Berkat Investasi Swasta, Ekonomi Kuartal I Bisa Tumbuh 5,1 Persen

Pertumbuhan ekonomi disokong investasi swasta. Sedangkan belanja pemerintah diperkirakan baru akan berkontribusi besar pada paruh kedua tahun ini.
Desy Setyowati
6 Maret 2017, 18:43
Pertumbuhan gedung
Arief Kamaludin|KATADATA

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun ini diperkirakan bisa mencapai 5,1 persen. Perkiraan tersebut di atas pencapaian periode sama tahun lalu yang sebesar 4,92 persen. Penyokong utama pertumbuhan yaitu investasi swasta di sejumlah sektor, seperti pertanian, industri makanan dan minuman, otomotif, dan keuangan.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan memperkirakan, investasi di keempat sektor tersebut meningkat seiring dengan membaiknya angka penjualan atas produk-produk terkait sejak November 2016. Penjualan meningkat seiring dengan membaiknya daya beli masyarakat lantaran pendapatan yang terdongkrak kenaikan harga sejumlah komoditas.

“Industri makanan, otomotif, farmasi, overall (keseluruhan) perbankan, sektor keuangan masih tumbuh baik, maka kuartal I mungkin bisa 5,1 persen,“ ujar Anton saat media briefing di Jakarta, Senin (6/3).  Prediksi tersebut sejalan dengan target pemerintah yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1 persen sepanjang tahun ini, membaik dibanding tahun lalu yang sebesar 5,02 persen.

Secara rinci, ia menjabarkan, sektor pertanian menunjukkan perbaikan lantaran telah memasuki musim panen dan sudah tidak adanya efek el-nino. Perbaikan juga tampak pada sektor manufaktur terutama industri makanan dan minuman (Food and Beverage/F&B), serta sektor konstruksi yang  masih bisa tumbuh 6,7 persen melebihi pertumbuhan ekonomi nasional tahun lalu 5,02 persen.

Sektor keuangan juga diperkirakan akan membaik tahun ini. Meskipun masih ada risiko dari kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL), tekanan NPL diproyeksi berkurang. Dengan begitu, pencadangan yang dialokasikan oleh perbankan menurun sehingga laba bisa ditingkatkan. (Baca juga: Tertekan Kredit Bermasalah, Laba Bank-Bank Besar Anjlok)

Sektor lainnya yang juga membaik yaitu otomotif yang tampak dari kenaikan angka penjualan. “Saya ngobrol dengan teman di otomotif, mereka kelihatannya berani ambil forecast (ramalan) entah mobil atau keseluruhan sales-nya (penjualan) bisa tumbuh 10 persen. Bagus itu. Saya pikir tidak sampai 10 persen. Mungkin diimbangi dengan produksi model-model baru,“ kata Anton.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Bidang Riset Industri dan Wilayah Dendi Ramdani menambahkan, tanda-tanda perbaikan industri dalam negeri juga sudah terlihat dari aktivitas bongkar muat di pelabuhan yang membaik sejak November 2016. Penjualan alat berat juga mulai meningkat. Artinya, dari sektor pertambangan juga sudah ada tanda-tanda perbaikan.     

“Otomotif sudah positif kecuali commercial cars, artinya kegiatan bisnis belum kelihatan ter-cover,” tutur Dendi. “Properti November sudah positif 35 persen, kami ukur dari developer terbesar.“

Lebih lanjut, Anton mengatakan, konsumsi masyarakat diperkirakan masih stabil. Namun, perlu diwaspadai ekspektasi konsumen hingga enam bulan ke depan yang menurun. Penurunan ekspektasi terutama terjadi pada konsumen di segmen pendapatan atas. Sedangkan untuk konsumen berpendapatan bawah justru meningkat. 

Sementara itu, belanja pemerintah diperkirakan baru akan  berkontribusi besar terhadap perekonomian pada paruh kedua tahun ini. Sebab, penerimaan negara masih seret di awal tahun. (Baca juga: Belanja Pemerintah Seret, BI: Ekonomi Kuartal I di Bawah 5,05 Persen)

Membaiknya ekspor seiring dengan kenaikan harga beberapa komoditas juga diyakini bakal mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, Anton mengingatkan adanya risiko kenaikan impor imbas tumbuhnya ekonomi. Hal itu bisa berujung pada peningkatan neraca perdagangan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait