4 Perusahaan Jepang akan Investasi Mobil Listrik Rp 49,5 Triliun di RI

Toyota akan berinvestasi mobil listrik paling besar, Rp28,3 triliun. Selanjutnya, Honda Rp 5,2 triliun, Suzuki Rp 1,2 triliun, dan Mitsubishi Rp11,2 triliun sampai tahun 2024.
Safrezi Fitra
14 Juli 2021, 19:26
mobil listrik, otomotif, toyota, honda, suzuki, mitsubishi, toyota bangun pabrik mobil listrik, honda bangun pabrik mobil listrik, suzuki bangun pabrik mobil listrik, mitsubishi bangun pabrik mobil listrik, industri otomotif, investasi mobil listrik
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Mobil listrik.

Empat perusahaan otomotif asal Jepang menyatakan komitmen untuk berinvestasi pengembangan mobil listrik di Indonesia. Nilai investasi dari keempat perusahaan ini mencapai Rp 49,5 triliun. Investasi ini rencananya akan direalisasikan pada 2024.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan komitmen investasi ini didapat saat bertemu langsung dengan para perusahaan tersebut pada Maret 2021. Keempat perusahaan tersebut adalah Toyota, Honda, Suzuki, dan Mitsubishi.

Dia menjelaskan Toyota Motor Corporation akan berinvestasi paling besar, mencapai Rp28,3 triliun. Selanjutnya, Honda Motor Company berkomitmen investasi sebesar Rp5,2 triliun hingga 2024, Suzuki Motor Corporation sebesar Rp1,2 triliun, dan Mitsubishi Motor Corporation sebesar Rp11,2 triliun sampai tahun 2024.

“Hal ini menunjukan Indonesia masih menjadi negara tujuan utama investor dalam pengembangan industri kendaraan bermotor,” kata Agus dalam rilis Kementerian Perindustrian, Rabu (14/7).

Selain produsen kendaraan, pengembangan industri mobil listrik di Indonesia terlihat cukup cerah dengan adanya komitmen investasi baterai. Menperin juga mengungkapkan saat ini ada sembilan perusahaan yang mendukung industri baterai.

Selain itu, ada lima perusahaan penyedia bahan baku baterai terdiri dari nikel murni , kobalt murni , ferro nikel, endapan hidroksida campuran, dan lain-lain. Kemudian, ada empat perusahaan yang merupakan produsen baterai.

“Dengan demikian, Indonesia mampu mendukung rantai pasokan baterai untuk kendaraan listrik mulai dari bahan baku, kilang, manufaktur sel baterai dan perakitan baterai, manufaktur EV, hingga daur ulang EV,” ujar Menteri Agus.

Menurutnya, baterai menjadi komponen paling penting dalam kendaraan listrik (electric vehicle/ EV), yang mewakili 35% dari biaya pembuatannya. Sektor manufaktur Indonesia memiliki keunggulan untuk memproduksi baterai yang terbuat dari Baterai Lithium Ion berbasis nikel.

“Indonesia memiliki sumber daya berupa cadangan nikel terbesar secara global,” sebut Menperin.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait