Tanpa Oximeter, Pasien Covid-19 Bisa Cek Saturasi Dengan Hitung Napas

Image title
7 Agustus 2021, 17:04
Ilustrasi penggunaan oximeter
Unsplash/Towfiqu Barbhuiya
Ilustrasi penggunaan oximeter

Tingkat saturasi oksigen menjadi indikator penting dalam mengetahui tingkat keparahan pasien Covid-19.  Untuk mengukur tingkat saturasi oksigen, pasien Covid-19 bisa mendeteksinya melalui alat bernama oximeter.  Sayangnya, tidak semua pasien yang tengah menjalani isolasi mandiri memiliki alat tersebut, karena kendala biaya atau kesulitan mendapatkan barang. Lalu, apa solusinya?

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan metode hitung napas bisa dilakukan untuk mencari tahu tingkat saturasi oksigen.

"Catat suhu dan saturasi oksigen kalau punya oximeter, kalau tidak hitung napas," ujar Siti Nadia, seperti dikutip Antara, Sabtu (7/8).

Siti Nadia menjelaskan, seseorang dikatakan dalam kondisi sesak napas jika napasnya di atas 24 kali per menit. Pada kondisi normal, seseorang akan bernapas 16-20 per menit untuk memenuhi kebutuhan oksigennya.

Laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan bahwa  sekitar 31-40 persen pasien COVID-19 mengeluhkan sesak napas. Kondisi sesak napas menyebabkan pasien sulit bernapas sehingga membuat mereka terengah-engah.

Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Prikasih, dr. Gia Pratama, mengatakan pasien Covid-19 dengan keluhan saturasi oksigen rendah dadanya mungkin terasa terlalu sesak untuk menarik atau menghembuskan napas sepenuhnya.Mereka membutuhkan usaha yang lebih besar hanya untuk mengambil sebuah napas pendek. Kondisi ini membuat pasien Covid-19 yang mengeluhkan sesak napas merasa terengah-engah. Dr Gia mengibaratkan kondisi ini dengan bernapas melalui sedotan. 
"Daya tampung dan kapasitas paru-paru bagus, besar, bisa memuat berliter-liter udara masuk. Nah kalau paru-parunya (terkena COVID-19), boro-boro berliter-liter, baru sekian ratus mililiter juga sudah butuh napas lagi, makanya jumlah napasnya jadi tinggi. Napasnya pendek-pendek, apalagi kalau jumlah napasnya di atas 24 kali mulai cek ada apa di paru-parunya,"ujarnya.

Gia mengingatkan kepada pasien Covid-19 yang memiliki oximeter untuk selalu mengecek saturasi oksigennya serta memastikan angka nya tidak boleh kurang dari 94%. 

Saturasi oksigen  berkaitan erat dengan kesehatan paru-paru seseorang. Saturasi  tersebut mengacu pada konsentrasi oksigen dalam darah manusia. Idealnya, tingkat saturasi oksigen adalah 95-100%.  Untuk pasien Covid-19 yang  sedang melakukan isolasi mandiri baik yang tidak bergejala maupun bergejala harus memastikan saturasi oksigennya. Bila tingkat saturasi di bawah 94% , mereka diharapkan menghubungi fasilitas kesehatan setempat untuk mendapatkan perawatan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi  Luhut Pandjaitan, Jumat (6/), meminta masyarakat untuk tidak melakukan isolasi di rumah tetapi mendatangi isolasi terpadu. Langkah ini perlu dilakukan untuk menekan angka kematian mengingat banyak pasien Covid-19 yang  meninggal saat menjalani isolasi mandiri.  

Luhut mengingatkan varian Delta yang tengah mengganas memiliki kekuatan luar biasa dalam memperburuk kondisi pasien Covid-19.

"Varian ini sangat berbahaya karena dia menyerang pernapasan. Kalau sekali dia masuk tubuh dan saturasi oksigen yang terpapar di bawah 95%, lalu turun di bawah 90% dan tidak ditangani, kemungkinan untuk meninggal sangat tinggi," ujar Luhut, saat mengunjungi Sleman.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait