Asia Tenggara Butuh US$ 1,5 T Investasi Hijau hingga 2030

Rezza Aji Pratama
8 Juni 2023, 11:19
Logo KTT ASEAN Summit 2023 di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (27/1/2023). Indonesia akan menjadi tuan rumah bagi perhelatan KTT ASEAN Summit 2023, pertemuan tersebut akan dilaksanakan pada bulan Mei mendatang di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, (NTT).
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Logo KTT ASEAN Summit 2023 di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (27/1/2023).

Kawasan Asia Tenggara membutuhkan lebih dari US$ 1,5 triliun investasi hijau hingga 2030 untuk menjaga komitmen iklim negara-negara di kawasan tersebut.

Laporan terbaru bertajuk ‘Southeast Asia Green Economy 2023’ menyebut pada 2022, aliran investasi hijau hanya mencapai US$ 5,2 miliar di Asia Tenggara. Penulis utama laporan tersebut, Dale Hardcastle mengatakan meskipun komitmen investasi telah meningkat, alisan modal hijau justru turun 7% sejak 2021.

“Investor menyoroti berbagai tantangan seperti biaya modal tinggi, akses pasar, hasil investasi yang tidak mencukupi, dan ketidakpastian arah kebijakan,” katanya dalam keterangan resmi. ‘

Hardcastle menyebut Asia Tenggara memainkan peran penting dalam upaya melawan perubahan iklim global. Namun, masih diperlukan upaya besar untuk mengejar target pengurangan 33% emisi di 2030.

Beberapa tahun terakhir, negara-negara Asia Tenggara sebetulnya sudah menunjukkan komitmen iklim yang kuat. Empat negara memperkuat target iklim mereka, sementara tujuh negara berkomitmen untuk mengimplementasikan mekanisme perdagangan karbon.

Sektor swasta juga tidak kalah cepat untuk mematok target pengurangan emisi. Selain itu, sejumlah perjanjian bilateral dan kebijakan penting di kawasan juga sudah disepakati. Salah satu yang krusial misalnya terkait dengan taksonomi hijau di ASEAN.

“Kendati demikian, semua upaya ini masih belum cukup untuk memastikan Asia Tenggara berada di jalur yang tepat untuk komitmen iklim mereka,” katanya.

Advertisement

Laporan tersebut menilai kawasan Asia Tenggara sebetulnya punya potensi besar meningkatkan bauran energi terbarukan. Namun, potensinya tidak terdistribusi secara merata. Pemerintah di kawasan perlu mempercepat pengembangan pasar lokal dan menjalin kolaborasi dengan seluruh negara ASEAN.

Selain itu, negara Asia Tenggara juga perlu mengembangkan rencana komprehensif di sektor industri dan nasional. Persoalan arus modal untuk proyek-proyek berskala besar juga perlu mendapatkan perhatian.

Jika upaya ini diterapkan, para penulis laporan meyakini Asia Tenggara akan menuai hasil signifikan. Komitmen iklim akan menarik lebih dari US$ 2 triliun investasi baru, memastikan 25% bauran energi berasal dari EBT, mencapai 100% rasio elektrifikasi, hingga menciptakan lebih dari 5 juta lapangan pekerjaan baru.

Laporan ini merupakan salah satu pandangan komprehensif yang ditulis secara kolaborasi oleh Bain & Company,  Temasek, AWS, dan GenZero.

Reporter: Rezza Aji Pratama
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.

Artikel Terkait