Target Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Meleset Meski Bunga Acuan Rendah

Para ekonom memperkirakan ekonomi hanya tumbuh maksimal 5,1% tahun ini, lebih rendah dari target pemerintah yaitu 5,2%.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
25 September 2017, 17:11
Pertumbuhan Ekonomi
Arief Kamaludin|KATADATA
Pembangunan gedung perkantoran di Jakarta.

Kebijakan Bank Indonesia (BI) memangkas bunga acuan BI 7 Days Repo Rate sebanyak 0,5% tahun ini tidak serta merta bakal mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi. Para ekonom memperkirakan ekonomi hanya tumbuh maksimal 5,1% tahun ini, lebih rendah dari target pemerintah yaitu 5,2%.

Ekonom Bank Mandiri Andri Asmoro mengatakan, agar ekonomi tumbuh tinggi dibutuhkan dorongan fiskal berupa pengeluaran pemerintah untuk pembangunan infrastruktur. Sebab, sektor swasta bukan hanya mempertimbangkan kebijakan moneter saat berbisnis, tapi juga faktor lainnya, termasuk kesiapan infrastruktur.

“Sekarang pemerintah memang mendorong (pembangunan) infrastruktur. Tapi, itu kalau dilihat efek ke ekonomi enggak langsung. Kalau spending (pengeluaran) pemerintah 2016-2017, maka baru berdampak 1-2 tahun lagi,” kata dia kepada Katadata, Senin (25/9).

Atas dasar itu, ia memandang ekonomi belum akan tumbuh signifikan tahun ini. Pendapat senada disampaikan Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness Eric Sugandi. “Selain suku bunga, ada faktor lain yang diperhatikan yaitu ketersediaan infrastruktur, kepastian hukum dan stabilitas rupiah,” ujar dia. (Baca juga: Penyaluran Kredit Masih Lemah, BI Potong Bunga Acuan Jadi 4,25%)

Berdasarkan perhitungannya, transmisi kebijakan moneter terhadap minat investasi swasta membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan. Minat itu pun masih tergantung pada kesiapan infrasruktur. Atas dasar perhitungan ini, ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi hanya 5,1% tahun ini dan 5,3% di 2018.

Sebelumnya, Ekonom Development Bank of Singapore (DBS) Gundy Cahyadi juga meragukan efektivitas pelonggaran moneter terhadap pertumbuhan ekonomi tahun ini. Menurut dia, swasta belum akan meningkatkan investasinya secara signifikan sebelum melihat hasil dari pembangunan infrastruktur pemerintah, yang juga membutuhkan waktu.

"Di sisi penawaran, bank tampak ragu untuk memperpanjang pinjaman baru di tengah kredit bermasalah di sektor komoditas," kata dia. Karena itu, ia memandang kredit belum akan tumbuh tinggi karena baik swasta maupun perbankan masih menunggu dan melihat (wait and see). (Baca juga: Bunga Acuan Makin Rendah, Pertumbuhan Kredit Diprediksi Capai Target)

Video Pilihan

Artikel Terkait