Dana Asing Deras, Net Kewajiban Investasi Indonesia Naik US$ 15,6 M

Aliran masuk modal asing didukung oleh positifnya keyakinan investor terhadap perekonomian Indonesia seiring kenaikan rating Indonesia.
Desy Setyowati
28 September 2017, 20:53
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi investasi internasional (PII) Indonesia net kewajiban sebesar US$ 350,2 miliar pada kuartal II lalu. Nominal tersebut setara 35% terhadap produk domestik bruto (PDB). Net kewajiban mengalami kenaikan sebesar US$ 15,6 miliar dari posisi kuartal I.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman menjelaskan, peningkatan net kewajiban terjadi seiring derasnya arus masuk modal asing (capital inflow) ke Tanah Air. “Perkembangan tersebut sejalan dengan surplus transaksi modal dan finansial pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II 2017,” kata dia dalam keterangan tertulis yang dilansir Kamis (28/9).

Secara rinci, net kewajiban yang sebesar US$ 350,2 miliar terjadi lantaran kewajiban finansial luar negeri mencapai US$ 667,6 miliar, lebih tinggi dibanding aset finansial luar negeri yang hanya US$ 317,4 miliar.

Agusman memaparkan kewajiban finansial luar negeri meningkat 3,7% atau US$ 24,1 miliar dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan tersebut disebabkan besarnya aliran masuk modal asing (capital inflow) dalam bentuk investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) maupun investasi portofolio. (Baca juga: Modal Tiongkok Guyur Startup Lokal)

Menurut dia, kondisi itu didukung oleh terjaganya pertumbuhan ekonomi domestik dan positifnya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia seiring kenaikan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat Standard and Poor’s. (Baca juga: Bank Pembangunan Asia Sebut Prospek Ekonomi Indonesia Menguat)

Selain itu, peningkatan kewajiban finansial luar negeri juga dipengaruhi oleh kenaikan nilai instrumen investasi berdenominasi rupiah sejalan dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Di sisi lain, aset finansial luar negeri tercatat naik 2,7% atau US$ 8,4 miliar dibandingkan kuartal sebelumnya. Menurut Agusman, kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya posisi aset investasi lainnya, sebagian besar berupa penempatan simpanan di luar negeri terkait antisipasi perbankan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valas dalam menghadapi libur panjang Lebaran.

Selain itu, kenaikan juga didukung oleh peningkatan posisi cadangan devisa serta aset investasi langsung dan investasi portofolio di luar negeri.

Sejauh ini, BI memandang perkembangan posisi investasi internasional Indonesia pada kuartal II masih cukup sehat. “Tapi kami akan terus mewaspadai risiko net kewajiban ini terhadap perekonomian. Ke depan, BI yakin kinerja posisi investasi internasional Indonesia semakin sehat sejalan dengan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh BI,” ujar Agusman.

Video Pilihan

Artikel Terkait