Insentif PPnBM Dongkrak Penjualan Mobil di Atas 11% setelah Maret

CORE mengusulkan agar stimulus PPnBM lebih berkelanjutan maka insentif diberikan kepada produsen.
Agatha Olivia Victoria
27 April 2021, 21:01
PPnBM, kendaraan bermotor
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.
Pengunjung mengamati mobil-mobil yang dipamerkan dalam IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu (18/4/2021).

Penjualan kendaraan bermotor sudah mulai naik semenjak pemerintah mengeluarkan stimulus pajak penjualan barang mewah (PPnBM). Pada Maret 2021, penjualan kendaraan bermotor tumbuh 11% dibandingkan Maret 2020.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Mohammad Faisal memperkirakan penjualan mobil tumbuh di atas 11% selama April dan Mei ini. "Bisa mendorong penjualan kendaraan roda empat sampai akhir tahun," kata Faisal dalam CORE Media Discussion: Quarterly Review 2021 "Mendobrak Inersia Pemulihan Ekonomi", Selasa (27/4).

Dia menilai pemberian insentif memberi efek yang luar biasa positif. Apalagi, pada April terdapat perluasan insentif kepada kendaraan dengan kapasitas mesin di atas 1.500 cc.

Kendati demikian, Faisal megingatkan dampak stimulus PPnBM kemungkinan belum akan berkelanjutan. Pertama, kebanyakan konsumen hanya memanfaatkan adanya potongan yang diberikan pemerintah, sehingga permintaan bukan berdasarkan kebutuhan.

Kemudian, terdapat tahapan untuk diskon yang diberikan sehingga penjualan kendaraan bermotor akan menurun sejalan pengurangan insentif sampai akhir tahun. "Artinya bisa meningkatkan penjualan tahun ini, tapi saat masa diskonnya habis, penjualan akan kembali ke kondisi semula sebelum diberikan stimulus," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah memberikan diskon PPnBM 100% pada 1 Maret-31 Mei 2021. Selanjutnya, insentif tersebut akan dikurangi secara bertahap. Pada Juni hingga Agustus pemerintah akan menanggung 50% PPnBM dan September–November 25%. Insentif ini berlaku untuk kendaraan penumpang 4x2, 1.500 cc ke bawah, dan diproduksi di Indonesia dengan kandungan lokal 70%.

Kedua, kontribusi sektor otomotif, relatif kecil atau hanya 3% terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketiga, sektor otomotif sebelum pandemi sudah relatif lesu karena penjualan masih beriorientasi ke pasar domestik. Ekspor otomotif perlu terus didorong karena Indonesia sudah tertinggal dari banyak negara, salah satunya Thailand.

Faisal mengusulkan agar stimulus pajak bisa lebih berkelanjutan jika insentif diberikan kepada produsen. Misalnya, memberikan stimulus bagi penciptaan lapangan kerja di sektor otomotif hingga memperbanyak program-program padat karya agar tidak hanya meningkatkan daya beli tapi juga produktivitas.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil wholesales dari pabrik ke dealer Maret 2021 mencapai 84.910 unit, naik 72,57% dibandingkan Februari yang hanya 49.202 unit. Sedangkan penjualan retail dari dealer ke konsumen pada bulan lalu tercatat sebanyak 77.511 unit. Angka ini naik 65,1% jika dibandingkan dengan penjualan Februari 2021, yakni 46.943 unit.



Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto mengatakan program relaksasi PPnBM sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ia mengharapkan penjualan kendaraan bisa terus meningkat dan turut mendorong pemulihan ekonomi. “Sehingga produksi kendaraan dan pabrik komponennya dapat bekerja secara normal dan tidak perlu ada PHK,” katanya kepada Katadata.do.id, Kamis, (15/4).

Tak hanya secara bulanan, PPnBM 0% yang digulirkan pemerintah juga berhasil mendorong penjualan mobil secara tahunan. Gaikindo mencatat, wholesales pada Maret 2021 tumbuh 10,5%, sedangkan penjualan retail naik 28,2% dibandingkan Maret 2020.

Meski demikian, total penjualan mobil pada kuartal pertama tahun ini masih sedikit tertekan dibandingkan tahun lalu. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, wholesales roda empat meraih 187.021 unit, turun 21,1% dibandingkan kuartal I/2020.

Advertisement

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait