Yield Obligasi AS Melonjak, Bank Sentral Dunia Ramai-Ramai Lepas Treasury
Lonjakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali mengguncang pasar keuangan global sepanjang Mei 2026. Kenaikan tajam yield Treasury AS memicu aksi jual besar-besaran dari investor global, termasuk sejumlah bank sentral dunia yang mulai mengurangi kepemilikan surat utang Amerika Serikat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi, perang Iran, dan membengkaknya utang pemerintah AS.
Fenomena Yield Obligasi AS melonjak menjadi perhatian pelaku pasar internasional karena berdampak langsung terhadap pasar saham, nilai tukar mata uang, hingga arus modal global. Kondisi tersebut juga memicu tekanan baru terhadap ekonomi negara berkembang yang sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan dolar AS.
Berdasarkan laporan Reuters, FXStreet, dan data pasar obligasi internasional, yield Treasury tenor 10 tahun sempat naik di atas level 4,6 persen. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun menembus 5 persen, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan dalam lelang terbaru, obligasi Treasury tenor 30 tahun terjual dengan imbal hasil 5,046 persen, tertinggi sejak 2007.
Kenaikan tersebut dipicu data inflasi Amerika Serikat pada April 2026 yang lebih tinggi dari perkiraan pasar. Situasi itu membuat investor memperkirakan Federal Reserve atau The Fed belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat dan masih membuka peluang pengetatan moneter tambahan.
Yield Obligasi AS Melonjak Picu Gejolak Pasar Global
Yield Obligasi AS melonjak terjadi ketika pasar global sedang menghadapi tekanan geopolitik akibat perang Iran dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia. Kombinasi inflasi tinggi, harga minyak yang naik, dan kebijakan suku bunga tinggi membuat investor mulai melepas aset obligasi pemerintah AS.
Kondisi tersebut diperparah aksi jual besar-besaran investor mortgage-backed securities (MBS) atau surat utang berbasis hipotek. Investor institusi seperti perusahaan asuransi dan real estate investment trust (REIT) melakukan strategi convexity hedging dengan menjual Treasury futures untuk mengurangi risiko portofolio mereka saat suku bunga naik tajam.
Analis Morgan Stanley Investment Management, Vishal Khanduja mengatakan kecepatan kenaikan yield Treasury saat ini sangat mengkhawatirkan karena memicu aksi jual paksa di pasar obligasi.
Fenomena tersebut terjadi karena kenaikan suku bunga membuat pemilik rumah di Amerika Serikat menunda refinancing kredit rumah. Akibatnya, durasi MBS menjadi lebih panjang dan semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga.
Berbeda dengan obligasi biasa yang memiliki positive convexity, MBS justru memiliki negative convexity. Artinya, harga instrumen tersebut dapat turun lebih tajam ketika yield naik sehingga investor perlu melakukan lindung nilai lebih agresif.
Data CME Group menunjukkan transaksi kontrak Treasury tenor lima hingga 10 tahun melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu transaksi bahkan mencapai 33 ribu kontrak, jauh di atas rata-rata transaksi normal yang biasanya berkisar 5 ribu hingga 8 ribu kontrak.
Yield Obligasi AS melonjak juga dipicu kebijakan quantitative tightening (QT) The Fed. Saat ini bank sentral AS membiarkan sekitar US$35 miliar MBS jatuh tempo setiap bulan tanpa membeli kembali aset serupa. Kondisi itu membuat tekanan risiko yang sebelumnya terserap di neraca The Fed kembali berpindah ke pasar.
Analis Simplify Asset Management Harley Bassman menyebut kebijakan QT membuat volatilitas pasar obligasi semakin tinggi karena investor kini harus menanggung risiko negative convexity secara langsung.
Bank Sentral Dunia Mulai Kurangi Kepemilikan Treasury AS
Di tengah tekanan pasar obligasi, sejumlah bank sentral dunia mulai mengurangi kepemilikan Treasury AS. Data terbaru menunjukkan kepemilikan obligasi AS oleh investor asing turun dari US$9,49 triliun pada Februari menjadi sekitar US$9,25 triliun pada Maret 2026.
China tercatat memangkas kepemilikan Treasury sekitar 6 persen menjadi US$652,3 miliar. Sementara Jepang sebagai pemegang obligasi AS terbesar di dunia melepas sekitar US$47 miliar sehingga total kepemilikannya turun menjadi US$1,191 triliun.
Kepala Ekonom Asia HSBC Frederic Neumann mengatakan penurunan kepemilikan Treasury asing tidak mengejutkan mengingat volatilitas pasar meningkat sejak konflik di Timur Tengah memanas.
Menurut Neumann, tekanan terhadap nilai tukar dan risiko geopolitik membuat sejumlah bank sentral memilih mengurangi eksposur terhadap aset berbasis dolar AS.
Yield Obligasi AS melonjak juga memperkuat tren dedollarization di sejumlah negara. Banyak bank sentral mulai meningkatkan cadangan emas sebagai alternatif aset aman di tengah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat.
Utang nasional AS saat ini telah melampaui US$39 triliun. Pemerintah federal AS juga terus meningkatkan pengeluaran negara, termasuk pembiayaan perang dan pembayaran bunga utang yang terus melonjak.
Data fiskal menunjukkan pembayaran bunga utang pemerintah AS selama tujuh bulan pertama tahun fiskal 2026 mencapai US$734,2 miliar atau naik sekitar 7,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara total biaya bunga utang nasional pada tahun fiskal 2025 mencapai sekitar US$1,2 triliun.
Sejumlah analis menggambarkan kondisi fiskal Amerika Serikat seperti “paman mabuk yang seluruh kartu kreditnya sudah penuh”. Analogi tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan utang pemerintah AS.
Analis pasar Brien Lundin menilai The Fed kini berada dalam situasi sulit karena harus memilih antara menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi atau menopang pasar obligasi agar tidak semakin tertekan.
Menurut Lundin, kenaikan harga minyak akibat perang Iran meningkatkan risiko inflasi global. Namun, jika suku bunga kembali dinaikkan terlalu agresif, pasar obligasi AS justru berpotensi mengalami tekanan lebih besar.
Yield Obligasi AS melonjak diperkirakan masih akan menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi pasar keuangan global sepanjang 2026. Selama inflasi AS tetap tinggi, konflik geopolitik belum mereda, dan utang pemerintah terus meningkat, volatilitas pasar obligasi diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang.
