Turbulensi Bisnis Penerbangan di Pusaran Pandemi Corona

Penulis: Muhammad Ahsan Ridhoi

27/3/2020, 10.05 WIB

Pandemi corona membuat industri penerbangan global kehilangan penumpang sebesar Rp 469 triliun pada tahun ini.

Penutupan penerbangan akibat corona
123rf/Chalermsuk Bootvises
Pandemi corona menghantam industri penerbangan.

Meluasnya pandemi virus corona telah berdampak terhadap perekonomian dunia. Ancaman resesi di depan mata, dan beberapa sektor usaha di titik kritis. Bisnis penerbangan merupakan sektor usaha yang terpukul pertama dan paling dalam. Pandemi corona membuat industri penerbangan global kehilangan penumpang sebesar Rp 469 triliun tahun ini. 

Data John Hopkins University & Medicine mencatat Covid-19 telah menyebar ke 175 negara hingga Jumat, 27 Maret atau bertambah enam negara dari empat hari sebelumnya. Angka korban secara global saat ini sebanyak 531.708 orang terinfeksi positif corona yang menyebabkan 24.053 orang meninggal dunia dan 122.203 sembuh.

Penyebaran virus corona ini mengguncang ekonomi dunia. Pasar saham global anjlok akibat Covid-19 yang mulai merebak pada 31 Desember lalu. Data Bloomberg pada 19 Maret lalu mencatat nilai saham FTSE dan Dow Jones mengalami penurunan terendah sejak 1987. Turun 34,1% untuk FTSE dan 31,1% untuk Dow Jones.

Data Bloomberg juga menyebut bank sentral entral di 50 negara dunia merespons kondisi ini dengan memangkas angka suku bunga. Salah duanya adalah The US Federal Reserve dan Bank of England. Secara teori, kebijakan ini dikeluarkan Bank Sentral agar pinjaman lebih murah dan dapat menstimulus perekonomian.

Selain berdampak pada bursa dan sektor keuangan, pandemi corona juga menekan sektor riil. Industri penerbangan adalah salah satu yang terpukul. Data OAG Aviation World Wide menunjukkan tren kapasitas jadwal terbang secara global yang terus menurun selama 12 minggu ke belakang (6 Januari-23 Maret) dibandingkan tahun 2019 pada periode sama.

Pada 3 Februari kapasitas jadwal terbang global lebih rendah 3,6% dibanding tahun sebelumnya pada tanggal sama. Angka itu terus lebih rendah setelahnya. Titik paling dalam pada 23 Maret sebesar 28,7% lebih rendah dibanding tanggal sama pada 2019.

(Baca: Sri Mulyani: IMF Sebut Ekonomi Global Tahun Ini Negatif Karena Corona)

Dari data tersebut diketahui pula Tiongkok mengalami penurunan kapasitas jadwal terbang terendah dibanding negara lain. Pada 17 Februari, Tiongkok mengalami penurunan sebesar 70,8% dibanding 2019 pada tanggal sama.

Namun, Tiongkok mengalami tren positif kapasitas jadwal terbang pada hari-hari selanjutnya. Pada 23 Maret, Tiongkok mengalami penurunan sebesar 37,5% dibanding tahun sebelumnya pada tanggal sama. Berbanding terbalik dengan Korea Selatan yang mengalami tren negatif kapasitas jadwal terbang dari penurunan sebsar 15,7% pada 17 Februari menjadi 55,7% pada 23 Maret dibanding tahun 2019 dalam rentang waktu sama.

Penurunan kapasitas jadwal terbang secara global tersebut adalah akibat kebijakan negara-negara dunia melarang perjalanan masuk dan keluar wilayahnya. Menurut data International Air Transport Association (IATA), lebih dari 100 negara menerbitkan larangan perjalanan masuk dan keluar wilayahnya. Termasuk memberlakukan larangan terbang dari dan ke wilayah tertentu.  

Contohnya, Amerika Serikat (AS) memberlakukan larangan bepergian ke dan dari wilayah 26 negara anggota Schengen Uni Eropa (EU) selama 30 hari dimulai 11 Maret lalu. Begitupun EU melarang seluruh anggota Schengen menerima dan melakukan penerbangan ke wilayah AS selama 30 hari terhitung 16 Maret lalu.

Industri Penerbangan Berpotensi Rugi Miliaran Dolar

IATA menghitung potensi kerugian US$ 20 miliar dari penerbangan penumpang akibat travel ban di rute AS-Schengen. Angka itu didapat dari sekitar 200 ribu penerbangan antara AS dan 26 negara Schengen dengan rata-rata 550 penerbangan per hari dalam kondisi normal.

Selain potensi kerugian dari rute AS-Schengen, IATA dalam publikasi berkala berjudul Initial Impact Assesment of The Novel Coronavirus juga memprediksi kerugian industri penerbangan global dari kehilangan penumpang pada 2020 akibat Corona berdasarkan simulasi dampak SARS pada 2003. Estimasi SARS mengalami kondisi terburuk setelah 1-3 bulan dan pulih setelah 6-7 bulan. 

Dalam publikasi pertamanya pada 20 Februari, IATA memprediksi kerugian industri penerbangan global akibat kehilangan penumpang sebesar US$ 29,3 miliar pada 2020 dengan kerugian tertinggi di wilayah Asia Pasifik sebesar US$ 27,8 miliar. Kerugian besar di Asia Pasifik adalah dampak pasar domestik Tiongkok yang berpotensi mengalami kerugian US$ 12,8 miliar dari kehilangan penumpang sepanjang 2020.  

(Baca: Senat AS Dukung Trump Gelontorkan Stimulus Rp 32.000 T Hadapi Corona)

Publikasi kedua IATA pada 5 Maret 2020 memberikan dua skenario potensi kerugian industri penerbangan global berdasarkan persebaran Covid-19. Skenario pertama berjudul Limited Spread yang menghitung variabel negara-negara dengan minimal 100 orang terkonfirmasi positif Corona, menghasilkan potensi kerugian sebesar US$ 63 miliar dari kehilangan penumpang pada 2020.

Sementara skenario kedua berjudul Extensive Spread yang memasukkan negara dengan 10 orang atau lebih positif Corona, menghasilkan potensi kerugian sebesar US$ 113 miliar dari kehilangan penumpang sepanjang 2020.

IATA mempublikasikan prediksi termutakhirnya pada 24 Maret lalu. Potensi kerugian akibat kehilangan penumpang sepanjang 2020 adalah sebesar US$ 252 miliar.  Angka tersebut didapat berdasarkan data mutakhir jumlah negara terdampak Corona serta kebijakan lebih dari 100 negara menutup akses penerbangan dari dan ke wilayahnya atau setara 98% pasar penerbangan dunia.

Menurut IATA, potensi kerugian tersebut bisa membuat maskapai bangkrut. Karena, masa pemulihan setidaknya memakan waktu 7 bulan dengan menggunakan stimulus fiskal pemerintah. Sedangkan, secara umum maskapai hanya memiliki persediaan dana produksi selama dua bulan untuk memulai tahun.

Dari data IATA dapat dimengerti alasan CEO Ryanair, Michael O’Leary mengambil kebijakan untuk menghemat uang tunai di tengah krisis Corona. “Jika kami harus beroperasi untuk tiga, enam, sembilan, atau bahkan dua belas bulan tanpa penerbangan dan keuntungan, dengan apa kami akan bertahan?” katanya kepada Reuters (21/3).

Maskapai Indonesia Turut Lesu

Kondisi global turut dirasakan maskapai asal Indonesia. Kebijakan pemerintah menunda visa perjalanan dari dan ke luar Indonesia sampai 20 April dan larangan terbang ke Tiongkok telah berimbas kepada jumlah penerbangan internasional.

Faik Fahmi, Presiden Direktur Angkasa Pura I yang mengoperasikan 15 bandara di Indonesia, menyatakan potensi kerugian mencapai Rp 40 miliar per bulan hanya dari penerbangan rute Bali-Tiongkok. Ada 38 rute Bali-Tiongkok per hari dengan estimasi 6800 penumpang.

Ditambah larangan sementara umrah dari Indonesia oleh Arab Saudi yang berpotensi menghilangkan penerbangan 80 ribu orang per bulan sesuai data Asosiasi Muslim Pengusaha Haji dan Umrah Indonesia (Amphuri).  

Perusahaan penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk mengaku telah terimbas. Wakil Presiden Garuda, Mitra Piranti kepada Nikkei Asian Review pada 5 Maret menyatakan pihaknya harus memangkas penerbangan rute Indonesia-Singapura dari sembilan menjadi tiga per hari. Pemangkasan juga dilakukan untuk rute ke Seoul dan Hong Kong. Sementara penerbangan ke Tiongkok dihentikan seluruhnya.

Direktur Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam keterangan resminya menyatakan kondisi pembatasan penerbangan terjadi saat perusahaannya sedang mengalami permasalahan berat. Berdasarkan laporan keuangan per September 2019, Garuda Indonesia memiliki utang yang akan jatuh tempo pada Juni 2020 berupa sukuk global senilai US$ 500 juta. Rasio liabilitas terhadap ekuitas perusahaan mencapai 3,84 kali.  

(Baca: Industri Penerbangan Dunia Dipukul Corona, Potensi Rugi US$ 252 Miliar)

Irfan menyatakan, terkait permasalahan ini pihaknya sedang berdiskusi dengan Kementerian BUMN dan para kreditur unutk merestrukturisasi utang jangka pendek itu dan mencoba bernegoisasi dengan perusahaan sewa pesawat.

Menteri BUMN Erick Thohir pada 20 Maret telah meminta kepada bank-bank BUMN yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara untuk membantu Garuda Indonesia. Erick mengaku telah mengetahui kondisi kelesuan Garuda Indonesia akibat Corona.  

Lion Air sebagai maskapai swasta yang menurut data Kemenhub mampu mengungguli Garuda Indonesia dalam pengangkutan penumpang domestik pada 2016, pun harus memangkas penerbangannya akibat Corona. Lion menghentikan penerbangan dari Denpasar, Manado, Surabaya, Jakarta, dan Batam tujuan Tiongkok. Lion juga menghentikan seluruh penerbangan ibadah umrah dan menuju Malaysia.

Namun Komunikasi Strategis Korporat Lion Air, Danang Mandala Prihantoro enggan mengungkap data kerugian perusahaannya akibat kebijakan ini. Kepada Katadata.co.id pada 26 Maret ia hanya mengatakan, “terkait kebijakan strategis internal menghadapi situasi/kondisi saat ini yang terjadi masih dibahas oleh manajemen internal.”

“Saat ini secara operasional masih berjalan normal,” kata Danang.      

Sementara itu, Ketua Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja dalam keterangan tertulisnya menyatakan meminta keringanan pembayaran biaya kebandarudaraan kepada PT Angkasa Pura I dan II, biaya pelayanan navigasi kepada Perum Airnav, hingga penundaan pembayaran pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan.

Permintaan ini diajukan pada 17 Maret dengan harapan maskapai tetap bisa melanjutkan operasional meskipun jumlah penumpang turun.

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal menilai maskapai untuk sementara bisa berharap kepada penerbangan domestik dalam menutupi kebutuhan operasional, di samping mengambil kebijakan rotasi jadwal pegawai sampai kondisi membaik.

Pendapat Faisal sesuai dengan data OAG Aviation Worlwide per 9 Maret, bahwa pasar domestik penerbangan Indonesia relatif stabil di angka 3 juta tempat duduk terisi per minggu.

Dampak ke Sektor Pariwisata

Meskipun begitu, Faisal menilai kemerosotan di sektor penerbangan dapat berdampak pada sektor pariwisata yang terkoneksi langsung. Sementara, sektor pariwisata menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia selain migas. Data Kementerian Pariwisata menyatakan kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB pada 2019 sebesar 4,8% meningkat 0,3% dari tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut termasuk dipengaruhi oleh wisatawan mancanegara. Dari seluruh turis mancanegara yang berkunjung, data BPS menyatakan wisatawan asal Tiongkok melakukan 2,07 juta kunjungan ke Indonesia tahun lalu dengan menghabiskan biaya US$ 1.400 per kunjungan. Pada Januari atau sebelum larangan kunjungan dari Tiongkok berlaku, tercatat 181.281 kunjungan wisatawan dari negara itu ke Indonesia.

Tak ayal Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan pada 25 Februari menyebut potensi kehilangan devisa dari turis Tiongkok akibat Corona mencapai US$ 2,8 miliar. Sedangkan, secara keseluruhan potensi kehilangan devisa dari sektor pariwisata mencapai US$ 4 miliar.

“Saya rasa tidak ada cara untuk memperbaiki ini selain menangani sumbernya, itu virus Corona,” kata Faisal.   

(Baca: Corona Meluas, China Larang Warga Asing Masuk Mulai Nanti Malam)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha