Dirut Pertamina Nicke Widyawati Jadi Wanita Berpengaruh ke-16 Dunia

Fortune menyebut Nicke sebagai seorang insinyur yang mendapat mandat untuk melakukan tranformasi Pertamina. Ia memimpin perusahaan dengan total pendapatan tahunan mencapai US$ 54,6 miliar.
Image title
Oleh Sorta Tobing
22 Oktober 2020, 12:53
fortune, nicke widyawati, pertamina, 50 Most Powerful Women International
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjadi salah satu dari 50 perempuan paling berpengaruh di dunia versi Fortune.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjadi salah satu dari 50 perempuan paling berpengaruh di dunia versi Fortune. Majalah asal Amerika Serikat itu menempatkannya di posisi ke-16. Nicke berada persis di bawah Jean Liu, bos perusahaan ride-hailing terbesar di Tiongkok, Didi Chuxing.

Dalam daftar 50 Most Powerful Women International, Fortune menyebut Nicke sebagai seorang insinyur yang mendapat mandat untuk melakukan tranformasi Pertamina. Ia memimpin perusahaan pelat merah itu pada 2018 setelah pendahulunya, Elia Massa Manik, diberhentikan.

Nicke ketika itu mengatakan akan tetap melanjutkan program perusahaan. “Tidak ada perubahan yang signifikan karena semua sudah tertata,” kata dia di Jakarta pada 20 April 2018.

Pandemi Covid-19, menurut Fortune, telah menghadirkan tantangan untuknya. Nicke harus memimpin perusahaan dengan total pendapatan tahunan mencapai US$ 54,6 miliar (sekitar Rp 803 triliun) dan 32 ribu karyawan di seluruh dunia.

Di saat yang sama, Pertamina juga bersiap melakukan pencatatan saham anak perusahaannya di lantai bursa. Targetnya dalam dua tahun ke depanrencana ini terlaksana. Prioritas yang melakukan go public adalah PT Pertamina Hulu Energi.

Sebelum Nicke, Direktur Utama Pertamina periode 2009-2014 Karen Agustiawan juga pernah masuk dalam daftar tersebut. Tepatnya pada Oktober 2013, nama Karen berada di urutan keenam. Tahun sebelumnya, ia berada di peringkat ke-19 dalam daftar 50 Most Powerful Women in Business. Pada 2011, Forbes menempatkannya di urutan pertama dalam daftar Asia's 50 Power Businesswomen.

PERTEMUAN MENTERI BUMN DENGAN PERTAMINA
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.  (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Karier Nicke di Berbagai BUMN

Perempuan kelahiran Tasikmalaya, 25 Desember 1967 itu memiliki berbagai pengalaman mengisi posisi penting badan usaha milik negara atau BUMN. Sebelum menjadi direktur utama, Nicke menjabat direktur sumber daya manusia dan pelaksana tugas direktur logistik, supply chain, dan infrastruktur Pertamina.

Lulusan teknik industri dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan master hukum bisnis Universitas Padjajaran ini juga sempat berkarier di perusahaan setrum negara. Pada 2014 ia menjadi direktur pengadaan strategis I PLN.

Pada 2009, Nicke menjadi direktur utama PT Mega Eltra, anak usaha PT Pupuk Indonesia (Persero). Sebelumnya, ia menjabat direktur bisnis dan sempat pula menjadi vice president corporate strategy unit di PT Rekayasa Industri atau Rekind.

3 Perempuan Paling Berpengaruh Versi Fortune

Dalam daftar Most Powerful Women International 2020, Fortune memilih Emma Walmsley di posisi puncak. Ia merupakan pemimpin GlaxoSmithKline asal Inggris. GSK saat ini menjadi salah satu perusahaan farmasi yang berada di posisi depan dalam upaya pemulihan pandemi Covid-19 melalui penyediaan obat penghilang rasa sakit dan pengembangan vaksin.

Posisi kedua adalah Jessica Tan, yang memimpin perusahaan asuransi Tiongkok, Ping An Group. Di tengah pandemi, perusahaan berhasil melakukan pivot dengan mengembangkan platform Good Doctor. Pemakaiannya melonjak sejak infeksi Covid-19 menyebar di Negeri Panda pada 2020. Pada paruh pertama tahun ini, pengguna Good Doctor naik 26,5% dibandingkan tahun lalu. Banyak pasien memakainya untuk menghindari datang ke rumah sakit.

Lalu, Executive Chairman Banco Santander Ana Botin berada di posisi ketiga. Pada Juli lalu, bank asal Spanyol ini melakukan penghapusan aset senilai US$ 14,9 miliar karena terimbas pandemi. Perusahaan terpaksa melaporkan kerugian kuartalan pertamanya sepanjang sejarah 163 tahun berdiri.

Botin merupakan eksekutif keuangan pertama Eropa yang mengambil langkap pemotongan gaji dalam menghadapi pandemi. Dia dan CEO Santander Jose Antonio Alvarez menyumbang setengah dari kompensasi dan bonusnya untuk membeli peralatan medis dan mendukung penelitian virus corona.

Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait