Dua Hari IHSG Anjlok, BEI Sebut Efek Potensi Taper Tantrum

Image title
21 Juni 2021, 12:37
ihsg, bei, bursa efek indonesia, bursa, saham
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Ilustrasi. IHSG anjlok.

Mengawali pekan ini, Senin (21/6), indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok hingga 2,04% menyentuh level 5.884 di awal perdagangan. Penrunan indeks sudah terjadi sejak penutupan perdagangan pekan lalu. IHSG  turun hingga 1,01% ke level 6.007.

Menjelang penutupan sesi pertama perdagangan hari ini, total volume saham yang diperdagangkan mencapai 10,77 miliar unit saham dengan nilai transaksi 6,61 triliun. Ada 377 saham yang tercatat turun, sedangkan yang menguat hanya sebanyak 132 saham.

Tidak hanya bursa Tanah Air, bursa-bursa di regional Asia juga turun. Hingga pukul 11.00 WIB, Nikkei 225 Index di Tokyo anjlok 3,55% dan Straits Times Index Singapura turun 1,15%. Bursa Hang Seng di Hong Kong dan Shanghai Composite Tiongkok, masing-masing turun 1,35% dan 0,22%.

Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) berpendapat, penurunan IHSG dan indeks di pasar saham Asia lainnya disebabkan pernyataan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve alias The Fed, yang berencana melakukan pelonggaran kuantitatif. Hal ini membuka peluang risiko taper tantrum seperti yang terjadi pada 2013 lalu.

 "Taper tantrum dimulai lagi karena rencana The Fed (Bank Sentral AS) mau menaikkan suku bunga di kuartal pertama 2022," kata Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo kepada awak media, Senin (21/6).

Efek kebijakan The Fed ini berpotensi mendorong aliran modal asing ke luar dari Indonesia. Namun, pada perdagangan hari ini investor asing melakukan pembelian dengan nilai bersih Rp 811,31 miliar.

Hal berbeda terjadi pada akhir pekan lalu. Investor asing melakukan penjualan mencapai Rp 193,77 miliar. Laksono menyebut, masuknya investor asing ke bursa saham di tengah ancaman tapering tantrum, karena harga saham sudah turun. "Mungkin mereka (investor asing) buy on weakness dan investor lokalnya mengejar ketinggalan Jumat lalu," kata Laksono.

Tidak hanya soal kebijakan The Fed saja yang membuat indeks Tanah Air loyo, kasus positif Covid-19 yang kembali meningkat juga menjadi konsentrasi pelaku pasar hari ini. Namun, Laksono menilai peningkatan kasus  bukan menjadi alasan utama penurunan IHSG.

Pemerintah mencatat kasus Covid-19 bertambah hingga 13.737 orang kemarin sehingga total konfirmasi mencapai 1.989.909. Penambahan positif Covid-19 ini menjadi yang terbanyak dalam sehari sejak 29 Januari 2021 yang bertambah 13.800 kasus.

Tentang Taper Tantrum 

SVP Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan, tapering bisa terjadi pada akhir triwulan IV-2021 atau pada triwulan I-2022 mendatang. Hal ini menjadi katalis negatif bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia karena terjadi capital outflow dan nilai tukar rupiah melemah.

Tapering ini bisa terjadi, salah satunya karena The Fed berencana mempercepat kenaikan suku bunga pada 2023 sebanyak dua kali dari yg sebelumnya terjadwal 2024. "Sebelum kenaikan suku bunga, pastinya akan ada tapering yang malah mungkin akan terjadi lebih awal," kata Janson kepada Katadata.co.id.

Mengutip Investopedia, taper tantrum adalah istilah yang digunakan media ekonomi untuk menggambarkan lonjakan imbal hasil surat berharga AS pada 2013 karena pengumuman The Fed tentang kebijakan pelonggaran kuantitatif di masa depan.

The Fed kala itu mengumumkan akan mengurangi laju pembelian obligasi treasury, untuk mengurangi jumlah uang yang masuk ke perekonomian.

Taper tantrum mengacu pada kepanikan sebagian besar investor pada 2013 yang memicu lonjakan hasil treasury AS setelah mengetahui The Fed perlahan-lahan menghentikan program pelonggaran kuantitatif (QE). Kekhawatiran utama di balik taper tantrum bersumber dari ketakutan bahwa pasar akan runtuh akibat penghentian QE.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Sorta Tobing
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait