Jutaan siswa di Indonesia saat ini tak bisa belajar di sekolah. Pandemi corona membuat mereka terpaksa menimba ilmu dari rumah masing-masing. Para guru pun terpaksa putar otak agar kegiatan belajar tidak terganggu. Ketimpangan membayangi dunia pendidikan ketika kenormalan baru atau new normal hidup di masa pandemi ini.

Di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, pemberian materi belajar melalui aplikasi Zoom atau WhatsApp tidak mungkin dilakukan. Jaringan internet di kota itu terbatas. Guru sekolah dasar di sana terpaksa memanfaatkan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media pendidikan.

Seorang guru SD bernama Titis Kartikawati mengatakan, RRI mengadakan program belajar selama satu jam dengan bantuan para pendidik. "Setiap Senin hingga Jumat kami bergantian. Semua guru bisa memberikan materi, sesuai yang mereka kuasai," kata guru kelas lima itu, Sabtu (2/5), dikutip dari Antara.

Sinyal radio menjadi pilihan utama untuk dapat menjangkau semua wilayah, termasuk titik blank spot (tanpa jaringan internet) di empat kabupaten di provinsi itu. Penerapan cara belajar tersebut juga irit biaya. Para guru tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membeli paket internet.

Orang tua pun bisa berhemat. Pasalnya, banyak wali murid yang bekerja sebagai buruh tani, sawit, dan pedagang sayur. Di masa sulit seperti sekarang, mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sudah sulit untuk mereka, apalagi mengeluarkan biaya untuk internet.

(Baca: Hari Pendidikan Nasional, Nadiem: Banyak Pelajaran dari Covid-19)

Masalah biaya internet sebenarnya bukan perkara wilayah perbatasan. Para guru dan orang tua murid di Jakarta pun memiliki persoalan serupa. Guru SD Negeri Menteng Dalam 11, Tebet, Jakarta Selatan, Erni Ritaningsing melakukan pembelajaran jarak jauh untuk 30 muridnya yang duduk di kelas tiga SD sejak 17 Maret 2020.

Kegiatan belajar-mengajar dari rumah dimulai dari pukul 09.00 WIB sampai 11.00 WIB. Setelah itu, ia akan memberikan soal latihan untuk dikerjakan siswa.

Pada pekan pertama hingga kedua, seluruh siswa mampu mengikuti kegiatan melalui aplikasi Zoom. “Tapi sejak dua pekan ini ada beberapa orang tua yang mengeluh tidak bisa mengikuti kelas karena keterbatasan kuota internet,” ucap Erni.

Ada orang tua yang tak mampu membeli kuota karena sudah tidak bekerja atau terkena PHK (pemutusan hubungan kerja). Ada pula yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring (online) dan kesulitan mendapatkan setoran sejak ibu kota menerapkan status pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Untuk yang tidak mengikuti kelas melalui Zoom, Erni menghubungi orang tua muridnya. “Saya kasih arahan, lalu tugas. Nanti tugas dikumpul melalui pesan pribadi kepada saya,” ujarnya.

(Baca: Sri Mulyani: Bansos Dapat Sentuh Lebih dari Separuh Rakyat Indonesia)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaa Nadiem Makarim mengatakan pandemi Covid-19 menjadi tantangan luar biasa bagi Indonesia serta seluruh dunia. Dari krisis ini, sektor pendidikan mendapatkan banyak sekali hikmah dan pembelajaran yang bisa diterapkan setelahnya.

Untuk pertama kalinya, guru melakukan pembelajaran secara daring dan menyadari pembelajaran bisa dilakukan di manapun. Orang tua juga menyadari betapa sulitnya tugas guru.

Namun, di balik hikmah itu, terungkap pula masalah lain. Kesenjangan pendidikan semakin lebar. Dalam sesi diskusi dengan presenter Najwa Shihab, Nadiem mengatakan ketidakmerataan ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Teknologi dan inovasi tidak melulu menjadi acuan kesuksesan pendidikan. “Satu hal yang saya belajar, secanggih apapun teknologi, sebesar apapun inovasi, yang benar-benar melakukan perubahan di lapangan adalah hati seorang penggerak,” kata Nadiem.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus mengevaluasi bentuk pembelajaran di tengah pandemi virus corona. Salah satu upayanya adalah menghadirkan materi belajar melalui stasiun TVRI. Murid yang tidak memiliki koneksi internet tapi memiliki televisi, bisa mengaksesnya.

(Baca: Sekolah Jadi Tempat Isolasi Covid-19, Orang Tua Murid Keberatan)

BELAJAR BERSAMA MANFAATKAN MEDIA TELEVISI
Belajar bersama di tengah pandemi corona dengan memakai media televisi. (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/foc.)

Perlu Kurikulum Darurat di Tengah Pandemi

Pembelajaran secara daring saat ini sesuai dengan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 36962/MPK.A/HK/2020. Salah satu poin dalam surat itu adalah siswa dapat belajar di rumah, melalui konferensi video, dokumen digital, dan saranan daring lainnya.

Tapi mengeluarkan edaran saja tidak cukup. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Profesor Unifah Rosyidi mengatakan ada beragam pembenahan yang perlu dilakukan pemerintah terkait pembelajaran di rumah.

Pertama, kepastian akses internet dan listrik, terutama di daerah pelosok. “Kami berharap pemerintah agar lebih fokus menginvestasikan sarana dan prasarana untuk kegiatan pembelajaran jarak jauh,” jar Unifah.

Grafik Databoks di bawah ini menunjukkan SD merupakan satuan pendidikan paling banyak tidak mendapat akses listrik dan internet. Di bawahnya adalah sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).

(Baca: Bimbel Offline Terdampak Corona, Pengajuan Kredit di Pintek Turun)

Kedua, pemerintah perlu menyusun cetak biru pendidikan nasional. “Cetak biru ini dilandasi penekanan pendidikan sebagai upaya mempersiapkan peserta didik sebagai warga global,” ujarnya.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengatakan pemerintah sebaiknya segera mengeluarkan kurikulum darurat. Pedoman kurikulum di saat pandemi menjadi penting untuk membuat kegiatan belajar menyenangkan, anak tidak stres, dan ada target terukur.

Sampai saat ini, ia melihat pemerintah belum menyelamatkan sektor pendidikan. “Dana darurat sekitar Rp 405 triliun untuk penanggulangan Covid-19 ternyata tidak menyelamatkan sektor ini sama sekali,” katanya.

Padahal, menurut dia, ancamanya sudah di depan nyata. Ketika angka kemiskinan berpotensi naik tajam, banyak anak terancam putus sekolah. "Buat makan saja susah, apalagi buat bayar sekolah. Sebab, sekolah kita masih saja banyak bayar pungutan ini dan itu,” ucap Ubaid.

(Baca: Dampak Penetapan Status Bencana Nasional Covid-19 terhadap Anggaran)

Reporter: Antara, Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Sorta Tobing

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.