Kementerian BUMN Soroti Investasi Jiwasraya di Saham Gorengan

Jiwasraya membutuhkan Rp 32,89 triliun untuk memenuhi rasio kecukupan modal berbasis risiko (RBC) minimal 120%.
Image title
Oleh Fariha Sulmaihati
21 November 2019, 18:17
Jiwasraya, Keuangan Jiwasraya, Investasi Jiwasraya
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Seorang anak laki laki melintas di depan kantor Asuransi Jiwasraya, Jakarta (14/11/2019).

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyoroti investasi berisiko tinggi yang dilakukan manajemen Jiwasraya hingga merugikan perusahaan dan nasabah. Kementerian pun mencurigai adanya kongkalikong dalam perusahaan.

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan Jiwasraya berinvestasi pada saham ‘gorengan’. "Kalau pemain saham biasanya tahu saham ‘gorengan’. Saham ‘gorengan’ itu fundamentalnya digoreng di saat tertentu," kata dia di Jakarta, Kamis (21/11).

(Baca: Dirut Jiwasraya Beberkan Penyelesaian Masalah Finansial Tanpa APBN)

Maka itu, pihaknya meminta Kejaksaan Agung untuk meneliti masalah ini. Sebelumnya, Jaksa Agung S.T. Burhanuddin mengatakan penyelidikan akan dilakukan setelah pihaknya mendapatkan perhitungan kerugian negara.

"Untuk Jiwasraya, kami sedang menunggu hasil perhitungan kerugian negara," kata dia, pekan lalu. Adapun perhitungan kerugian negara selama ini dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP).

Berdasarkan materi presentasi Rapat Dengar Pendapat Jiwasraya dengan DPR, Jiwasraya tercatat mengalami modal atau ekuitas minus Rp 24 triliun per September 2019. BUMN Asuransi ini membutuhkan Rp 32,89 triliun untuk memenuhi rasio kecukupan modal berbasis risiko (RBC) sesuai ketetapan otoritas yakni minimal 120%.

(Baca: Bakal Dijual, Valuasi Anak Usaha Jiwasraya Disebut Rp 9 Triliun)

Ekuitas negatif terjadi karena beberapa penyebab, di antaranya perusahaan banyak melakukan investasi pada aset berisiko untuk mengejar imbal hasil tinggi. Pada tahun lalu, sebesar 22,4% atau Rp 5,7 triliun dari total aset finansial perusahaan ditempatkan pada saham, tetapi hanya 5% yang ditempatkan pada saham LQ45.

Lalu, 59,1% atau Rp 14,9 triliun ditempatkan pada reksa dana, tetapi hanya 2% yang dikelola oleh top tier manajer investasi. Selain itu, ada temuan rekayasa harga saham. Modusnya, Jiwasraya membeli saham dengan harga mahal kemudian dijual pada harga negosiasi (di atas harga perolehan) kepada manajer investasi, untuk kemudian dibeli Jiwasraya.

Video Pilihan

Artikel Terkait