Pandemi Covid-19 turut mengubah lanskap bisnis. Seruan untuk menjaga jarak dan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB membuat banyak industri terpukul, terutama industri manufaktur dan padat karya. Namun, di tengah wabah ini, masih ada potensi usaha maupun peluang bisnis baru yang bisa diraih. Salah satunya bisnis startup kesehatan atau telemedicine.

Keterbatasan fasilitas dan tenaga medis di masa pandemi ini membuat layanan pengobatan virtual tumbuh pesat. Peluang bisnis ini berkembang menjadi besar dengan status unicorn juga makin besar ketika masyarakat menjalani masa "new normal".

Firma konsultasi dan riset bisnis Inventure Indonesia menyebut pandemi akan menjadi akselerator revolusi di dunia kesehatan melalui telemedicine. Seperti halnya bekerja jarak jauh atau belajar secara online, konsumen dipaksa mengadopsi gaya baru berobat yaitu secara virtual. 

Dalam riset berjudul 30 Consumer Behavior Shifts, Inventure Indonesia menyebut perubahan perilaku konsumen ini berpeluang melahirkan unicorn baru. Persaingan menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar pun akan semakin ketat.

“Saat konsumen merasa puas dengan pengalaman berobatnya yang lebih terjangkau dan hemat waktu, layanan telemedicine akan menjangkau pasar yang lebih luas,” kata Yuswohady, Managing Partner Inventure Indonesia, akhir April 2020 lalu. “Dalam kondisi tersebut, bukan tak mungkin pemimpin pasarnya akan menjadi unicorn.” Meski ada faktor penggalangan dana yang harus diperhitungkan.

(Baca: Menristek: Sektor Digital Bisa Minimalkan Efek Negatif Pandemi Corona)

Indonesia saat ini memiliki lima unicorn. Yang pertama adalah Gojek, kemudian Traveloka, selanjutnya platform e-commerce Tokopedia dan Bukalapak, serta yang terakhir adalah penyedia layanan pembayaran OVO.

Sedangkan, tiga platform telemedicine yang tengah berkibar, yakni Halodoc, Alodokter dan Good Doctor Technology Indonesia. “Anjuran agar pasien tidak berkunjung ke rumah sakit dan praktik dokter kecuali dalam keadaan darurat untuk menghindari penularan virus corona  membuat layanan telemedicine menjadi penting,” demikian dikutip dari riset Inventure.

Mutia, 24 tahun, mengakuinya. Karyawan swasta yang berkantor di Kawasan Senayan, Jakarta ini pertama kali mencoba berobat secara virtual pada akhir Maret lalu. Saat itu, ia mengalami nyeri ulu hati, namun pemberitaan mengenai virus corona membuatnya enggan ke rumah sakit.

Ia pun berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam melalui aplikasi Halodoc. Untuk 30 menit chat, ia hanya perlu membayar sebesar Rp 25 ribu. Hasilnya, dokter mendiagnosa Mutia mengalami gangguan lambung dan memberikan resep.

gojek grab

 

Melalui aplikasi yang sama, resep itu langsung ditebusnya. Kurang dari satu jam kemudian, obat dikirim dari apotek di dekat rumahnya oleh pengemudi ojek online. Halodoc memang bermitra dengan Gojek.

Mutia merasa kondisinya membaik setelah beberapa hari memimun obat yang diresepkan. “Sejak itu, saya beberapa kali menggunakan aplikasi yang sama. Saya juga merekomendasikannya pada mertua yang memiliki penyakit alergi,” ujarnya, Senin (11/5).

(Baca: Kementerian BUMN Akan Satukan Fitur Cek Corona Gojek, Grab & Alodokter)

Pengalaman serupa dialami oleh Setyowati, 25 tahun. Penyakit batuk kering yang dideritanya bulan lalu membuatnya khawatir tertular Covid-19. Tak langsung ke rumah sakit, ia mencoba fitur GrabHealth yang merupakan hasil kolaborasi Grab dan Good Doctor.

Saat konsultasi, dokter sempat memintanya mengirimkan foto tenggorokan. Hasilnya, ia didiagnosis menderita radang biasa. Setelah beberapa hari berobat di rumah, kondisinya pun membaik.

Hingga 20 April 2020, telah ratusan ribu pasien seperti Mutia dan Setyowati telah berkonsultasi dengan dokter secara virtual melalui telemedicine. "Yang melalui via telemedicine sendiri sebanyak 320 ribu," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo.

Reporter: Desy Setyowati, Cindy Mutia Annur
Editor: Pingit Aria

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.