Indonesia Diuntungkan dari Perang Dagang Amerika Serikat - Cina

Ameidyo Daud Nasution
5 Oktober 2025, 18:22
Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, John Low.
Katadata
Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, John Low. Katadata/Bintan Insani
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pergeseran rantai pasok saat ini disebut tengah terjadi di sejumlah negara. Hal ini terjadi karena sejumlah hal mulai dari dampak pandemi hingga pengenaan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Lembaga konsultasi Roland Berger mengatakan, situasi ini bisa menjadi berkah bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hal ini karena RI bisa menerima investasi dari perpindahan fasilitas produksi, terutama dari Cina karena adanya hambatan dagang.

"Jadi, sebenarnya Indonesia sangat diuntungkan dari perang dagang AS-Cina karena perusahaan memindahkan pabrik mereka dari Cina ke Asia Tenggara," kata Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, John Low, dalam sebuah wawancara dengan Katadata di Kuala Lumpur, Malaysia pada akhir September 2025.

Menurut Low, Indonesia punya potensi karena jumlah penduduk yang besar, angkatan kerja yang memadai, hingga keterampilan dalam manufaktur. Meski demikian, RI juga menghadapi sejumlah tantangan.

Dalam studi yang dilakukan Roland Berger, mereka memetakan tiga tantangan Indonesia jika ingin menjadi pusat rantai pasok global: logistik, infrastruktur dan hambatan pelabuhan, serta aturan konten lokal.

"Ketika kami membantu perusahaan untuk masuk ke Indonesia, satu hal negatif tentang Indonesia adalah logistik," katanya.

Dalam wawancara tersebut, Low juga bicara soal potensi nikel Indonesia, relasi perdagangan AS-Cina, hingga persepsi investor kepada pemerintahan Prabowo Subianto. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa Anda jelaskan dampak kebijakan terkini tarif Trump ke rantai pasok dunia, terutama di Asia? ?

Amerika Serikat selalu jadi negara adidaya dan pada dasarnya mereka mendominasi segalanya. Mereka punya pasar konsumen terbesar. Mereka pemimpin dalam merek, produk konsumen, dan teknologi. Jadi, mereka benar-benar mendominasi pasar, mendominasi dunia. Saya akan bilang, mungkin mereka sekarang melihat kebangkitan Cina, karena sekarang Cina juga punya pasar domestik yang sangat kuat.

Pada dasarnya, Cina bagus di bidang manufaktur. Mereka juga belajar meniru serta banyak riset dan pengembangan sehingga bisa membuat mesin sendiri. Jadi, sekarang ada kebangkitan di Cina yang begitu cepat, sehingga AS menjadi khawatir.

It sebabnya sejak dahulu, bahkan saat era Biden (Presiden AS Joe Biden), Trump, semuanya mengeluarkan kebijakan yang mencoba melindungi kepentingan AS. Mereka telah melihat bahwa sekarang Cina sangat maju dalam teknologi. AS juga tahu bahwa siapa pun yang mengendalikan teknologi di masa depan akan menjadi negara adidaya.

(Lalu) AS melarang Huawei menggunakan produk Huawei di telekomunikasi mereka (buatan AS). Mereka bilang, “Kami akan kehilangan rahasia kami." Padahal, tidak.

Jika tidak, lalu untuk apa?

Itu benar-benar untuk menghalangi Huawei mendominasi pasar AS. Menghentikan Huawei menjual lebih banyak teknologi di AS karena pasarnya besar. AS tidak bisa menghentikannya karena ini perdagangan bebas. Jadi, satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan adalah menyalahkan.

Sekarang ada (rivalitas) Cina versus AS. Dan AS sudah tahu Cina bisa berdiri sendiri sekarang.  Mereka tidak mengizinkan Google, mereka punya Huawei, punya IoT (internet of things) mereka sendiri. Bahkan, lebih dahsyat dari yang dilakukan AS. Jadi, Cina tahu itu akan menjadi masalah bagi AS.

Merespons hal tersebut, Trump akan mengenakan tarif. Menggunakannya sebagai alasan, tapi sebenarnya menciptakan hambatan perdagangan AS-Cina.

Dari situasi persaingan seperti ini, apa dampaknya ke kawasan Asia Tenggara?

Ini (sebenarnya) tak ada hubungannya dengan Asia Tenggara. Tapi, karena mereka (AS) mungkin tahu bahwa Cina mungkin punya pabrik di Indonesia. Jadi, AS harus mengenakan pajak ke Indonesia karena ada barang-barang atau perusahaan-perusahaan Cina yang melalui Indonesia.

Situasi sejumlah negara seperti Indonesia akan mirip Vietnam?

Sama. AS akan melihat berapa banyak Cina mengekspor ke Indonesia dan akan menanyakan mengapa Indonesia membeli dari Cina dan bukan AS. Jadi, AS akan memaksa Indonesia untuk membeli lebih banyak produk AS, baik itu jagung, gandum, belum lagi barang-barang berteknologi tinggi. Bagaimana AS meningkatkan perdagangan dengan Indonesia sehingga Indonesia mengurangi perdagangan dengan Cina. Pada akhirnya, ini tetap tentang Cina.

Tapi sejumlah negara sudah mulai bernegosiasi, bagaimana ke depannya?

Semua negara bernegosiasi. Tapi tetap saja, jika Anda berbuat lebih banyak dengan AS, kemungkinan besar Anda akan berbuat lebih sedikit dengan Cina dan seluruh dunia. AS ingin menjadi negara adidaya yang juga mengendalikan perdagangan, bukan hanya teknologi. Sebagai gantinya, mereka mungkin akan menjual lebih banyak teknologi kepada Anda, tetapi mereka membeli sumber daya dari Anda. Jika Anda membeli teknologi dari AS, berarti Anda juga membeli lebih sedikit teknologi dari Cina.

Jadi, apakah itu sebabnya studi Roland Berger mengatakan bahwa negara-negara ASEAN lebih tahan terhadap tarif? Apakah karena dibandingkan dengan Cina?

Saya akan menjawab iya. Karena, di mana pusat manufaktur berbiaya rendah di dunia? Selain Cina, maka ada Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Asia Tenggara.

Ke mana lagi mereka (investor) akan pergi? Mereka  tidak bisa pergi ke Afrika karena infrastrukturnya belum terbangun di sana. Mungkin mereka bisa ke Meksiko atau Amerika Latin, tetapi di tempat lain seperti Eropa sudah terlalu mahal. Tidak ada tujuan lain. Itu lah menurut saya mengapa kita masih tangguh, karena tak ada tujuan lain bagi mereka (investor).

Lalu bagaimana situasi ini mempengaruhi wilayah lain di dunia? Uni Eropa, misalnya.

Jadi, Eropa tentu saja merupakan kekuatan besar tersendiri. Terutama dari Jerman, Italia, Prancis, Spanyol. Jadi ada basis konsumen yang sangat kuat di Eropa. Kami juga menyebut mereka tengah mengalami reindustrialisasi.  Sebagai contoh,  industri otomotif di Hungaria dan Polandia sangat besar. Lalu, ada sektor energi dan consumer goods. Eropa juga merupakan kekuatan sendiri dan kita tidak bisa mengabaikan mereka. 

Itulah mengapa kita katakan sekarang, ada tiga kawasan yang jelas sedang membangun wilayah mereka sendiri: Eropa, AS, dan Asia. Tetapi Eropa, menurut saya, sampai batas tertentu, bergantung pada AS. Mereka tidak bisa terlalu independen dari AS. Itulah mengapa Eropa masih berusaha bersikap positif kepada AS, karena berbagai alasan.

Menurut Anda, apakah Indonesia memperoleh keuntungan paling besar dari pergeseran rantai pasokan regional seperti ini saat ini?

Tentu saja, sektor manufaktur secara umum dapat dimanfaatkan oleh Indonesia karena biayanya masih rendah, tenaga kerjanya melimpah baik terampil maupun tidak terampil. Tenaga kerjanya masih murah dan pasokannya baik.

Apa yang membuat Indonesia masih menarik?

Pada dasarnya Indonesia juga memiliki pasar konsumen lokal yang besar. Jadi, orang-orang tidak hanya datang untuk melihat Indonesia, membangun manufaktur, lalu mengekspor barang. Mereka melakukannya juga karena dapat menembus pasar lokal Indonesia. Karena pertumbuhannya sangat cepat, 280 juta orang. Hampir seukuran AS.

Jadi, Anda punya pasar yang besar, orang-orang ingin datang. Anda masih punya keunggulan biaya rendah. Secara umum, saya rasa semua industri bisa diuntungkan.

Sekarang kuncinya adalah bagaimana agar Indonesia tidak hanya menjadi basis produksi berbiaya rendah. Bagaimana masing-masing industri ini harus bergerak maju untuk melakukan lebih banyakriset dan pengembangan (R&D) agar tidak hanya menjadi komoditas manufaktur sumber daya berbiaya rendah. Jadi, semua industri bisa mendapatkan keuntungan.

Itu bagian dari insentif pajak yang diberikan pemerintah. Anda harus bernegosiasi untuk memberi tahu mereka, "Oke, saya tidak ingin Anda datang hanya untuk membangun pabrik. Saya ingin anda membawa beberapa komponen R&D dari perusahaan ini ke Indonesia."

Indonesia adalah salah satu produsen nikel terbesar. Namun, tantangannya adalah adanya semacam pembiayaan yang dinilai berdasarkan industri ini. Seperti peringkat ESG, bagaimana minat pembiayaan industri ini ke depannya?

Banyak negara Asia Tenggara bicara tentang Indonesia karena memiliki sumber daya yang baik. Untuk memproduksi baterai kendaraan listrik (EV), kita membutuhkan nikel. Jadi, manfaatkan itu. Jangan hanya menjual nikel ke negara lain. Simpan untuk diri sendiri.

Tetapi bagaimana anda dapat menciptakan ekosistem, menciptakan klaster, menciptakan seluruh rantai nilai di Indonesia sehingga tidak hanya menjual bahan mentah karena nilai tambah yang bisa didapatkan tidak banyak dan itu komoditas. Jadi, idenya adalah naik ke rantai nilai yang lebih tinggi.

Beberapa negara saat ini sedang mengembangkan baterai berbasis litium fero fosfat (LFP). Sejauh mana pengembangan baterai berbasis LFP akan berdampak pada industri pengolahan nikel Indonesia? Akankah hal ini mengurangi permintaan baterai kendaraan listrik di Indonesia?

Meningkatnya penggunaan baterai litium fero fosfat (LFP) akan mendiversifikasi pasar kendaraan listrik global dengan menurunkan biaya dan mempercepat adopsi. Meskipun LFP menggunakan lebih sedikit nikel, permintaan nikel secara keseluruhan diperkirakan masih akan tumbuh mengingat pesatnya ekspansi kendaraan listrik, terutama pada model jarak jauh dan performa tinggi yang masih mengandalkan bahan kimia kaya nikel.

Bagi Indonesia, pergeseran ini menyoroti pentingnya perluasan bisnis di luar nikel saja. Industri pengolahan nikel akan tetap menjadi pemain kunci, tetapi terdapat juga peluang untuk menangkap nilai dalam bahan kimia lain seperti LFP dan LMFP, serta dalam manufaktur sel dan komponen baterai. Alih-alih mengurangi peran Indonesia, meningkatnya penggunaan LFP dapat dilihat sebagai peluang untuk memperkuat posisinya sebagai pusat baterai kendaraan listrik spektrum penuh.

Apa langkah yang bisa diambil Pemerintah Indonesia?

Jangan hanya menjadi pemasok bahan baku. Tingkatkan rantai nilai dan paksa perusahaan yang datang ke Indonesia untuk memiliki komponen R&D. Karena begitu anda melakukan R&D di Indonesia, maka mereka (investor) perlu mempekerjakan pekerja Indonesia.

Jadi, pekerja Indonesia juga bisa belajar R&D bersama dengan (investor) Jepang, Cina, Eropa atau AS. Begitulah cara Cina menyalip AS. Mereka belajar, membongkar teknologinya, mereka membongkar peralatannya. Lalu, rakit lagi namun dengan komponen Cina.

Jadi, perusahaan Indonesia ini bisa berkembang karena orang Indonesia belajar semua hal dari perusahaan lain. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa R&D sangat penting.

Baca halaman berikutnya soal tantangan Indonesia di bidang logistik

Halaman:
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...