Citibank Targetkan Pertumbuhan Kredit 8% Tahun Ini

Setelah hanya mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 2% pada 2017, Citibank berharap permintaan dari sektor riil meningkat tahun ini.
Desy Setyowati
26 Maret 2018, 17:49
Logo Citibank
Arief Kamaludin | Katadata

 

Citibank menargetkan kenaikan kredit sebesar 8% tahun ini. Angka tersebut terbilang tinggi dibandingkan capaian kenaikan kredit tahun lalu yang hanya tumbuh 2%.

"Tahun lalu itu masa transisi," ujar Chief Executive Officer Citibank Indonesia Batara Sianturi saat Media Gathering di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (26/3). Ia menambahkan, "Demand riil sector ini kami harap di 2018 akan lebih baik. Meski begitu, kami konservatif, belum (menargetkan) double digit growth-nya."

Harapan permintaan yang membaik ini juga seiring dengan perbaikan kualitas kredit. Pada 2016, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat 2,83% bruto dan 0,93% netto. Angka kredit macet lalu menurun menjadi 1,88% dan 0,54% tahun lalu. Pada tahun ini, ia menargetkan NPL menjadi 1,48% dan 0,57%.

Advertisement

Batara menyampaikan, meskipun rupiah saat ini melemah, tidak akan berpengaruh terhadap kredit perusahaan. Sebab, pembiayaannya disesuaikan, jadi pinjaman dalam dolar Amerika Serikat (AS) maka skema pembayaran dan bunganya pun diukur dalam dolar. "Hanya saja, kalau rupiah melemah memang biasanya sentimennya enggak terlalu bagus," kata dia.

(Baca juga: Citibank Genjot Transaksi Kartu Kredit Lewat E-Commerce)

Adapun untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) justru target pertumbuhannya menurun menjadi 8%, dari tahun lalu 9,6%. Target pertumbuhan ini dianggap stabil dan sejalan dengan proyeksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sebesar 10-12%. Yang mana, 73,51% dari jumlah DPK yang ada berupa dana murah (Current Accounts and Savings Accounts/CASA) seperti giro dan tabungan.

Dari sisi rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) pun tercatat kuat sebesar 27,48% per akhir tahun lalu. Sementara Aset Tertimbang menurut Risiko pun meningkat 13,8% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih juga tercatat meningkat 10% menjadi Rp 2,51 triliun tahun lalu.

Peningkatan laba bersih itu ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 5,1% menjadi Rp 2,1 triliun. Pendapatan itu seimbang antara institutional banking dengan consumer banking, yang masing-masing sebesar 54% dan 46%. Marjin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) pun meningkat dari 6,24% menjadi 6,36%. "Tahun ini kami proyeksi jadi 5,64%," ujar dia.

Alhasil, rasio antara laba bersih setelah pajak dengan rata-rata aset (Return on Asset/ROA) meningkat dari 4,14% menjadi 4,34%. Rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih (Return on Equity/ROE) pun meningkat dari 14,88% menjadi 15,51%.

 

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait