Mayoritas Indeks Sektoral Rebound, IHSG Semester I Melompat 10%

Penguatan indeks juga disokong derasnya arus masuk dana asing setelah Indonesia mendapat peringkat layak investasi dari S&P dan menduduki peringkat 4 negara tujuan investasi paling prospektif.
Martha Ruth Thertina
3 Juli 2017, 13:06
IHSG Naik
Arief Kamaludin|KATADATA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkali-kali mencetak rekor tertinggi tahun ini. Alhasil, sepanjang semester 1 2017, indeks tercatat melompat 10,06 persen. Penguatan didukung oleh kembali menanjaknya (rebound) mayoritas indeks sektoral seiring kinerja emiten yang positif dan derasnya aliran masuk dana asing.

Tim analis dari OSO Securities memaparkan, sektor keuangan berhasil memimpin penguatan indeks sektoral dengan kenaikan sebesar 16,98 persen, dan diikuti oleh industri dasar yang naik 14,95 persen. “Rebound-nya sektor perbankan tidak terlepas dari perbaikan penyaluran kredit,” kata tim OSO dalam kajian tertulisnya, Senin (3/7). (Baca juga: BEI: Keuntungan IHSG Tertinggi di Dunia Sepanjang 2006-2016)

Pertumbuhan kredit perbankan hingga Mei 2017 tercatat sebesar 10,39 persen. Pencapaian tersebut sesuai target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sebesar 9-12 persen. Adapun, pertumbuhan kredit bank pelat merah mencapai 14 persen, melampaui target OJK dan merupakan pertumbuhan yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Di tengah penguatan yang terjadi pada mayoritas indeks sektoral, beberapa sektor mengalami koreksi di antaranya sektor properti dan perkebunan yang masing-masing turun 4,65 persen dan 3,36 persen. “Koreksi yang terjadi pada sektor properti inline (sejalan) dengan belum pulihnya daya beli masyarakat kelas menengah sehingga tidak tercapainya target marketing sales (penjualan) pada kuartal pertama ini,” kata tim OSO. 

Di sisi lain, koreksi indeks di sektor perkebunan dianggap lebih diakibatkan oleh penurunan harga komoditas minyak sawit (crude palm oil/CPO). Sepanjang semeter I lalu, harga CPO turun 19,33 persen.

Tim OSO menambahkan, secara keseluruhan, penguatan yang terjadi pada indeks juga didorong peringkat layak investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s. Peringkat tersebut menunjukkan risiko gagal bayar utang pemerintah relatif rendah. Alhasil, investor semakin percaya diri dalam berinvestasi di dalam negeri. (Baca juga: Arus Investasi ke Indonesia Meningkat 20 Persen)

Selain itu, pergerakan indeks juga disokong laporan United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) yang menempatkan Indonesia di peringkat 4 sebagai negara tujuan investasi paling prospektif periode 2017-2019. Posisi Indonesia berada di bawah Amerika Serikat, Tiongkok dan India. Pemeringkatan itu berdasarkan survei terhadap eksekutif perusahaan multinasional.

“Tahun ini, posisi Indonesia naik empat peringkat dari posisi sebelumnya di peringkat delapan. Dengan posisi tersebut, Indonesia mengalahkan sejumlah negara di Asia Tenggara seperti Singapura dan Thailand sebagai negara tujuan investasi paling prospektif,” demikian tertulis.

Besarnya minat investor asing untuk berinvestasi di bursa saham Indonesia tampak pada data RTI. Sepanjang tahun ini, investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp 17,42 triliun di keseluruhan pasar dan Rp 23,94 triliun di pasar reguler.

Video Pilihan

Artikel Terkait