Perekonomian Ibu Kota Hanya Akan Tumbuh 5,3-5,8 Persen

Perekonomian Ibu Kota pada kuartal I tahun ini hanya tumbuh 51 persen lebih rendah dibandingkan kuartal I tahun lalu yang mencapai 62 persen
Safrezi Fitra
22 Juni 2015, 12:54
jakarta-indonesia.jpg
KATADATA/

KATADATA ? Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Ibu Kota tahun ini pada kisaran 5,3-5,8 persen. Proyeksi ini lebih rendah dari realisasi tahun lalu, yang mampu tumbuh 6 persen.

Gubernur BI Agus Martowardojo memperkirakan hal ini dengan melihat capaian kinerja perekonomian DKI Jakarta yang melambat signifikan pada kuartal I tahun ini. Pertumbuhannya hanya 5,1 persen, lebih rendah dibandingkan kuartal I tahun lalu yang mencapai 6,2 persen.

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta terutama bersumber dari konsumsi rumah tangga dan investasi. Konsumsi rumah tangga bahkan menyumbang hingga 58,8 persen dari total pertumbuhan, dan investasi menyumbang 33,3 persen. Sisanya disumbang dari perdagangan ekspor yang masih lemah.

Kinerja ekspor luar negeri DKI Jakarta masih terkontraksi, sejalan dengan masih rentannya pemulihan perekonomian global. Di sisi lain, impor melonjak cukup signifikan dibandingkan, sehingga menekan laju pertumbuhan ekonomi Jakarta.

Advertisement

Meski begitu, Agus masih optimistis pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada semester II akan meningkat. Konsumsi dan investasi tetap menjadi motor pertumbuhan. Sedangkan ekspor diperkirakan akan tetap melambat, dengan kondisi ekonomi global yang belum menggembirakan. Makanya pertumbuhan semester II akan bergantung pada realisasi proyek pemerintah.

"Kendala ke depan, bila sejumlah proyek infrastruktur skala besar tetap terhambat realisasinya sepanjang semester II tahun ini," kata Agus saat memberikan sambutan dalam peresmian kantor perwakilan BI untuk DKI Jakarta di Jakarta, Senin (22/6).

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional setiap tahunnya. Tahun ini pun BI memperkirakan kisaran pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta masih lebih tinggi dari nasional.

Meski demikian, BI memprediksi perlambatan perekonomian DKI Jakarta lebih besar dibandingkan nasional. Ini terlihat dari revisi BI atas pertumbuhan DKI Jakarta yang mencapai 0,6 persen, sedangkan revisi nasional hanya 0,4 persen.

Awalnya perekonomian DKI Jakarta tahun ini diprediksi mencapai 5,9 persen-6,3 persen, kemudian direvisi menjadi 5,3 persen-5,8 persen. Sementara pertumbuhan ekonomoni nasional yang awalnya diprediksi sebesar 5,4 persen-5,8 persen, direvisi menjadi 5 persen-5,4 persen.

Meski pertumbuhan ekonomi melambat, BI juga memperkirakan tekanan inflasi DKI Jakarta tahun ini sekitar 4,5-4,9 persen. Angka ini jauh lebih rendah dari inflasi tahun lalu yang mencapai 8,95 persen.

Agus menyebutkan, ada enam tantangan yang harus dihadapi DKI Jakarta untuk menghadapi inflasi. Pertama, terbatasnya peningkatan kapasitas produksi perekononian domestik. Kedua, tingginya ketergantungan pada ekspor berbasis sumber daya alam dan bahan baku impor. Ketiga, produksi pangan yang rentan terhadap gangguan iklim yang semakin sulit diantisipasi karena berkurangnya lahan produksi.

Keempat, inefisiensi dalam struktur mikro pasar. Kelima, masih tingginya ketergantungan pemenuhan energi nasional melalui impor bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. Keenam, masih lemahnya konektivitas antar daerah.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait