Banyak Terobosan, KSEI Bidik Pertumbuhan Investor Hingga 30% di 2023

Patricia Yashinta Desy Abigail
23 Desember 2022, 19:00
Banyak Terobosan, KSEI Bidik Pertumbuhan Investor Hingga 30% di 2023
Dok. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Self Regulatory Organizations (SRO), yakni PT Bursa Efek Indonesia, PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia dan pelaku industri pasar modal berkomitmen untuk bersama-sama menjaga stabilitas sektor jasa keuangan khususnya pasar modal serta mendukung pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Rabu (10/08/2022) di Bursa Efek Indonesia.

PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengharapkan pertumbuhan investor 20%-30% di 2023 mendatang.

Direktur Utama KSEI Uriep Budhi Prasetyo mengatakan, pertumbuhan investor yaitu 36,70% menjadi 10,23 juta hingga 16 Desember 2022 dibandingkan dengan tahun 2021 yaitu 7,48 juta. Dari angka tersebut, investor ritel menduduki jumlah terbanyak, yaitu 10,19 juta atau 99,63% dari jumlah seluruhnya. Sementara investor institusi berjumlah 37,89 atau 0,37% dari total keseluruhan.

"Kami berharap mungkin sekitar 20% hingga 30%, karena banyak faktor seperti keadaan politik tahun depan baik dan Indonesia sudah terbukti memang tahan banting ya," katanya dalam media gathering KSEI di Jakarta, Jumat (23/12).

Uriep mengatakan, salah satu tolok ukur dari pencapaian di pasar modal Indonesia yaitu pertumbuhan jumlah investor. Dirinya menyatakan KSEI telah melakukan beberapa terobosan untuk mendukung pertumbuhan investor, seperti peningkatan kapasitas sistem.

Peningkatan kapasitas sistem ditujukan untuk mendukung pertumbuhan jumlah investor pasar modal, serta peningkatan frekuensi transaksi bursa di masa yang akan datang. Saat ini, C-BEST dapat melakukan proses penyelesaian transaksi dengan kecepatan 150 ribu per menit, dari sebelumnya 20 ribu per menit, atau meningkat 650%.

Termasuk juga peningkatan kapasitas jumlah Sub Rekening Efek yang dapat dibuka pada setiap perusahaan efek dan bank kustodian dari sebelumnya 1,6 juta menjadi 2 miliar sub rekening efek (SRE).

Sementara itu, Direktur KSEI Syafruddin, menyampaikan KSEI memiliki rencana strategi 2023. Rencana tersebut terdiri dari Know Your Customer (KYC) Administration, SRE atau sub rekening efek sebagai alternatif penyimpanan data nasabah, dan investor fund unit account sebagai alternatif penyimpanan dana nasabah.

Target berikutnya yaitu, penguatan pengawasan terpadu, digital reporting, dematerialisasi efek bersifat ekuitas, dan optimalisasi sub registry KSEI. Selanjutnya E-rupebus yaitu di easy KSEI. E-rupebus merupakan rapat umum pemegang efek besifat utang, di mana KSEI mengembangkan sistem RUPS online.

Kemudian ada carbon trading, tax admin, perluasan penggunaan S-multivest, dan KSEI menjadi local operating unit (LOU) untuk penerbitan LEI bagi institusi berdomisili di Indonesia.

Lebih lanjut Syafruddin menyampaikan, KSEI telah menyusun 41 rencana kerja untuk tahun 2023, salah satunya adalah rencana pengembangan alternatif penyimpanan dana nasabah pada SRE untuk instrumen efek bersifat ekuitas dan efek bersifat utang dan investor fund unit account untuk instrumen reksa dana.

“Jadi nanti selain RDN, investor pasar modal Indonesia juga memiliki alternatif untuk penyimpanan dan penyelesaian dana pada SRE maupun IFUA. Sehingga investor pasar modal tidak perlu menunggu lagi pembukaan RDN untuk bertransaksi di pasar modal,” kata Syafruddin.

Advertisement
Reporter: Patricia Yashinta Desy Abigail
Editor: Lona Olavia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait