BI Ramal Harga Minyak Naik di 2018, Subsidi Energi Akan Bengkak

Beberapa asumsi yang dipakai pemerintah untuk menetapkan anggaran subsidi energi tahun depan tercatat sama dengan tahun ini.
Desy Setyowati
21 Agustus 2017, 20:22
minyak
Katadata

Pemerintah mengajukan anggaran subsidi energi sebesar Rp 103,4 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Anggaran tersebut dengan asumsi harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) berada di level US$ 48 per barel. Namun, Bank Indonesia (BI) justru memprediksi ICP bisa mencapai US$ 52 per barel tahun depan. Ini artinya, ada risiko subsidi energi membengkak.

Secara rinci, anggaran subsidi energi tahun depan terdiri dari subsidi BBM dan elpiji tiga kilogram Rp 51,1 triliun, serta listrik Rp 52,2 triliun. Anggaran tersebut naik 15% dari anggaran dalam APBN Perubahan 2017 yang sebesar Rp 89,9 triliun. Adapun, beberapa asumsi yang dipakai pemerintah untuk menetapkan anggaran subsidi energi tercatat sama dengan tahun ini. ICP US$ 48 per barel, volume konsumsi BBM tetap sebesar 16,1 juta kiloliter dan elpiji 3 kilogram sebanyak 6,2 miliar kilogram. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan anggaran subsidi energi tersebut secara eksplisit mengasumsikan tidak ada kenaikan harga BBM, elpiji, dan listrik. “Jumlah pelanggan 900 Volt Ampere (VA) barangkali yang akan dibatasi, karena itu alokasi (subsidi energi) Rp 52,2 triliun,” kata dia saat Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Senin (21/8). (Baca juga: RAPBN 2018, Jokowi Perbesar Dana Bantuan Sosial dan Subsidi)

Di sisi lain, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan bahwa subsidi energi tersebut juga telah mempertimbangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang diprediksi melemah dari Rp 13.400 per dolar AS tahun ini menjadi Rp 13.500 per dolar AS.

Meski begitu, ia tak menutup kemungkinan besaran subsidi energi tahun depan tak seperti yang diajukan saat ini. Namun, besarannya belum tentu naik, bisa jadi malah turun. Alasannya, “Indikator detilnya bisa berubah. Seperti listrik itu kan bisa susut jaringannya kalau dia bisa menghemat. Kemudian jaringan dan mix energi itu juga bisa menghemat,” kata Askolani. (Baca juga: BPH Migas Usul Dana Iuran Rp 1 Triliun Dipakai Dukung BBM Satu Harga)

Sebelumnya, Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo memprediksi ICP bisa mencapai US$ 52 per barel. Pendorongnya, harga minyak dunia yang meningkat seiring dengan permintaan dunia yang diprediksi mengalami kenaikan. Adapun tahun ini, kenaikan ICP dari US$ 45 per barel menjadi US$ 48 per barel turut membuat subsidi energi membengkak 16,3% dari rencana awal US$ 77,3 triliun menjadi US$ 89,9 triliun.

Video Pilihan

Artikel Terkait