Faisal Basri: Tender Pembangkit Blok Rokan Untungkan Pemburu Rente

Dengan usia aset yang hanya tiga tahun, menurut Faisal Basri, pemenang tender pembangkit listrik Blok Rokan akan mengambil untung dengan menetapkan tarif listrik tinggi kepada Pertamina.
Image title
30 Maret 2021, 18:48
faisal basri, pertamina, blok rokan, chevron, pln
Agung Samosir|KATADATA
Ekonom senior Faisal Basri mengatakan mekanisme tender bukanlah jalan terbaik dalam pengalihan aset pembangkit listrik di Blok Rokan.

Opsi tender bukan jalan terbaik dalam pengalihan aset pembangkit listrik di Blok Rokan. Ekonom senior Faisal Basri mengatakan mekanisme ini berpeluang membuka celah bagi pencari rente untuk mengambil untung sebanyak-banyaknya.

Dengan usia aset yang hanya tiga tahun, pemenang tender akan mengambil untung dengan menetapkan tarif listrik tinggi kepada Pertamina. "Misalnya saya beli pembangkit ini lewat tender, menang, dan di-back-up kekuasaan. Dalam tiga tahun bisa untung," kata dia dalam webinar Transisi Rokan, Peluang dan Tantangan, Selasa (30/3).

Agar proses transisi pembangkit listrik berjalan lancar, pengoperasiannya harus melalui PLN. Faisal mendorong PLN dan Pertamina melakukan perundingan baik-baik dengan Chevron.  "Kami juga ingin happy ending dengan Chevron. Tidak ingin ada gugat-menggugat," ujarnya.

Selama ini, listrik Blok Rokan dipasok oleh PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) yang 95% sahamnya dimiliki Chevron. Pada Agustus nanti, operasional blok migas itu akan beralih dari Chevron Pacific Indonesia ke Pertamina. Namun, untuk peralihan pembangkit listriknya masih dalam proses negosiasi.  

Advertisement

Anggota Komisi VII DPR  Abdul Wahid mengatakan ada persoalan ketidakjelasan soal lahan MCTN karena tidak ada keterangan soal sewa lahannya. Tidak ada bukti pula pendapatan negara dari hasil sewa lahan tersebut.

Ia berencana  mendalami persoalanitu lebih lanjut. Selama 20 tahun aset negara tersebut digunakan tanpa kejelasan. Kemudian hingga 2017, MCTN dioperasikan oleh karyawan Chevron yang gajinya dibayar negara melalui mekanisme cost recovery.  "Saya melihat Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak  ada temuan tapi kami akan gali," kata Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Riau itu.

Proses alih kelola Blok Rokan dari Chevron ke Pertamina tinggal menghitung bulan. Namun, upaya untuk mengelola blok minyak andalan lifting nasional itu menemui sejumlah kendala.

Masalah utama saat ini adalah soal pasokan listrik. Sampai sekarang PLN masih menunggu hasil lelang akuisisi pembangkit milik PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) di blok migas tersebut. Chevron melakukan kerja sama penyediaan listrik dan steam (cogen) dengan perusahaan ini. 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait