunia bisnis internasional memandang dinamika pemerintahan dan kebijakan Indonesia?

Saya akan bilang secara umum oke, karena investasi tetap datang terlepas siapa pun presidennya. Sekarang, Presidennya Prabowo (Subianto). Saya pikir tidak masalah, kecuali untuk (demonstrasi ke) parlemen baru-baru ini.

Secara umum semua orang tahu, Indonesia itu liberal meskipun negara Muslim. Bahkan, lebih liberal daripada Malaysia. Anda bisa melakukan banyak hal. Anda bisa melakukan banyak hal yang tidak terlalu membatasi dari perspektif negara Muslim.

Populasi penduduknya besar, orang-orangnya cerdas, dan bisa melakukan banyak hal. Pekerja pabriknya juga siap sedia dan terampil.

Bagaimana pergeseran rantai pasokan Asia berdampak pada investasi di pasar saham di Indonesia?

Sebenarnya Indonesia sangat diuntungkan dari perang dagang AS-Cina. Karena perusahaan memindahkan pabrik mereka dari Cina ke Asia Tenggara dampak tarif mencapai 100%.

Sebelumnya, Perusahaan AS dan Eropa membuka pabrik di Cina karena dianggap berbiaya rendah, sangat efisien, penduduknya bisa bekerja cerdas dan cepat. Sekarang, mereka harus membayar tarif 100% jika mengekspor ke AS. Jadi mereka harus pindah ke Indonesia. 

Mungkin mereka tidak menutup operasional di Cina, tapi mungkin mengubah beberapa hal dan hanya memproduksi untuk pasar di Cina, karena pasarnya sangat besar. Jadi jika saya perusahaan Eropa, saya tidak perlu menutup pabrik saya di Cina karena pasarnya besar.

Sementara, Indonesia juga memiliki basis konsumen yang besar. Jadi saya juga bisa melokalisasi dan memiliki produk yang lebih murah sekarang untuk melayani pasar Indonesia.

Jadi pada dasarnya, perusahaan akan diuntungkan situasi itu?

Tentu saja. Tapi semua orang ingin diuntungkan. Malaysia juga ingin diuntungkan dari perusahaan yang pindah dari Cina. Di Vietnam juga. Jadi negara-negara ASEAN akan berkompetisi. Tapi secara keseluruhan, Indonesia akan diuntungkan sebagian, Malaysia diuntungkan sebagian, Vietnam diuntungkan sebagian.

Bagaimana investor internasional melihat dinamika ini?

Saya akan bilang pasar saham jauh lebih kompleks daripada sekadar rantai pasokan. Jadi saya tidak ingin terlalu mengaitkannya dengan pasar saham karena itu bergantung pada hal-hal yang jauh lebih besar daripada sekadar perang tarif AS-Cina.

Mungkin Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan jika ada pengumuman bahwa sebuah perusahaan Eropa sekarang membuat usaha patungan dengan perusahaan publik di Indonesia.

Mungkin ada satu, dua, tiga, empat dampak pada perusahaan-perusahaan ini. Tetapi secara keseluruhan, jauh lebih kompleks. Jadi saya akan bilang pengaruhnya mungkin hanya pada perusahaan-perusahaan tertentu.

Apa yang bisa dilakukan korporasi Indonesia dalam situasi ini?

Pertama, mereka juga perlu memikirkan ketahanan mereka sendiri. Jadi, saat ini mereka perlu mengurangi risiko.

Mengurangi risiko seperti apa?

Mereka harus mengurangi risiko karena sebelumnya kita tidak memiliki semua risiko tarif, risiko rantai pasokan, risiko Covid-19, risiko gempa bumi, dan hal-hal seperti itu. Bagaimana mereka bisa membuat diri mereka lebih tangguh,

Tangguh berarti katakanlah besok, AS menerapkan tarif 50%, lalu bagaimana Anda masih bisa bertahan? Mungkin mengalihkan fokus ke Afrika, Amerika Latin, atau negara-negara ASEAN.

Lalu bagaimana mengamankan bahan baku. Seperti contoh, Toyota mengurangi risiko dengan tak hanya mendapatkan bahan baku dari satu pemasok saja, tapi dari berbagai negara. Karena jika terjadi sesuatu, mereka masih bisa mendapatkan bahan baku sehingga tidak mengganggu produksi pabrik.

Lalu kita perlu berinvestasi dalam teknologi.

Termasuk berinvestasi di AI?

Karena itu akan membuat Anda lebih efisien dan kompetitif. Investasi dalam teknologi tidaklah mahal dibandingkan dengan keuntungan yang Anda dapatkan karena mebuat lebih efisien, menjadi lebih transparan, menjadi lebih maju, untuk menurunkan biaya produksi Anda.

Apa saran anda untuk pemerintah Indonesia agar mampu bersaing menjadi pusat rantai pasok global?

Saya berbicara tentang keberlanjutan, ramah lingkungan, transisi ke energi hijau, keberlanjutan hingga teknologi. Oleh karena itu, dari sudut pandang kebijakan, dari sudut pandang pemerintah, inilah yang perlu didukung. Apa yang perlu didukung adalah kebijakan ramah lingkungan. Berikan insentif bagi perusahaan untuk menjadi ramah lingkungan.

Dari kebijakan bahan baku juga sama. Pemerintah (perlu) menggunakannya sebagai alat negosiasi dengan negara lain. Berikan insentif untuk membantu perusahaan Indonesia melakukan digitalisasi, transformasi, berinvestasi di TIK, dll.

Selain itu, di masa depan, siapa yang mengendalikan pangan akan menjadi negara adikuasa. Karena jika saya tidak menjual makanan kepada anda, anda akan mati. Jadi perlu memiliki kebijakan ketahanan pangan, karena Indonesia memiliki sumber daya pangan yang kaya.

Jadi, kebijakan ketahanan pangan itu penting. Karena masa depan bukan saja tentang siapa yang mengendalikan teknologi, tetapi siapa yang mengendalikan pangan. Ini berarti investasi di bidang pertanian, di bidang agri-tech. Jadi itu penting karena Indonesia bisa memproduksi pangan sebanyak mungkin dengan cara termurah, memanfaatkan teknologi mereka sendiri.

Kemudian, mungkin juga berinvestasi di bidang pariwisata. Karena Anda tidak perlu menghabiskan banyak uang. Orang-orang datang, mereka menghabiskan uang untuk infrastruktur yang sudah ada. Tapi, hasilnya cukup bagus. Jadi, saya pikir ini semua hal yang harus difokuskan pemerintah untuk diinvestasikan, baik itu kebijakan, insentif, dan sebagainya.

Halaman:
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...