Terdampak Lesunya Sektor Riil, IHSG Diproyeksi Masih Tertekan Hari Ini

Lesunya sektor riil, kebijakan tapering off, serta arah dari data pekerjaan di Amerika Serikat akan menentukan pergerakan IHSG pada hari ini.
Image title
3 September 2021, 05:58
IHSG, bursa
KATADATA/
IHSG Diprediksi masih tertekan pada hari ini karena imbas lesunya sektor riil.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bergerak melemah pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (3/9). Prediksi tersebut juga menandai masih berlanjutnya tren pelemahan yang sudah berlangsung sejak Rabu (1/2). Pada Kamis (2/9), IHSG ditutup di zona merah setelah melemah 0,21% dan menyentuh level 6.078.

CEO Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan hari ini IHSG berpotensi berada dalam tekanan. Analisisnya secara teknikal menunjukkan hari ini indeks bergerak di level 5.969 dan 6.202.

William mengatakan, pola pergerakan IHSG hingga saat ini masih terlihat betah berada dalam fase konsolidasi wajar. Fluktuasi harga komoditas serta nilai tukar rupiah belum akan memberikan pengaruh terhadap pola gerak IHSG.

"Mengingat kondisi sektor riil yang masih melambat, sedangkan capital inflow belum terlihat akan bertumbuh secara signifikan," katanya dalam riset tertulisnya.

Advertisement

Meski begitu, William menilai momentum tekanan masih dapat terus dimanfaatkan oleh investor baik jangka pendek, menengah, maupun panjang. Pasalnya, dengan pergerakan fluktuatif yang terjadi dalam IHSG dapat dimanfaatkan untuk melakukan trading ataupun investasi jangka pendek.

Menurutnya ada beberapa saham yang patut diperhatikan oleh investor pada perdagangan hari ini. Seperti Unilever Indonesia (UNVR), Indofood Sukses Makmur (INDF), Astra International (ASII), Bank Mandiri (BMRI), dan XL Axiata (EXCL).

Analis Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Jordan juga menilai IHSG hari ini berpotensi melemah dengan area support di level 6.051 dan 6.024. Sementara, area resistance ada di level 6.136 dan 6.107.

Investor dinilai masih akan mencermati perkembangan terkait kebijakan tapering off di Amerika Serikat serta kasus covid-19. "Investor akan mengantisipasi rilis data ketenagakerjaan dan data pekerjaan yang akan dirilis jelang akhir pekan," kata Dennies dalam riset tertulisnya.

Ia merekomendasikan Adaro Energy (ADRO) dan Kalbe Farma (KLBF) untuk beli namun bersifat spekulatif. Pasalnya indikator teknikal menunjukkan sinyal beli dengan sentimen negatif. Bisa juga indikator teknikal negatif dengan sentimen positif.

Rekomendasi lainnya pada saham Matahari Putra Prima (MPPA) dan Steel Pipe Industry of Indonesia (ISSP) untuk tahan jika sudah beli sebelumnya. Indikator teknikal netral dan sentimen netral.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan mobilitas masyarakat pada Agustus 2021 mulai pulih seiring pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pemulihan terlihat dari mobilitas di sejumlah wilayah menunjukkan kenaikan sementara mobilitas di rumah mulai turun.

BPS memantau mobilitas masyarakat melalui Google Mobility sejak tanggal 1-26 Agustus. Hasil pemantauan tersebut menunjukkan, mobilitas di tempat perdagangan ritel dan rekreasi masih turun 13,2% dari tahun lalu, tetapi lebih kecil dari penurunan pada Juli yang mencapai 20%

Namun, perbaikan mobilitas belum  berimbas signifikan terhadap sektor rill. Inflasi rendah yang dicatat pada bulan Agustus menjadi salah satu sinyal jika pergerakan sektor riil belum sesuai harapan. Inflasi pada Agustus tercatat 0,03%, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 0,08%. 

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait