Beban Cukai Tinggi, Laba Bersih Gudang Garam Anjlok 29% pada 2020

Total penjualan Gudang Garam sepanjang tahun lalu naik 3,57%, namun karena beban setoran ke negara meningkat, laba bersih perseroan pun anjlok.
Safrezi Fitra
31 Maret 2021, 15:37
gudang garam, ggrm, penjualan rokok, penjualan gudang garam, laba produsen rokok, laba gudang garam, laba gudang garam 2020, keuntungan produsen rokok, rokok
ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
PT Gudang Garam Tbk.

Produsen rokok yang berbasis di Kediri, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mengalami peningkatan penjualan 3,57% menjadi Rp 114,47 triliun sepanjang 2020. Namun, karena biaya cukai dan pajak naik hingga 15%, laba bersih Gudang Garam pun anjlok hingga 29,71% menjadi hanya Rp 7,59 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan, pertumbuhan penjualan tidak berjalan beriringan dengan pertumbuhan biaya yang harus dikeluarkan tahun lalu. Kenaikan biaya lebih tinggi dibandingkan peningkatan pendapatan Gudang Garam.

Sebenarnya, pengeluaran untuk bahan baku produksi telah berkurang dari Rp 15 triliun, menjadi Rp 14 triliun. Total biaya produksi sepanjang tahun lalu pun menurun dari Rp 19,65 triliun menjadi Rp 18,97 triliun.

Namun, karena beban setoran ke negara meningkat tinggi, total biaya pokok penjualan GGRM pun naik 10,6%. Pos beban pembelian pita cukai, setoran pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak rokok perseroan naik hingga 15,29% menjadi Rp 78,66 triliun.

Dalam paparan publiknya tahun lalu, Direktur dan Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman mengatakan kenaikan cukai merupakan kenaikan biaya bagi Perseroan. Salah satu cara untuk memperbaiki profitabilitas yang menurun adalah untuk menaikan harga jual.

"Namun, saat ini dengan adanya penurunan volume dan tetap lemahnya daya beli, kami belum memutuskan kenaikan harga jual," ujarnya pada Agustus 2020.

Tingginya beban pokok penjualan telah menggerus laba kotor perseroan. Laporan keuangan 2020 mencatat laba kotor Gudang Garam hanya Rp 17,39 triliun. Capaian ini menurun hingga 23,68% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 22,78 triliun.

Selain setoran ke negara yang membuat beban pokok penjualan naik tinggi, fluktuasi nilai tukar rupiah juga menggerus laba Gudang Garam. Perseroan mencatat rugi kurs bersih tahun lalu Rp 38,69 miliar, meningkat hingga 91% dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 20,17 miliar.

Alhasil, laba bersih Gudang Garam sepanjang 2020 tercatat hanya Rp 7,59 triliun. Padahal, pada 2019, Gudang Garam mampu meraup laba bersih hingga Rp 10,80 triliun.

Tantangan berat industri rokok Tanah Air tahun lalu diperkirakan masih akan berlanjut tahun ini. Ada dua momok besar sejak tahun lalu, yaitu kenikan tarif cukai dan daya beli masyarakat yang turun karena pandemi Covid-19. 

Analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya menilai tahun ini masih menjadi tahun yang cukup berat buat industri rokok Tanah Air. Alasannya, selain dampak dari kenaikan cukai rokok yang bisa menurunkan permintaan, daya beli masyarakat yang belum pulih akibat Covid-19 juga turut membebani kinerja.

"Nampaknya beberapa emiten rokok akan mulai merambah bisnis ke sektor non-rokok," kata Anissa kepada Katadata.co.id, beberapa waktu lalu.

Dia mengapresiasi langkah Gudang Garam yang mulai berinvestasi sektor infrastruktur seperti jalan tol dan bandara. Adapun, pembangunan Bandara Dhoho di Kediri tersebut sudah mulai melakukan seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) pada April tahun lalu. Proyek ini masuk dalam proyek strategis nasional (PSN).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait