Geliat Perusahaan Masuk Bursa Saham di Tengah Pandemi

Hingga 7 September 2020, sudah ada 40 perusahaan yang melakukan IPO. Jumlahnya lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 33 perusahaan.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
7 September 2020, 19:54
bursa, saham, ipo, covid-19, pandemi
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
ilustrasi bursa saham indonesia

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal tahun ini, membawa dampak besar pada laju perekonomian di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun, gairah bagi perusahaan untuk mencari dana di pasar saham Tanah Air lewat jalur penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO), mulai tumbuh.

Berdasarkan data yang dihimpun Katadata.co.id, sudah ada 12 perusahaan IPO sejak awal Juli 2020 hingga yang terbaru, Senin (7/9). Jumlah itu lebih banyak dibanding IPO sepanjang triwulan II 2020 yang hanya 9 perusahaan. Memang, pada paruh pertama tahun ini, jumlah IPO masih lebih banyak yaitu 19 perusahaan. Totalnya, sudah 40 perusahaan yang IPO dalam kurang dari sembilan bulan.

Jumlah IPO sepanjang tahun berjalan 2020 ini ternyata sudah melampaui capaian IPO 2019. Sepanjang tahun lalu jumlah perusahaan baru yang masuk bursa saham mencapai 55 perusahaan. Namun, jika dilihat sampai akhir September 2019, angkanya baru 38 perusahaan. Sementara hingga 7 September 2019, total perusahaan yang melakukan IPO hanya 33 perusahaan, masih lebih sedikit dari periode yang sama tahun ini.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa per 31 Agustus 2020, masih terdapat 11 perusahaan yang berencana melakukan pencatatan saham lewat skema IPO. Jika dikurangi dengan IPO yang dilakukan sejak awal September 2020, maka masih ada 8 perusahaan siap IPO. Bahkan, pada perdagangan Selasa (8/9), dijadwalkan ada dua emiten yang siap melantai di Bursa.

Analis CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan bahwa ada kebutuhan permodalan yang cukup besar di tengah kondisi krisis ini, agar perusahaan bisa melakukan ekspansi. Langkah perusahaan dalam menggalang dana untuk kebutuhan tersebut, salah satu alternatifnya adalah IPO.

Meski pandemi masih menyelimuti setiap kegiatan, dunia usaha dipaksa untuk mempertahankan operasionalnya. "Kemudian, hal ini yang membuat kebutuhan akan pendanaan harus tetap berlanjut juga," kata Reza ketika dihubungi oleh Katadata.co.id, Senin (7/9).

Ia mengakui bahwa ada potensi dana yang ditargetkan perusahaan tidak mampu diserap oleh pelaku pasar modal. Namun, sekuritas yang menjadi penjamin efek melihat bahwa animo pelaku pasar modal masih tetap ada. Hal inilah yang coba dimanfaatkan oleh perusahaan dan sekuritas untuk mencari dana lewat IPO.

Menurutnya, pelaku pasar sudah mulai melihat ada aktivitas di perusahaan secara bertahap meski tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Pelaku pasar dinilai khawatir saat pertama kali ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB), karena khawatir diberlakukan hingga akhir tahun. "Tapi paling tidak, pembatasan kegiatan usaha ini tidak berlangsung terus-menerus," katanya.

 

Meski perusahaan yang IPO sejauh ini lebih banyak jika dibandingkan secara tahunan (year-on-year) dibandingkan dengan tahun lalu, secara nilai pencarian dana masih jauh di bawah capaian tahun lalu. Tercatat, total dana yang diraup dari aktivitas IPO 40 perusahaan di bursa saham hanya Rp 4,86 triliun. Jika dirata-ratakan, pengumpulan dana di pasar modal hanya Rp 121,61 miliar per perusahaan.

Bahkan, perusahaan yang meraup dana lebih dari Rp 1 triliun saja sepanjang tahun ini, hanya PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE) yang IPO pada 13 Maret 2020. Saat itu, perusahaan tersebut melepas 10 miliar unit saham baru di harga Rp 103 per saham. Pada perdagangan Senin (7/9), sahamnya ditutup di harga Rp 338 per saham, artinya naik hingga 8,33%.

Sementara itu, hingga 7 September 2019, dengan hanya ada 33 perusahaan IPO, berhasil mengumpulkan dana hingga Rp 9,58 triliun. Jika dirata-rata, maka setiap satu perusahaan, meraup dana dari IPO senilai Rp 290,51 miliar, lebih dari dua kali lipat dari capaian tahun ini.

Nilai IPO jumbo yang tercatat pada tahun lalu, penyokong utamanya berasal dari satu perusahaan yaitu PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) 9 Juli 2019. Nilainya mencapai Rp 4,76 triliun. Meski begitu, LIFE tidak mengantongi dana dari IPO tersebut karena ada investor yang melepas saham LIFE ke publik. Sehingga LIFE tidak melepas saham baru ke publik sama sekali, hanya saham lama yang dilepas ke publik.

Jika LIFE dikeluarkan dari daftar tersebut, maka nilai fundraising dari perusahaan yang melakukan IPO hingga 7 September 2020 totalnya Rp 4,82 triliun. Artinya, nilainya tidak lebih besar dibandingkan dengan pencarian dana yang dilakukan perusahaan pada tahun berjalan ini.

Upaya Regulator Mendorong Perusahaan Masuk Bursa

Sekretaris Perusahaan BEI Yulianto Aji Sadono mengatakan bahwa pandemi Covid-19 ternyata tidak menyurutkan minat perusahaan untuk memanfaatkan pendanaan melalui pasar modal. Catatan itu merupakan suatu pencapaian bagi BEI dan juga merupakan bentuk kepercayaan dari para pelaku bisnis kepada pasar modal Tanah Air.

Berbagai upaya pun dilakukan oleh pihak Bursa bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan mengimplementasikan serangkaian kebijakan untuk memberikan kemudahan bagi perusahaan mendapatkan pendanaan. Seperti kebijakan khusus yaitu stimulus berupa potongan biaya pencatatan awal saham sebesar 50%.

 

"Sebagaimana tertuang dalam Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor Kep-00044/BEI/06-2020 tanggal 18 Juni 2020 perihal Kebijakan Khusus atas Biaya Pencatatan Awal Saham dan Biaya Pencatatan Saham Tambahan," kata Yulianto Aji dalam siaran pers, (27/8).

Selain itu, pihak Bursa dan OJK juga meluncurkan Sistem Electronic Indonesia Public Offering (e-IPO) pada 10 Agustus 2020. Ini sebagai sarana atau sistem yang dapat membantu proses IPO agar menjadi lebih efisien, efektif, dan transparan. Dengan sistem ini diharapkan dapat meningkatkan kemudahan akses investor untuk dapat berpartisipasi.

 

 

Video Pilihan

Artikel Terkait