BI Prediksi Neraca Perdagangan Desember Surplus US$ 100 Juta

Secara kumulatif sejak Januari hingga November tahun lalu defisit neraca perdagangan mencapai US 207 miliar
Safrezi Fitra
30 Januari 2015, 17:07
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Bank Indonesia (BI) memperkirakan neraca perdagangan Desember 2014 surplus sebesar US$ 100 juta. Perkiraan ini lebih rendah dari prediksi sebelumnya, yakni US$ 200 juta.

Dengan prediksi surplus perdagangan Desember, setidaknya dapat meringankan beban defisit sepanjang 2014. Secara kumulatif, sejak Januari hingga November tahun lalu, defisit neraca perdagangan mencapai US$ 2,07 miliar. Jika prediksinya pas, maka defisit perdagangan sepanjang 2014 menjadi US$ 1,97 miliar. 

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan setidaknya perdagangan Indonesia masih bisa surplus akhir tahun lalu. Ini bisa terjadi karena nilai tukar rupiah hanya terdepresiasi 0,57 persen terhadap dolar AS. Angka ini lebih kecil dibanding mata uang lainnya yang mencapai 3 persen.

"Kalau inflasi mereka (negara-negara lain) lebih tinggi, akan mempengaruhi kompetitif ekspor Indonesia. Kami akan lihat lagi fundamental ekonomi, terutama ekspor impor dan transaksi berjalan," kata Agus di Kompleks BI, Jakarta, Jumat (30/1).

Advertisement

Menurut Agus, pihaknya masih terus akan berupaya menjaga defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) agar tidak terlalu besar. Tahun ini defisit transakssi berjalan diperkirakan berada di sekitar 3,3 persen ? 3,5 persen. Lebih tinggi dari defisit tahun lalu yang diperkirakan 3 persen ? 3,2 persen. Meski demikian BI tetap berupaya mengarahkan defisitnya di kisaran 2,5 persen ? 3 persen.

BI memperkirakan, kuartal I tahun ini neraca transaksi berjalan akan berada di kisaran 2 persen. Ini akan membuat rupiah menguat dibanding mata uang lainnya. 

Dia mengatakan, BI masih akan tetap menjaga agar volatilitas pergerakan rupiah stabil. Tanpa menargetkan rupiah pada level tertentu. Makanya BI masih tetap tidak menaikan suku bunga acuan saat ini.

Di sisi lain, BI yakin perekonomian Indonesia masih baik. Langkah pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) kemudian diikuti dengan penurunan harga minyak, membuat inflasi menurun. Bahkan, Januari diperkirakan deflasi sebesar 0,12 persen. Dia yakin, inflasi akan mengarah pada level 4,5 persen plus minus satu persen hingga akhir tahun.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait