Kementerian ESDM Kawal Pembentukan Holding Panas Bumi

Image title
14 Juni 2021, 12:38
holding panas bumi, panas bumi, kementerian esdm, bumn, holding bumn, pertamina
ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Instalasi sumur geothermal atau panas bumi milik PT Geo Dipa Energi di dataran tinggi Dieng Desa Pranten, Bawang, Batang, Jawa Tengah, Senin (13/1/2020). Sejak pertengahan tahun 2019, PT Geo Dipa Energi (Persero) mulai pembangunan fisik Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Small Scale Dieng berkapasitas 10 Mega Watt (MW), yang merupakan pembangkit skala kecil pertama Indonesia yang ditargetkan beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2020.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal mengawal proses pembentukan holding panas bumi di Indonesia. Hal ini penting agar pembentukan tersebut tak menabrak aturan main.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, Harris, mengatakan instansinya perlu melihat kembali rencana tiga kongsi pelat merah yang akan fokus menggarap panas bumi dengan regulasi yang sudah ada. Ketiganya adalah PT Pertamina Geothermal Energy, PT Geo Dipa Energi (Persero), dan PT PLN Gas & Geothermal.

"Karena ada pengaturan, misalnya tidak boleh ada pengalihan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) ke pihak lain. Bagaimana konsekuensinya, nanti konsolidasi, tentunya kami  akan lihat," kata dia dalam diskusi virtual Energy Corner, Senin (14/6).

Pasal 27 Undang-Undang Nomor 21 tahun 2014 tentang Panas Bumi melarang izin panas bumi dialihkan kepada badan usaha lain. Pemegang Izin Panas Bumi dapat mengalihkan kepemilikan saham di bursa Indonesia setelah selesai melakukan Eksplorasi. Pengalihan kepemilikan saham wajib mendapat persetujuan Menteri ESDM.

Meski demikian, Kementerian ESDM akan terus mendukung rencana Kementerian BUMN untuk dapat mendorong pengembangan panas bumi melalui pembentukan holding. Namun, Kementerian ESDM akan mengupayakan adanya perbaikan regulasi di sektor ini.

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Ahmad Yuniarto berharap pembentukan holding dapat menciptakan sinergi dan efisiensi dalam pemanfaatan panas bumi. Adapun persiapan kajian bersama terus dilakukan oleh ketiga perusahaan.

"Karena ini tidak mudah. Harapannya secepat mungkin proses ini segera selesai," ujarnya.

Pertamina Grup juga menyatakan siap berpartisipasi mendukung pengembangan holding panas bumi. Mengingat bisnis di sektor ini tak terlalu jauh berbeda dengan bisnis hulu migas.

"Ada dukungan dari kegiatan pengeboran eksplorasi dari sektor hulu migas dan ditambah lagi riset dan teknologi. Ekosistem ini diharapkan bisa membawa kontribusi yang lebih besar," ujarnya.

Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury sebelumnya mengatakan dengan holding itu kerja operasional perusahaan bisa lebih efisien. Dia menargetkan penggabungan aset panas bumi ketiga perusahaan akan selesai di tahun 2021 ini. "Holding ini berpotensi jadi perusahaan geotermal terbesar di dunia," kata Pahala.

Penggabungan aset panas bumi nantinya akan memperkuat holding. Kekuatan Pertamina adalah pengembangan dan pengeboran sumur panas bumi. "PLN nanti untuk transmisi dan distribusi. Lalu, pemerintah dalam kebijakan dan pendanaan," ujarnya.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait