Persaingan Sengit Grab dan Go-Jek Bangun Aplikasi Super

Penulis: Yuliawati

Editor: Amal Ihsan Hadian

Rabu 31/10/2018, 12.18 WIB

Dana segar terus mengalir ke Grab dan Go-Jek. Keduanya bersaing membangun aplikasi super.

online web site shopping internet process-telaah
sentavio/123RF
Ilustrasi aplikasi yang menyediakan segala kebutuhan konsumen seperti yang dikembangkan Grab dan Go-Jek.

Di tengah rangkaian demontrasi para supir di Jakarta, Grab mendapatkan pendanaan terbaru sebesar US$ 200 juta (sekitar Rp 3 triliun) pada Senin (29/10). Dalam waktu yang berdekatan, Go-Jek dikabarkan mendapatkan komitmen senilai US $ 1,2 miliar (sekitar Rp 18,2 triliun) dari investor yang sudah ada seperti Google, Tencent, dan JD.

Grab mendapat dana segar yang berasal dari perusahaan travel asal Amerika Serikat Booking Holdings. Langkah ini semakin memperkuat langkah Grab sebagai perusahaan transportasi online yang bertransformasi menjadi aplikasi super (SuperApp).

Pendanaan ini sekaligus kerja sama strategis yang memungkinkan pengguna Grab membeli layanan perjalanan milik Booking Holdings langsung dari aplikasi Grab dengan pembayaran GrabPay.

Sebaliknya, pengguna Booking Holdings dapat memesan kendaraan Grab ketika berwisata ke Asia Tenggara. Booking Holdings merupakan perusahaan di balik layanan perjalanan terkenal, seperti Bookings.com, Agoda, KAYAK, dan Priceline.

(Baca juga: Grab Sediakan 7 Layanan untuk Gaet 20 Juta Turis Asing)

Grab menyatakan kerja sama ini akan memberikan kemudahan dan solusi perjalanan bagi para pelancong di Asia Tenggara dan dunia. Apalagi pasar perjalanan online di Asia Tenggara diperkirakan akan tumbuh tiga kali lipat pada 2025.

“Investasi Booking ke Grab adalah kepercayaan terhadap kemampuan kami yang berkelanjutan untuk mengeksekusi dan memperluas berbagai layanan online to offline,” kata Presiden Grab, Ming Maa dalam keterangan tertulis, Senin (29/10).

Pendanaan dari Booking Holding merupakan salah satu dari rangkaian dana segar yang mengalir ke perusahaan tersebut sejak akhir tahun lalu. Pada Januari 2018 lalu, Grab menutup putaran pendanaan senilai US$ 2,5 miliar dari SoftBank dan Didi Chuxing.  Sebelumnya, Grab juga mendapat suntikan dana besar dari Toyota Motor Corporation (Toyota) senilai US$1 miliar (sekitar Rp14 triliun) pada Agustus 2017.

Beragam investasi yang masuk membuat valuasi Grab mencapai US$ 6 miliar.  Pendanaan pun diperkirakan akan terus bertambah, Grab bakal mendapatkan pendanaan tambahan sekitar US$ 1 miliar hingga akhir tahun.  

(Baca: Persaingan Go-Jek dan Grab Melebar ke Bisnis Konten dan Investasi)

Grab bakal memprioritaskan dana yang diterima untuk melanjutkan investasi di Indonesia. Grab saat ini memiliki lebih dari 7,1 juta wirausaha mikro di platformnya, lebih dari separuhnya tinggal di Indonesia.

Meski  setelah mengakuisisi Uber,  Grab menjadi terdepan di Asia Tenggara, namun posisinya masih berada di bawah bayang-bayang Go-Jek untuk pasar Indonesia. Bahkan, apabila komitmen investasi baru Go-Jek terealisasi, valuasi bakal mencapai sekitar US$ 9 miliar, melampaui Grab. 

Pendanaan yang diterima kedua perusahaan ini bakal semakin memperketat persaingan. Kedua perusahaan ini pun sama-sama berambisi mengembangkan aplikasi super (SuperApp) yang dapat memenuhi segala kebutuhan penggunanya.

Persaingan Aplikasi Super

Pada Juli lalu, Grab meluncurkan GrabPlatform, sebagai langkah menjadi ‘everyday superapp’ pertama di Asia Tenggara. Lewat platform ini, Grab menyediakan beragam layanan dan informasi yang relevan dengan kebutuhan pengguna.

Grabplatform ini terbuka untuk mitra lain dalam menciptakan berbagai layanan. Untuk itu, Grab menyediakan serangkaian antarmuka pemrograman aplikasi (application programming interface/API).

Pendiri dan CEO Grab Anthony Tan mengatakan Grab telah mengembangkan teknologi tersebut sejak berdiri pada Juni 2012. Namun, pada Juli lalu mereka benar-benar siap meluncurkannya.

“Memperkuat nilai ekonomi bagi seluruh pengguna lebih dari yang pernah kami ciptakan sebelumnya,” kata Anthony Tan, Juli lalu.

Grabplatform ini disambut hangat para mitra kerja strategis yang menjalin kerja sama dengan Grab. Pada Juli lalu, diluncurkan GrabFresh, hasil kerja sama Grab dengan HappyFresh, perusahaan yang menyediakan jasa antar belanjaan dan kebutuhan rumah tangga dari jaringan supermarket.

OVO
Grab bekerja sama dengan OVO. 

 

Menyusul pada Agustus lalu, Grab mengumumkan unit bisnis terbarunya bernama GrabAds yang memberikan ruang bagi pengiklan memanfaatkan berbagai armada Grab. Di Indonesia GrabAds bekerja sama dengan StickEarn dan Karta dalam pemasangan konten iklan/stiker di kendaraan mitra pengemudi.

Langkah terbaru Grab bekerja sama dengan Ping An Good Doctor untuk memberikan layanan kesehatan online di Asia Tenggara. Ping An Good Doctor merupakan perusahaan kesehatan online asal Tiongkok yang kini memiliki 200 juta pengguna.

Kerja sama patungan ini akan memungkinkan pelanggan mendapatkan layanan medis terpadu lewat platform Grab. Layanan akan diluncurkan di beberapa negara Asia Tenggara pada kuartal pertama tahun depan.

(Baca juga: Otoritas Singapura Denda Grab dan Uber Rp 142 Miliar)

Berbagai kerja sama ini menambah deretan layanan yang telah tersedia di platform Grab. Di antaranya GrabExpress untuk logistik, GrabProfiles untuk otentikasi pengguna, GrabDaily untuk konten berita bekerja sama dengan Yahoo, dan GrabTV.

Selain itu Grab mendirikan Grab Ventures dengan modal Rp 3 triliun yang akan memberikan pembiayaan kepada 3-5 startup Indonesia sampai 2020. Di luar itu, Grab juga bermitra dengan Microsoft dalam pemanfaatan cloud dan teknologi AI dan kerja sama dengan Mastercard untuk pembayaran kredit melalui GrabPay.

Strategi Grab untuk menciptakan “everyday superapp” bukanlah sebuah ide yang baru. Langkah ini telah ditempuh oleh Go-Jek, dan aplikasi asal Tiongkok WeChat.

Go-Jek Vietnam, Go-Viet
Go-Jek Vietnam, Go-Viet (Facebook/Go-Viet)

Go-Jek pun telah selangkah di depan dalam mengembangkan beragam layanan unik seperti Go-Massage, Go-Auto, Go-Mart, Go-Glam, dan Go-Med. Beberapa konten baru yang tampak dalam aplikasi Go-Jek adalah tips and trick a la Gozalia, ramalan Mama Anabel, hingga GojekStories yang berisi kisah-kisah inspiratif para mitra pengemudi.

Selain bersaing di bisnis konten, Go-Jek pun menyusul Grab memiliki bisnis ventura untuk mengakuisisi startup baru yang dapat menunjang platform-nya.

Go-Jek bereksperimen dengan memunculkan konten berita Kumparan pada aplikasinya. Langkah ini pun memunculkan isu bahwa Go-Jek melalui Go-Ventures telah berinvestasi pada portal berita digital tersebut.

Go-Jek juga merilis Go-Studio yang memproduksi film untuk kemudian ditampilkan lewat Go-Play. Go-Studio sudah mendanai empat film yakni Kulari Ke Pantai, Buffalo Boys, Keluarga Cemara, serta Aruna dan Lidahnya.

Persaingan dua perusahaan yang berbasis transportasi online ini akan semakin ketat. Masih sulit untuk menebak siapa yang akan memenangkan laga. Keduanya sama-sama memiliki dukungan dana besar dan kreativitas tak terbatas untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha