Kemenkeu Akan Lelang 7 Seri Surat Utang, Target Maksimal Rp 45 Triliun

Lelang tujuh seri surat utang negara ini dilakukan dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan APBN 2021.
Agatha Olivia Victoria
18 Juni 2021, 12:52
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Pemerintah akan melelang tujuh seri surat utang negara atau SUN dalam rupiah.

Pemerintah akan melelang tujuh seri surat utang negara (SUN) pada 22 Juni 2021. Target indikatif yang ditetapkan sebesar Rp 30 triliun, dengan maksimal Rp 45 triliun.

"Lelang dilakukan dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam anggaran pendapatan atau belanja negara (APBN) 2021," tulis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan dalam keterangan resminya, Jumat (18/6).

Pelaksanaan lelang dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.08/2019 tentang Lelang Surat Utang Negara di Pasar Perdana Domestik. Kemudian, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38/PMK.02/2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Keuangan Negara untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan.

Lelang dibuka pukul 09.00 WIB dan ditutup pukul 11.00 WIB. Sedangkan settlement-nya akan dilakukan pada Kamis, 24 Juni 2021.

Advertisement

FR0083 memiliki kupon tertinggi yakni 7,5% yang akan jatuh tempo pada 15 April 2040. Selanjutnya, ada FR0089 dengan bunga 6,875% dan memiliki tenor terpanjang hingga 15 Agustus 2051.

Seri lainnya, FR0087 memiliki kupon 6,5% yang akan berakhir pada 15 Februari 2031. FR0088 mempunyai tingkat bunga 6,25% dengan tanggal jatuh tempo 15 juni 2036. Lalu,, FR0086 memiliki tingkat kupon 5,5% yang berakhir pada 15Arpil 2026.

Yang tenornya pendek adalah SPN03210922 dan SPN12220331. Kedua surat perbendaharaan negara ini jatuh tempo masing-masing 22 September 2021 dan 31 Maret 2022, dengan tingkat kupon diskonto.

Untuk seri SPN, alokasi pembelian non-kompetitif ditetapkan maksimal 50% dari yang dimenangkan. Sedangkan untuk seri FR, paling banyak 30% dari yang dimenangkan.

Peserta lelang SUN kali ini terdiri dari dealer utama yang meliputi Citibank N.A., Deutsche Bank AG, PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank Central Asia, Tbk., PT Bank Danamon Indonesia, Tbk., PT Bank Maybank Indonesia, Tbk., dan PT Bank Mandiri (Persero), Tbk. Lalu, PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk., PT Bank OCBC NISP, Tbk., PT Bank Panin, Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk., dan PT Bank Permata, Tbk.

Ada pula, PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT Bank ANZ Indonesia., Standard Chartered Bank, JP Morgan Chase Bank N.A., PT. Bahana Sekuritas, PT. BRI Danareksa Sekuritas, PT. Mandiri Sekuritas, dan PT. Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk. Peserta lainnya yang turut berpartisipasi yakni Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia atau BI. Lelangnya bersifat terbuka dan menggunakan metode harga beragam.

Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian kompetitif akan membayar sesuai dengan imbal hasil atau yield yang diajukan. Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian non-kompetitif akan membayar sesuai dengan imbal hasil atau yield rata-rata tertimbang dari penawaran pembelian kompetitif yang dinyatakan menang.

Pemerintah memiliki hak untuk menjual ketujuh seri SUN tersebut lebih besar atau lebih kecil dari jumlah indikatif yang ditentukan. SUN yang akan dilelang mempunyai nominal per unit sebesar Rp 1 juta.

Pada prinsipnya, semua pihak, baik investor individu maupun institusi, dapat menyampaikan penawaran pembelian dalam lelang. Namun dalam pelaksanaannya, penyampaian penawaran pembelian harus melalui peserta lelang sebagaimana diatur dalam PMK No. 168/PMK.08/2019 dan PMK No. 38/PMK.02/2020.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, pihaknya masih terus melanjutkan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar perdana. "Ini sebagai bagian dari sinergi kebijakan BI dan pemerintah untuk pendanaan APBN 2021," kata Perry dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur bulan Juni, Kamis (17/6),

Hingga 15 Juni 2021, pembelian SBN di pasar perdana tercatat sebesar Rp 116,26 triliun. Jumlah tersebut, menurut dia, terdiri dari Rp 40,8 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 75,46 triliun melalui mekanisme greenshoe option.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait