Hilirisasi Nikel, Tembaga, Berpotensi Kerek Konsumsi Listrik Nasional

Muhamad Fajar Riyandanu
30 November 2022, 18:34
smelter, hilirisasi, tembaga, nikel, konsumsi listrik
Wahyu Dwi Jayanti | KATADATA
Suasana pabrik pemurni tembaga PT Smelting, Gresik, Jawa Timur, Kamis (20/6/2019).

Upaya pemerintah mendorong hilirisasi komoditas tambang di dalam negeri berpotensi mengerek konsumsi listrik di dalam negeri. Selain untuk operasional smelter, konsumsi listrik akan meningkat melalui tren elektrifikasi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan implementasi hilirisasi pada bijih nikel berpotensi untuk meningkatkan serapan listrik domestik lewat hasil komoditas hilir berupa baterai, sistem penyimpanan atau storage system pada pembangkit energi terbarukan intermiten, hingga barang elektronik.

"Nikel ke depan sangat penting untuk produksi baterai, storage system dan bisa menjadi komponen elektronik," kata Arifin dalam Rapat Koordinasi Nasional Investasi 2022 pada Rabu (30/11).

Hilirisasi bijih tembaga juga dapat meningkatkan konsumsi listrik nasional. Menurut Arifin, pengolahan bijih tembaga yang sudah diolah menjadi produk akhir seperti kebel tembaga dapat berperan penting dalam proses transisi energi, terutama pada penyediaan komponen transmisi dan kabel jaringan.

"Tembaga ini penting untuk mendukung program energi trasisi ke depan, karena tembaga ini dipakai sebagai mineral untuk melaksanakan transmisi kita, kabel-kabel itu kalau gak ada tembaga gak jadi kabel," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Arifin memaparkan potensi sumber daya dan cadangan mineral yang terkandung dalam perut bumi Indonesia. Untuk nikel, Indonesia memiliki cadangan yang bisa dimanfaatkan sebesar 5,7 miliar ton dari total 17,69 miliar ton. "Masih ada 12 miliar ton yang harus kita buktikan barangnya itu ada apa tidak," ujarnya.

Selanjutnya dari sisi mineral tembaga, mantan direktur utama PT Pupuk Indonesia ini mengatakan bahwa pemerintah telah mencatat cadangan bijih tembaga sebesar 3 miliar ton, sementara jumlah total sumber dayanya mencapai 15,96 miliar ton.

Total sumber daya tembaga tersebut berasal dari sejumlah lokasi pertambangan diantaranya tambang tembaga PT Freeport Indonesia di Papua, dan tambang tembaga di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi.

Lebih lanjut, Kementerian ESDM juga menulis cadangan bijih bauksit di dalam negeri sebayak 3,22 miliar ton dengan sumber daya sebesar 6,63 milar ton. Sementara untuk besaran cadangan timah berada di angka 6,84 miliar m3 dengan total sumber daya sebanyak 7,16 m3.

"Bicara hilirsasi, tentunya kita harus mengetahui apa yang akan kita bisa hilirisasikan dan punya gak kita barangnya," ujar Arifin.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait