Intikeramik Incar Omzet 2022 Naik 40% Dipicu Bisnis Keramik dan Hotel

Intikeramik menargetkan kapasitas produksi keramik dapat mencapai 4,1 juta meter persegi pada 2024.
Image title
16 Desember 2021, 17:54
Intikeramik
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020).

Produsen keramik dan properti perhotelan, PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk menargetkan pendapatan 2022 bisa melonjak maksimal hingga 40% dari capaian omzet sampai akhir tahun ini. Hal itu akan ditopang peningkatan kapasitas produksi anak usaha keramik dan bisnis perhotelan yang pulih seiring penurunan kasus Covid-19.

Kepala Divisi Pencatatan dan Konsolidasi Intikeramik Tommy Atmojo mengatakan, perseroan memperkirakan pendapatan konsolidasi sampai akhir 2021 bisa mencapai Rp 180 miliar. Emiten berkode IKAI ini diprediksi masih mencatatkan kerugian sampai akhir tahun, meski nilainya berpotensi menyusut dari rugi bersih pada 2020 sebesar Rp 75 miliar. 

"Target 2022 bisa tumbuh 40% yang akan kita capai dengan leverage (rerata) peningkatan kapasitas anak usaha keramik. Kalau pandemi baik, kondisi anak usaha hotel harusnya membaik juga," kata Tommy dalam Paparan Publik Tahunan, Kamis (16/12).

Untuk mencapai target pendapatan, perusahaan menganggarkan belanja modal sebesar Rp 30 miliar pada tahun depan. Hal itu akan digunakan untuk menghidupkan dua lini produksi demi meningkatkan kapasitas produksi bisnis keramik 

Perseroan menargetkan kapasitas produksi keramik dapat mencapai 4,1 juta meter persegi pada 2024. Hingga November 2021, total produksi keramik baru mencapai 878 ribu meter persegi.

Intikeramik akan terus menambah kanal penjualan agar penambahan kapasitas produksi bisa terserap. Selain itu, perseroan akan meningkatkan kualitas tenaga kerja. 

Perusahaan juga berupaya melakukan optimalisasi dan inovasi terhadap produk-produk keramik Essenza serta produk dan jasa yang ditawarkan hotel. Selain itu, IKAI meningkatkan efisiensi biaya, dan menurunkan biaya bunga dari anak usaha hotel. 

Selain itu, perusahaan juga akan berfokus meningkatkan okupansi properti hotel yang dimilikinya. Saat ini, dua dari tiga hotel perseroan telah memiliki okupansi lebih dari 90% per November 2021. Secara rinci, Swiss-Belhotel Bogor memiliki okupansi sebanyak 93%, Swiss-Belhotel Medan hingga 94%, sedangkan Saka Hotel Medan masih di level 59%. 

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan Intikeramik naik 161,71% menjadi Rp 128,31 miliar hingga September 2021 dari raihan periode yang sama tahun lalu Rp 49,03 miliar. Adapun, laba kotor tercatat tumbuh 82,3% menjadi Rp 55,85 triliun.

Pendapatan perseroan selama Januari-September 2021 merupakan capaian terbaik dalam lima tahun terakhir. Hal itu disebabkan peningkatan area jangkauan distribusi keramik dan digitalisasi. 

Adapun, rugi bersih perseroan membaik 12.03% dari capaian sembilan bulan pertama 2020 senilai Rp 58,33 miliar menjadi Rp 51,31 miliar. Untuk membukukan laba, perseroan menargetkan pendapatan perseroan tumbuh 40%. 

Berdasarkan data Stockbit, harga saham IKAI konsisten stagnan di level Rp 50 per saham secara tahun berjalan. Posisi itu tidak berubah sejak 7 Februari 2020. Saham IKAI terakhir bergerak pada 2 Januari 2018 hingga 27 Januari 2020. Saham IKAI pernah menyentuh level Rp 295 per saham pada 16 April 2018. 

Adapun, rasio harga saham terhadap laba atau price to earning (PE) IKAI konsisten bergerak di zona merah atau di kisaran minus 11 kali. Saat ini, rasio PE IKAI adalah minus 10 kali. 

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait