23 Perusahaan Antri Investasi Hilirisasi Tambang Senilai Rp 482 T

Tia Dwitiani Komalasari
7 Desember 2022, 11:03
Aktivitas peleburan nikel di pabrik feronikel PT Antam Tbk, Unit Bisnis Pertambangan Nikel Sulawesi Tenggara
PT Antam Tbk
Aktivitas peleburan nikel di pabrik feronikel PT Antam Tbk, Unit Bisnis Pertambangan Nikel Sulawesi Tenggara

Sebanyak 23 perusahaan raksasa baik dalam maupun luar negeri masuk dalam pipeline investasi hilirisasi tambang senilai total US$ 30,9 miliar setara Rp 482 triliun berdasarkan nilai tukar Rp 15.615 per dolar AS. Perusahaan tersebut sedang dalam tahap kontruksi atau menunggu dan atau menunggu persetujuan perizinan.

"Hal ini yang harus kita manfaatkan dengan mempercepat pemberian perizinan dan fasilitas agar realisasi tersebut lebih cepat," kata Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi, Septian Hario Seto, saat membuka Forum Kemitraan Investasi di Jakarta, Rabu (7/12).

23 Perusahaan tersebut adalah:

Kalimantan

1. Adaro Alumunium Indonesia senilai US$ 2.000
2. Tongkum Petrochemical Indonesia senilai US$ 9.900
3. Anugrah Barokah Cakrawala senilai US$ 453

Sulawesi

4. HPAL Pomalaa (Vale-Ford-Huayou) senilai US$ 3.500
5. CNGR Pomalaa New Energy Materials senilai US$ 1.200
6. Zhongtsing New Energy senilai US$ 787
7. QMB HPAL Expansion senilai US$ 777
8. BTR Anode Project senilai US$ 478
9. Chengkok Lithium Project senilai US$ 350
10. IKIP HPAL Project senilai US$ 2.750

Maluku

11. HPAL Sonic Bay (Eramet-BASF) senilai US$ 2.200
12. Huasan Nickel Cobalt senilai US$ 2.082
13. CNGR Xingquan New Energy senilai US$ 502
14. CNGR Xingqiu New Energy senilai US$ 500
15. CNGR Xinxin New Energy senilai US$ 488
16. Niccle Metal Industry senilai US$ 460
17. Maluku Utara Metal Industry senilai US$ 437
18. Jaman New Energy senilai US$ 428
19. Chengmach Nickel Indonesia senilai US$ 424
20. Universe Smelters Metal Industri senilai US$ 417
21. Westrong Metal Industri senilai US$ 389
22. Jade Bay Metal Industri senilai US$ 256
23. Halmahera Persada Legend Expansion senilai US$ 1.200

Septian mengatakan, hilirisasi nikel menjadi besi dan baja, serta bahan baku baterai telah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan nilai ekspor.

Nilai ekspor turunan nikel Januari-Oktober 2022 mencapai US$ 28, 3 miliar. Angka tersebut sudah melampaui nilai ekspor turunan nikel sepanjang 2021 yang mencapai US$ 22,7 miliar.

Sementara nilai ekspor besi dan baja mencapai US$ 23,16 sepanjang Januari-Oktober 2022, naik dari ekspor besi dan baja sepanjang 2021 sebesar US$ 23,16.

Begitu juga dengan nilai ekspor MHP atau bahan baku baterai mencapai US$ 1,74 miliar pada Januari-Oktober 2022. Nilai tersebut naik dibandingkan ekspor MHP sepanjang 2021 mencapai US$ 0,31 miliar.

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait