Kinerja Membaik, Chandra Asri Percepat Cicil Surat Utang Rp 4 Triliun

Intan Nirmala Sari
20 Mei 2021, 16:45
Kinerja Membaik, Chandra Asri Cicil Surat Utang Rp 4 T Lebih Awal
katadata/Arief Kamaludin
Ilustrasi. Aktivitas instalasi Pabrik PT Chandra Asri Petrochemical di Cilegon, Banten, Rabu, (26/11/2018).

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menawarkan tender awal atau early tender offer terhadap surat utangnya. Langkah itu untuk mengoptimalkan kas internal, mengelola profil utang, dan struktur permodalan.

Melansir keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (20/5), General Manager of Legal and Corporate Secretary TPIA Erri Dewi Riani menyatakan proses tender rampung Rabu kemarin, dengan nilai maksimum US$ 75 juta setara Rp 1,07 triliun. Adapun jumlah pokok terutang dari surat utang tanpa jaminan milik TPIA tersebut adalah US$ 300 juta.

Anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT) tersebut sudah menerbitkan surat utang sejak 2017. Dengan menawarkan kupon atau bunga 4,95%, surat utang TPIA dijadwalkan jatuh tempo pada 2024.

Dari nilai maksimum, perusahaan petrokimia itu berhasil membeli pokok surat sebesar US$ 32,5 juta atau sekitar Rp 464,75 miliar. Total penyelesaian awal atas penawaran tersebut US$ 33,4 juta setara Rp 477,62 juta.

“Dengan selesainya aksi korporasi tersebut, total kewajiban TPIA yang tersisa berdasarkan surat utang yakni US$ 235,2 juta (Rp 3,36 triliun),” kata Erri dalam pernyataan tersebut.

Langkah berani TPIA untuk membeli kembali surat utangnya tidak lepas dari dukungan kinerja perusahaan di kuartal pertama 2021. Periode Januari-Maret 2021, Chandra Asri membukukan pendapatan bersih US$ 598 juta atau naik 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni US$ 477 juta. Ini didukung harga Polyethylene dan Polypropylene yang naik, sedangkan penjualan relatif stabil.

Dengan EBITDA US$ 146,7 juta, TPIA berhasil membalik kinerja perusahaan dari sebelumnya merugi US$ 17,5 juta di kuartal pertama 2020, menjadi laba bersih setelah pajak US$ 84,5 juta atau Rp 1,2 triliun. Itu disertai beban pokok pendapatan yang turun 8,63% ke US$ 450,8 juta atau setara Rp 64,46 miliar, karena konsumsi bahan baku yang lebih rendah.

Sebelumnya, Chandra Asri juga menyelesaikan program penawaran umum berkelanjutan obligasi rupiah pertama di 2021. Kebanyakan adalah tenor jangka panjang untuk menyesuaikan dengan rencana pertumbuhan jangka panjang TPIA.

Kupon yang ditawarkan untuk seri A tenor 3 tahun adalah 7,8% sebesar Rp 50 miliar. Sedangkan untuk seri B dengan tenor 5 tahun menawarkan kupon 8,5% sebesar Rp 587,95 miliar, dan terakhir seri C dengan tenor 7 tahun memiliki kupon 9% senilai Rp 362,05 miliar.

Disematkan peringkat idAA- dari Pefindo, dana penerbitan obligasi TPIA akan digunakan untuk modal kerja dan pertumbuhan berkelanjutan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait