Pertama di RI, Pabrik Bahan Baku Baterai Mobil Listrik Beroperasi

Pabrik milik Grup Harita ini memiliki kapasitas produksi bahan baku baterai mobil listrik 365 ribu ton per tahun.
Image title
23 Juni 2021, 17:27
baterai, mobil listrik, smelter, pabrik bahan baku baterai, pabrik baterai, nikel, harita, luhut panjaitan, investasi hijau
123RF.com/Hannu Viitanen
Ilustrasi baterai

Pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia milik Harita Group resmi berproduksi di Kawasi, Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Peresmian dilakukan oleh Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan pada Rabu (23/6).

Pabrik ini akan memproduksi campuran padatan hidroksida dari nikel dan kobalt (Mixed Hydroxide Precipitate - MHP). Pemurnian nikel dengan proses hidrometalurgi HPAL ini memiliki kapasitas produksi MHP sebesar 365 ribu ton per tahun.

Adapun pabrik ini nantinya akan dioperasikan oleh PT Halmahera Persada Lygend. MHP merupakan produk antara dari proses pengolahan dan pemurnian nikel kadar rendah sebelum diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat.

Advertisement

Saat ini Harita juga sedang mengembangkan fasilitas produksi lanjutan untuk menghasilkan nikel sulfat dan kobalt sulfat, yang merupakan material utama baterai kendaraan listrik.

"Konstruksi HPAL dimulai pada Agustus 2018 dan siap berproduksi secara komersial. Ini menjadi pabrik HPAL pertama di Indonesia,” kata Stevi Thomas selaku Komisaris Utama Halmahera Persada Lygend dalam keterangan tertulis, Rabu (23/6).

Menurut Luhut kehadiran pabrik ini akan mendorong pengembangan hilirisasi ke depan untuk mendukung industri kendaraan listrik. Pemerintah kata dia akan mendukung pengembangan HPAL di Indonesia.

Apalagi, industri ini akan ikut berkontribusi penuh untuk mewujudkan cita-cita dalam upaya penurunan kadar emisi dari penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil. Ke depannya, kendaraan listrik diprediksi akan mendominasi dan menggantikan kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM). 

Pemurnian nikel dengan teknologi hidrometalurgi HPAL menghasilkan produk yang sangat bermanfaat dalam upaya mengurangi emisi. Serta sangat mendukung konservasi mineral, khususnya nikel.

Teknologi HPAL mampu mengolah nikel kadar rendah yang selama ini tidak diolah. Kini material nikel kadar rendah di Indonesia telah memiliki nilai tambah dan menjadi produk yang sangat strategis.  

"Industri ini harus kita dukung bersama. Halmahera Persada Lygend adalah pabrik pertama bahan baku baterai kendaraan listrik di Indonesia dan nantinya akan muncul di wilayah lainnya," ujarnya.

Bupati Halmahera Selatan Usman Sidik mengungkapkan dengan sumber daya yang dimiliki dan berkembangnya industri nikel, akan membantu pembangunan daerahnya. Dia berharap, perkembangan industri ini di dorong dengan percepatan pembangunan dan pengembangan industri lainnya, tidak hanya nikel.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait