Efek Taper Tantrum Bayangi Bursa Asia, IHSG Anjlok 2% ke 5.992

IHSG Turun dipicu keputusan sebagian besar pejabat Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed untuk mulai mengurangi pembelian obligasi pada akhir tahun ini.
Image title
19 Agustus 2021, 18:15
IHSG, Bursa Efek Indonesia
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.
Karyawan melintas di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/5/2021).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (19/8) ditutup anjlok hingga 2,06% menjadi di level 5.992. Indeks komposit anjlok sudah sejak awal perdagangan, dibayangi oleh peluang terjadinya taper tantrum.

Taper tantrum dikenal sebagai kebijakan pelonggaran kuantitatif dengan mengurangi nilai pembelian aset. Jika hal ini terjadi, maka aliran modal akan ke luar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data RTI Infokom, total volume saham yang diperdagangkan hari ini mencapai 24,78 miliar unit saham dengan frekuensi sebanyak 1,54 juta kali. Nilai transaksi saham pada hari mencapai Rp 14,1 triliun. Hanya ada 120 saham yang bergerak naik, sedangkan 407 saham ditutup di zona merah, dan 120 saham lainnya stagnan.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan dalam riset tertulisnya pagi ini, IHSG memang berpotensi melemah karena rilis risalah Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed). Padahal secara teknikal, ia melihat IHSG memiliki peluang menguat terbatas pada level pergerakan 6.040-6.222.

"Risalah The Fed hari ini mungkin membelokkan penguatan tersebut menjadi pelemahan. Hati hati dan cermati setiap situasi dan kondisi yang terjadi," kata Nico dalam risetnya, Kamis (19/8).

Seperti diketahui, risalah The Fed keluar pada pagi tadi waktu Indonesia. Dalam risalah pertemuan tersebut dijelaskan, sebagian besar pejabat dari The Fed setuju untuk mulai mengurangi pembelian obligasi pada akhir tahun ini. Hal itu dilakukan setelah melihat kemajuan perekonomian telah cukup baik karena inflasi dan ketenagakerjaan mengalami kenaikan.

Pertemuan The Fed selanjutnya diselenggarakan pada 21-22 September di mana hal ini tentu akan menjadi titik balik soal keputusan pembelian kembali obligasi apakah diumumkan oleh Gubernur The Fed Jerome Powell atau tidak. Powell berjanji untuk menyampaikan apa yang harus disampaikan kepada dunia, jika The Fed memulai taper tantrum.

"Kami melihat sejauh ini ada kemungkinan sebesar 60% mereka akan mengumumkan mengenai pengurangan pembelian obligasi, meskipun kami percaya, Powell masih akan menahan pengurangan tersebut," kata Nico.

Taper tantrum ini tidak hanya berpengaruh pada indeks pasar saham Tanah Air saja, indeks di kawasan Asia juga terdampak. Nikkei 225 di Jepang dan Straits Times di Singapura anjlok masing-masing 1,1% dan 1,42%. Lalu, Hang Seng di Hong Kong dan Shanghai Composite di Tiongkok masing-masing turun 2,13% dan 0,57%.

Indeks di kawasan Eropa juga dibuka anjlok meski bursa-bursa tersebut berada di negara maju. Seperti FTSE 100 Index di Inggris bergerak turun 1,91% sejauh berita ini ditulis. Lalu, Xetra Dax di Jerman anjlok 1,72% sejauh ini.

Seluruh Indeks Sektoral Terkapar

Berdasarkan data Stockbit, seluruh indeks sektoral mengalami penurunan. Sektor yang anjlok paling dalam adalah finansial sebesar 2,45%. Saham-saham bank yang memiliki nilai kapitalisasi pasar jumbo, ditutup turun signifikan.

Seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ditutup turun hingga 4,67% menjadi Rp 3.880 per saham. Lalu, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun hingga 3,31% menjadi Rp 5.850 per saham. Termasuk saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) turun hingga 4,76% menjadi Rp 16.000 per saham.

Sektor lain yang ditutup turun signifikan adalah energi sebesar 2,42%. Saham berkapitalisasi besar yang turun pada sektor ini seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sebesar 3,36% menjadi Rp 1.295 per saham. Lalu, PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) yang turun 3,16% menjadi Rp 7.650 per saham.

Berdasarkan data penutupan, sektor cyclical turun 1,03%, lalu sektor infrastruktur turun 1,14%, properti turun 1,36%, non-cyclical turun 2,12%, industrial turun 1,58%, transportasi turun hingga 2,24%, industri dasar turun 2,14%, kesehatan turun 2,27%, dan sektor teknologi mengalami penurunan 1,85%.

Saham dengan nilai transaksi paling besar pada perdagangan hari ini adalah PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) senilai Rp 1,6 triliun. Saham ini ditutup naik 7,83% menjadi Rp 895 per saham, padahal di awal perdagangan hari ini, saham Bukalapak bergerak anjlok hingga 6,62% menjadi Rp 775 per saham.

Saham yang diperdagangan dengan volume paling banyak pada hari ini adalah PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dengan volume mencapai 2,7 miliar unit saham. Saham ini ditutup menguat 0,82% menjadi Rp 123 per saham.

Saham PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) ditransaksikan dengan frekuensi paling banyak yaitu 89.687 kali pada hari ini. Harga sahamnya ditutup menguat signifikan hingga 31,11% menjadi Rp 118 per saham.

Meski indeks tercatat turun, investor asing berbondong-bondong masuk ke pasar dalam negeri. Tercatat asing melakukan pembelian dengan nilai bersih mencapai Rp 339,47 miliar di pasar reguler. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) laku dibeli dengan nilai bersih Rp 309,8 miliar, meski harga sahamnya stagnan di Rp 33.000 per saham.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait