Mematut Kehandalan Gross Split dari Hasil Lelang Blok Migas 2017

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Kamis 1/2/2018, 12.07 WIB

Pelaku migas menilai hasil lelang belum membuktikan keberhasilan skema gross split. Sebab, saat ini hanya Blok ONWJ yang menggunakan skema itu.

Migas
Dok. Chevron

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan hasil lelang blok minyak dan gas bumi (migas) tahun 2017, Senin (31/1) kemarin. Ada lima investor yang memenangkan proses lelang tersebut, lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, masih ada keraguan terhadap kehandalan skema baru kontrak migas gross split yang ditawarkan pemerintah dalam lelang tersebut.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menilai lelang blok migas yang pemenangnya diwajibkan menggunakan kontrak gross split ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Skema gross split diyakini dapat memberikan efisiensi dan kemudahan berbisnis sektor hulu bagi kontraktor migas.

Namun pemerintah tetap mendengarkan masukan pemangku kepentingan terkait kebijakan sektor hulu migas di Kementerian ESDM. "Kami selalu bilang punya dua telinga untuk bisa dua kali lebih banyak mendengar daripada berbicara," kata Arcandra, Rabu (1/2).

Dalam empat tahun terakhir lelang blok migas, pemenang terbanyak pada tahun 2014. Dari empat 13 blok migas yang ditawarkan, laku delapan blok. Besarnya animo para investor migas itu seiring tingginya harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang kala itu mencapai US$ 96,5 per barel.

Namun, setahun berikutnya, tidak ada satu pun pemenang dari lelang delapan blok migas. Meskipun, sebelumnya ada dua kontraktor yang mengajukan penawaran. Mereka gagal menang karena menawar lebih rendah dari persyaratan pemerintah. Anjloknya animo investor turut dipengaruhi oleh rendahnya harga ICP kala itu, yang turun ke level US$ 49,2 per barel.

Tahun 2016, harga minyak maish rendah, malah turun menjadi US$ 40,13 per barel. Meski begitu, pemerintah tetap melelang 14 blok migas. Untuk menarik investor, pemerintah menerapkan skema baru yakni “open bid split”. Dengan skema ini, kontraktor bisa mengajukan penawaran bonus tanda tangan dan bagi hasil (split).

Lelang tahun 2016 sebenarnya mendapatkan pemenang yakni Azipac di Blok Oti. Namun, ketika diumumkan, pemerintah meminta pemenang menggunakan skema gross split, meskipun syarat awal tidak ada kewajiban itu.

Azipac sempat meminta tambahan waktu untuk mengkaji skema gross split sebelum kontrak ditandatangani. Namun, akhirnya, mereka memutuskan tidak melanjutkan proses penandatanganan kontrak.

Sedangkan pada tahun 2017, pemerintah memutuskan melelang 15 blok migas dengan syarat pemenangnya akan menggunakan skema gross split. Kebetulan, harga minyak mulai menunjukkan kenaikan hingga akhir tahun ICP rata-rata mencapai US$ 51,19 per barel.

Dari 15 blok tersebut, pemerintah berhasil menggaet lima pemenang. Mereka adalah Mubadala Petroleum (SE Asia) Ltd di Blok Andaman I, konsorsium Premier Oil Far East Ltd, KrissEnergy (Andaman II) BV Mubadala Petroleum (Andaman II JSA) Ltd di Andaman II,  PT Tansri Madjid Energi yang memenangkan lelang blok Merak-Lampung. Kemudian ada Saka Energi yang mendapatkan Blok Pekawai dan West Yamdena.

Gross Split masih perlu pembuktian

Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolijn Wajong mengatakan lelang migas tahun 2017 menjadi langkah awal yang bagus bagi pemerintah. Namun, dia berharap semakin banyak perusahaan yang mengikuti lelang blok migas ke depan.

Di satu sisi, menurut Marjolijn, skema gross split masih perlu pembuktian untuk bisa menarik investasi di sektor hulu migas. "Masih harus buktikan. Kan belum diimplementasikan kecuali di Blok ONWJ, tapi kami harapkan baik," ujar dia

Salah satu pemenang lelang blok migas 2017, Saka Energi mengaku pertimbangan mengikuti lelang adalah potensi blok yang diincar. Jadi, bukan adanya skema kontrak gross split. VP Exploration PT Saka Energi Indonesia Rovicky Putrohari mengatakan jika potensi blok besar, skema apapun kemungkinan masih menarik.

Namun jika boleh memilih, Saka menginginkan memakai kontrak bagi hasil yang menggunakan cost recovery (penggantian biaya investasi) karena lebih memberikan kepastian. "Jelas lebih enak cost recovery," kata Rovicky.

Di sisi lain, tren kenaikan harga minyak hanya merupakan faktor pengaruh tidak langsung kepada hasil lelang tersebut. Sebab, kontraktor saat ini masih harus melakukan eksplorasi. Artinya, harga minyak masih akan berubah ketika blok itu berproduksi beberapa tahun kemudian.

Menurut Rovicky, ketika harga minyak rendah justru biaya operasional blok menjadi rendah. ”Saya berharapnya nanti ketika produksi justru harga tinggi. Kalau sekarang tidak terlalu berpengaruh,” ujar dia.

migas

 

Faktor iklim investasi 

Pendiri Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan jumlah pemenang lelang blok migas belum bisa diklaim sebagai indikator membaiknya iklim investasi. “Itu sebenarnya belum menandakan apa pun, tidak berarti iklim investasi memang sudah baik dan mereka benar-benar tertarik untuk berinvestasi di sini,” ujar dia.

Menurut Pri, pemenang lelang itu tidak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan cadangan dan produksi di Indonesia. Sejak tahun 2002 hingga 2014, lelang blok migas konvensional selalu mendapatkan pemenang. Bahkan tahun 2008, dari 56 blok yang dilelang, bisa laku 38.

Namun, produksi minyak yang tahun 2002 bisa mencapai 1.200-an barel per hari (bph) turun jadi 801,4 ribu bph di tahun 2017. Sedangkan cadangan terbukti minyak Indonesia yang tinggal 3,6 miliar barel (termasuk kondensat) hanya 0,2% dari total cadangan minyak dunia sebesar 1.684 miliar barel.

Pri menilai ada beberapa faktor selain peningkatan harga minyak yang membuat kontraktor memasukkan dokumen. Bisa saja itu keputusan sementara dari investor, sebelum melihat peluang lebih baik di negara lain dan kemudian memindahkan investasinya. "Jadi, sama sekali tidak mengindikasikan bahwa gross split itu sudah diminati dibandingan kontrak yang menggunakan cost recovery," kata dia.

Selain itu, Pri menyoroti besaran komitmen pasti yang diberikan pemenang lelang. Pri menduga, tidak semua akan melakukan eksplorasi. Ini karena total komitmen pasti dari lima perusahaan hanya US$ 23 juta. Padahal biaya satu sumur eskplorasi saat ini bisa  US$ 10 juta.

(Baca: Lima Blok Migas Laku Dilelang, Negara Meraup Penerimaan Rp 359 Miliar)

Di sisi lain menurut Pri, perusahaan yang mengikuti lelang tahun lalu juga tidak ada besar. "Dari skala investasinya sudah sangat jelas, bahwa berarti belum menarik. Jadi, yang lebih penting itu bukan kuantitas peminat atau kuantitas blok yang laku, tapi kualitas peminat dan kualitas blok yang digarap," kata Pri.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha