Usai Jual 4.200 Menara, Indosat Fokus ke Layanan Digital

Indosat menunjuk J.P. Morgan sebagai penasihat keuangan dalam penjualan 4.200 menara senilai Rp 10,8 triliun hari ini.
Image title
Oleh Lavinda
30 Maret 2021, 20:23
PT Indosat Tbk. menjual 4.200 menara telekomunikasi
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Seorang pria melintas di depan gedung Indosat, Jakarta Pusat (20/2)

PT Indosat Tbk. memastikan menjual 4.200 menara telekomunikasi kepada PT Epid Menara AssetCo (Edge Point Indonesia) dengan nilai transaksi mencapai US$ 750 juta atau setara Rp 10,8 triliun. Indosat menjual aset menara sebagai bagian strategi menjadi berfokus pada produk dan layanan digital.

Perjanjian jual dan sewa kembali menara telah ditandatangani hari ini, Selasa (30/3). Indosat menunjuk J.P. Morgan sebagai penasihat keuangan selama transaksi berlangsung. Tak hanya melakukan penjualan, Indosat Ooredoo juga menyewa kembali menara-menara tersebut untuk jangka waktu 10 tahun.

Epid Menara AssetCo merupakan anak usaha Edge Point Singapura yang berbasis di Indonesia. Perusahaan dimiliki sepenuhnya oleh Digital Colony, investor infrastruktur digital global asal Amerika Serikat.

Dengan adanya kesepakatan tersebut, secara akumulasi Indosat telah menjual 7.300 menara telekomunikasi miliknya dengan total transaksi mencapai Rp 17,2 triliun. Penjualan dilakukan melalui tiga tahap dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun.

Indosat pernah menjual sebanyak 1.000 menara dijual kepada PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo). Selanjutnya, Indosat juga menjual 3.100 menara kepada PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel). Total penjualan menara yang berlangsung pada 2019 itu tercatat senilai Rp 6,39 triliun.

Strategi Indosat Fokus ke Layanan Digital

President Director & CEO Indosat Ahmad Al-Neama mengungkapkan penjualan aset menara akan menambah permodalan untuk meningkatkan kinerja jaringan dan peluncuran solusi-solusi digital baru demi meningkatkan pengalaman pelanggan. Hal ini merupakan bagian dari strategi Indosat untuk berfokus pada produk dan layanan digital.

“Saya senang Indosat Ooredoo telah mencapai kesepakatan dengan Edge Point Indonesia. Kesepakatan tersebut menandai penjualan ketiga dan terakhir dari aset portofolio menara yang mendorong kami menuju model aset yang lebih ramping dan fokus yang menghadirkan layanan digital seluler,” ujar Ahmad Al-Neama dalam konferensi pers virtual, Selasa (30/3).

Neama menargetkan transaksi penjualan menara ini akan rampung pada kuartal kedua 2021 dengan tunduk pada persyaratan umum. Sebelum transaksi, perseroan tentu akan meminta persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar pada 6 Mei 2021.

CEO Edge Point Group Suresh Sidhu mengklaim kesepakatan ini adalah salah satu yang terbesar di Asia dan memperkuat posisi Edge Point sebagai penyedia menara di Indonesia.

“Penambahan 4.200 menara ke dalam portofolio kami akan membantu menciptakan nilai yang signifikan bagi semua pemangku kepentingan kami,” tutur Suresh.

 

Kinerja Keuangan Indosat

Berdasarkan laporan keuangan tahunan, pendapatan Indosat sepanjang 2020 meningkat 6,92% menjadi Rp 27,92 triliun dari level tahun sebelumnya yang hanya Rp 26,12 triliun. 

Mayoritas pendapatan diperoleh dari segmen seluler sebesar Rp 23,08 triliun atau naik 11,65% dari raihan tahun sebelumnya Rp 20,67 triliun. Omzet seluler berasal dari pemakaian pulsa dan panggilan. 

Selain itu, bisnis multimedia, komunikasi, data, dan internet (MIDI) juga berkontribusi senilai Rp 4,28 triliun pada 2020. Sayangnya, pendapatan divisi pos mengalami penurunan hingga 10,42% menjadi Rp 4,78 triliun.

Tak berbeda jauh, pendapatan dari lini telekomunikasi juga menurun 15,39% dari Rp 662,47 miliar menjadi Rp 560,53 miliar. 

Indosat mengalami rugi bersih sebesar Rp 716,7 miliar, dari semula membukukan laba bersih hingga Rp 1,56 triliun pada tahun 2019.

Kerugian salah satunya disebabkan oleh lonjakan jumlah beban biaya yang harus ditanggung perseroan yakni mencapai 16,62% dari semula hanya Rp 21,88 triliun menjadi Rp 25,52 triliun.

Pos beban paling besar berasal dari penyusutan dan amortisasi aset-aset perusahaan. Selain itu, terdapat pula beban gaji karyawan.

Analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya mengungkapkan biaya operasional menjadi salah satu pemicu kinerja keuangan Indosat negatif tahun lalu. Menurut dia, tingkat utang Indosat meningkat seiring ekspansi agresif yang dilakukan perseroan. 

Kendati demikian, ekspansi Indosat mulai membuahkan hasil ditunjukkan dari penambahan jumlah pelanggan tahun lalu. Ke depan, Anissa memprediksi kinerja Indosat akan membaik didukung oleh peningkatan konsumsi internet di Indonesia. 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait