Belum tuntas skandal Asuransi Jiwasraya, masalah yang sama kini menerpa Asabri. Perusahaan asuransi angkatan bersenjata ini mengalami kegagalan investasi saham. Mereka memiliki portofolio investasi di beberapa saham yang pernah dipegang Jiwasraya dan kini disorot Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Dari hasil penelusuran data, mayoritas saham dalam portofolio investasi Asabri mengalami penurunan drastis harga saham hingga nyaris tak bernilai lagi.

Berdasarkan data Stockbit, Asabri memegang saham 17 emiten. Mayoritas harga saham tersebut longsor berkisar 50% sampai lebih dari 90%. Salah satu saham dalam portofolio Asabri yang harganya turun signifikan dan masih melanjutkan penurunan yaitu saham perusahaan bidang perikanan PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR).

Beberapa hari lalu, perdagangan saham PCAR dihentikan sementara oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami akumulasi penurunan yang signifikan. Asabri berinvestasi pada saham PCAR mulai 28 November 2018. Pada awalnya, perusahaan tercatat memegang 67 juta lembar saham atau setara 5,79% porsi kepemilikan.

(Baca: Mahfud MD Cium Dugaan Korupsi Rp 10 Triliun di Asabri )

Jumlah saham PCAR yang dikempit Asabri terus bertambah hingga nyaris mencapai 323 juta lembar saham atau 27,68% porsi kepemilikan pada 11 Desember 2018. Setelah itu, perusahaan tercatat melepas sedikit demi sedikit sahamnya hingga terakhir memegang 293 juta lembar saham atau 25,14% porsi kepemilikan.

Dalam kurun waktu dua tahun ini, harga saham PCAR tercatat longsor lebih dari 70%. Jika pada awal kepemilikan, harga saham PCAR berada di harga Rp 1.440 per lembar. Per 8 Januari 2020, harga saham tercatat hanya Rp 440 per lembar.

Asabri juga tercatat memiliki saham dalam jumlah besar di perusahaan batu bara Alfa Energi Investama (FIRE). Asabri mulai berinvestasi di FIRE pada 27 Juli 2018, dengan membeli nyaris 106 juta saham atau 8,11% dari total saham. Capaian kepemilikan sempat mencapai angka tertinggi yaitu 447 juta lembar saham atau 31,84% pada akhir Desember 2018.

IHSG DITUTUP MENGUAT
(ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

Jumlah saham yang dikempit kemudian berangsur turun hingga tercatat sebanyak 348 juta lembar atau 23,6% porsi kepemilikan. Saat Asabri pertama kali masuk FIRE, harga saham perusahaan itu tercatat Rp 5.650 per lembar, namun per 8 Januari 2020, harganya tercatat hanya Rp 284 per lembar. Ini artinya, harga saham FIRE anjlok 94,97% dalam kurun waktu 2,5 tahun.

Asabri juga tercatat pernah berinvestasi di saham yang sama yang pernah dipegang Jiwasraya dan menuai sorotan BPK. Sebut saja saham Trada Alam Minera (TRAM). Saat ini, saham TRAM nyangkut di batas bawah harga saham yaitu Rp 50 per lembar. Harga ini turun 65,75% dari posisi saat Asabri masuk sekitar dua tahun lalu yaitu Rp 146 per lembar.

Perusahaan juga memegang saham Hanson International (MYRX), dengan porsi kepemilikan yang sudah lebih besar dari pendiri sekaligus Direktur Utama MYRX: Benny Tjokrosaputra. Dalam kurun waktu sekitar dua tahun, saham ini telah jatuh lebih dari 50% ke batas bawah harga yaitu Rp 50 per lembar saham.

Benny yang tengah terseret dalam kasus pengelolaan dana investasi Jiwasraya membantah ada kongkalikong dalam kejatuhan saham MYRX. “Enggak ada tuh, saham MYRX jatuh karena viral,” ujarnya. Hanson memang jadi pemberitaan tahun lalu, seiring perusahaan yang disemprit OJK karena melakukan pengumpulan dana tanpa izin.

Berikut beberapa portofolio investasi saham Asabri:

No

Emiten

Jumlah Kepemilikan Saham Awal (%)

Jumlah Kepemilikan Saham Terakhir (%)

Harga di Awal kepemilikan (Rp / saham)

Harga Saham Per 8 Januari 2020 (Rp)

Perubahan Harga Saham 

1

Pool Advista Finance (POLA)

198 Juta (5,92%) pada 27 Desember 2018

256 Juta (7,65%)

1.850

262 (Suspended)

-85,83%

2

Prima Cakrawala Abadi (PCAR)

67 Juta (5,79%) pada 28 November 2018

293 Juta (25,14%)

1.470

440

-70,07%

3

Alfa Energi Investama (FIRE)

106 juta (8,11%) pada 27 Juli 2018

229 juta (15,57%)

5.650

284

-94,97%

4

Kimia Farma (KAEF)

286 juta (5,15%) pada 12 Oktober 2017*

293 juta (5,29%)

2.700*

1.120

-58,52%

5

Hartadinata Abadi (HRTA)

392 juta (8,52%) pada 30 Oktober 2017*

242 juta (5,26%)

292*

 

 

 

212

-27,4%

6

Trada Alam Minera (TRAM)

833 Juta (5,04%) pada 18 Desember 2017

Tidak ada dalam daftar pemegang saham lebih dari 5%

146

50

-65,75%

7

Eureka Prima Jakarta (LCGP)

1,1 miliar (19,66%) pada 28 Desember 2017*

Data BPK, kepemilikan saham pernah lebih besar sebelum ini

Tidak ada dalam daftar pemegang saham lebih dari 5%

79* (Harga saham tercatat menanjak pada era 2012 hingga sempat mencapai kisaran 500-600 pada 2016, lalu merosot)

114 (Suspended)

44,3%

8

Hanson International (MYRX)

5,6 miliar (7,16%) pada 18 Desember 2017*

4,7 miliar (5,4%)

114*

50

-56,14%

9

PP Property (PPRO)

3,2 miliar (5,22%) pada 7 Desember 2017

3,3 miliar (5,33%)

187

66

-64,7%

10

SMR Utama (SMRU)

689 juta (5,52%) pada 14 Maret 2018

826 juta (6,61%)

442

50 (Suspended)

-88,69%

11

Sidomulyo (SDMU)

205 juta (18,06%) pada 3 Januari 2020*

205 juta (18,06%)

50*

50

-

12

Pool Advista Indonesia (POOL)

176 juta (7,85%) pada 12 Desember 2017

173 Juta (7,43%)

3.780

156 (Suspended)

-95,87%

13

Pelat Timah Nusantara (NIKL)

457 juta (18,12%) pada 3 November 2017*

260 Juta (10,31%)

2.970

690

-76,43%

14

Indofarma (INAF)

467 juta (15,1%) pada 5 Desember 2017*

431 juta (13,91%)

2.750

800

-70,90%

15

Inti Agri Resources (IIKP)

2,3 miliar (6,94%) pada 14 Desember 2017

3,9 miliar (11,58%) per 4 Januari 2019. Data di BEI: saat ini tersisa 1,8 miliar (5,44%)

320

50

-84,38%

16

Island Concepts Indonesia (ICON)

54 juta (5,02%) pada 3 Januari 2020*

54 juta (5,02%)

64*

71

10,94%

17

Bank Yudha Bhakti (BBYB)

1,7 miliar (35,94%) pada 14 Desember 2017*

1,2 miliar (20,13%)

310*

276

-10,97%

Sumber: Stockbit dan BEI (Diolah)

Catatan: *Tanggal awal kepemilikan dalam data historis di Stockbit. Saham sudah dimiliki Asabri lebih lama dari tanggal tersebut, namun tidak terjabarkan.

Laba Asabri Merosot di 2018

Sejauh ini, belum terang dampak jatuhnya harga saham-saham tersebut terhadap keuangan Asabri. Perusahaan belum mempublikasikan laporan keuangan terkini. Namun, berdasarkan ikhtisar laporan keuangan perusahaan negara yang dilansir Kementerian BUMN, Asabri tercatat mengalami penurunan signifikan laba bersih pada 2018.

Perusahaan membukukan laba tahun berjalan Rp 110,47 miliar (belum diaudit). Jumlah ini turun 86,87% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 943,811 miliar (sudah diaudit). Namun, penyebab penurunan belum terang lantaran ringkasnya data. Di sisi lain, likuiditas perusahaan tercatat masih dalam kondisi baik. Aset lancar tercatat tebal yaitu Rp 36,29 triliun, sedangkan liabilitas jangka pendek Rp 4,17 triliun.

Secara keseluruhan, aset perusahaan berada di posisi Rp 48,29 triliun, dengan total liabilitas Rp 46,7 triliun, dan ekuitas Rp 1,59 triliun. Namun, rasio kecukupan modal (RBC) pada 2018 belum diketahui. Di tahun sebelumnya, RBC Asabri berada di zona merah lantaran jauh di bawah batas minimal yang ditetapkan otoritas yakni 120%. RBC Asabri hanya sebesar 54,73% pada 2016 dan 62,35% pada 2017.

Katadata.co.id mencoba menghubungi pengurus Asabri untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi keuangan terkini perusahaan. Komisaris Asabri yang juga Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan meminta menghubungi Sekretaris Perusahaan Asabri Meirizal.

Sedangkan Meirizal menyatakan belum bisa memberikan pernyataan segera karena baru bergabung dengan perusahaan. Namun, ia berjanji akan menindaklanjuti permintaan informasi dari katadata.co.id. “Saya cari tahu dulu informasinya, siapa yang berwenang menjelaskan,” kata dia, Jumat (10/1).

Di sisi lain, Direktur Pengawas Asuransi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah belum menjawab telepon dan pesan Whatsapp yang dikirim katadata.co.id. Meski begitu, November tahun lalu, ia pernah memberikan pernyataan singkat saat ditanya wartawan tentang kabar bahwa Asabri mengalami masalah keuangan.

Ia menyatakan tetap mengawasi kesehatan keuangan dan tata kelola Asabri. “Kami juga memberikan rekomendasi untuk perbaikan,” ujarnya, ketika itu.

ASABRI
(ANTARA FOTO/Audy Alwi)

Sedangkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan belum siap bicara soal Asabri. “Saya belum bisa bicara Asabri karena belum tahu,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (10/1). Namun, beberapa waktu lalu, ia sempat menyinggung Asabri saat membahas soal rencana pembentukan perusahaan induk (holding) dana pensiun BUMN.

(Baca: Cegah Kasus Jiwasraya, Erick Thohir Akan Bentuk Holding Dana Pensiun)

Ia menjelaskan, pihaknya berencana membuat holding dana pensiun. Pembentukan holding untuk mempermudah pengawasan sehingga tak terjadi gagal bayar uang pensiun, seperti halnya Jiwasraya yang mengalami gagal bayar polis asuransi jatuh tempo. Ia pun mengisyaratkan kemungkinan pemberlakukan solusi yang sama untuk “menjagai” Asabri dan nasabahnya.

"Apa juga tadi TNI-Polri. Kalau sampai Asabri, dijarah atau dirampok ya kan TNI-Polri kasihan yang sudah kerja puluhan tahun tidak ada kepastian. Makanya kami konsolidasikan dicari figur yang bagus," ujarnya, saat itu.

Selanjutnya: Audit BPK: Jejak Benny Tjokro dan Rugi Besar Investasi Saham

Reporter: Ihya Ulum Aldin