Asosiasi Sebut Alasan Nikel Indonesia Tak Menarik Lagi bagi Tesla

Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian (AP3I) mengatakan, aturan yang berubah-ubah membuat investasi asing, termasuk Tesla, sulit masuk ke Indonesia.
Image title
3 Maret 2021, 18:53
tesla, mobil listrik, baterai listrik, nikel
ANTARA FOTO/REUTERS/Yusuf Ahmad
Ilustrasi. Tesla akan mengganti bahan baku baterainya dari nikel ke besi.

Kabar Tesla akan mengganti bahan baku baterainya dari nikel ke besi memberi sinyal negatif pada sektor pertambangan Tanah Air. Padahal, pemerintah sedang menggenjot hilirisasi komoditas tambang itu, melalui bisnis baterai listrik

Salah satu pendiri Asosiasi Perusahaan Industri Pengolahan dan Pemurnian (AP3I) Jonathan Handojoyo mengatakan, aturan yang berubah-ubah membuat investasi sulit masuk ke negara ini. Investor asing, termasuk Tesla, menjadi tidak tertarik. “Sebentar merah, tiba-tiba berubah menjadi hijau,” katanya kepada Katadata.co.id, Rabu (3/3).

Ia berharap kebijakan yang keliru dapat segera dicabut. Misalnya, Peraturan Bank Indonesia Nomor 21/14/PBI/2019 tentang devisa hasil ekspor dan pembayaran ekspor. “Aturan ini menyebabkan hilangnya devisa ekspor nikel,” ujar Jonathan. 

Sebagai informasi, pemerintah sedang melakukan negosiasi dengan produsen mobil listrik asal Amerika Serikat itu untuk masuk ke bisnis baterai RI. Proses diskusi telah berlangsung sejak tahun lalu. Tesla tertarik masuk ke produksi sistem penyimpanan energi atau energy storage system (ESS).

Salah satu syarat yang perusahaan ajukan adalah penambangan nikelnya harus memperhatikan lingkungan dan berkelanjutan. Nikel merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion dan ESS. Indonesia memproduksi dan memiliki cadangan barang tambang itu terbesar di dunia.

Jonathan berpendapat selama ini penambang nikel Indonesia tidak ada yang salah. “Buktinya apa kalau dibilang merusak lingkungan,” ujarnya. 

Pekan lalu, pendiri dan bos Tesla, Elon Musk, menyatakan kekhawatirannya pada komoditas nikel. Ketersediaanya tak sejalan dengan keinginan perusahaan untuk meningkatkan produksi baterai. 

Apabila kondisi tak berubah, Musk bakal mengganti nikel dengan katoda  berbahan dasar besi. “Nikel adalah kekhawatiran utama kami untuk meningkatkan produksi baterai lithium-ion. Karena itu, kami mengubah (baterai) ke katoda besi. Banyak besi (dan lithium)!,” cuitnya dalam akun Twitter @elonmusk, pada Jumat lalu.

Bahan baku besi cenderung lebih murah dan produksinya lebih banyak di dunia. Namun, nikel dapat menyimpan energi listrik lebih padat. Mobil listrik dapat berjalan lebih jauh dengan sekali pengisian daya. Tesla membutuhkan logam mineral itu tak hanya untuk kendaraan listrik, tapi juga proyek tenaga surya. 

Direktur Riset Center Of Reform on Economics Piter Abdullah Redjalam menyebut perubahan seperti itu wajar seiring dengan studi dan riset yang terus berkembang. "Tapi tidak dalam waktu singkat. Itu kan baru omongan, wacana," katanya.

Kekhawatiran yang Musk utarakan sebenarnya positif untuk negara ini. “Indonesia tidak bisa hanya bergantung dan mengandalkan sumber daya alam saja,” ujar Piter. 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

The pandemic has led Indonesia to revisit its roadmap to the future. This year, we invite our distinguished panel and audience to examine this simple yet impactful statement:

Reimagining Indonesia’s Future

Join us in envisioning a bright future for Indonesia, in a post-pandemic world and beyond at Indonesia Data and Economic Conference 2021. Register Now Here!

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait