Pengusaha Nilai Pelonggaran PPKM Level 4 Bisa Genjot Produksi

Sistem jam kerja yang berlaku selama PPKM level 4 aturan lama cukup menyulitkan pabrik dalam berproduksi.
Image title
18 Agustus 2021, 14:12
ppkm level 4, produksi,
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Suasana pusat perbelanjaan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, (2/7/2021).

Pemerintah memberikan pelonggaran terhadap aktivitas masyarakat dalam perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 4 Jawa-Bali. Pelonggaran terbaru di antaranya menerapkan uji coba operasional terhadap perusahaan yang berorientasi ekspor dan domestik.

Perusahaan kategori tersebut dapat beroperasi 100% dengan membagi jadwal jam kerja atau shift menjadi dua kali. Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakrie mengharapkan uji coba ini mampu meningkatkan produksi yang selama ini tertekan akibat pemberlakuan PPKM.

“Harapan kami uji coba ini bisa semakin diperluas sehingga pabrik-pabrik bisa langsung jalan 100% dan kapasitas produksi juga dapat kembali kita tingkatkan untuk memenuhi permintaan,” kata Firman kepada Katadata.co.id, Rabu (18/8).

Firman mengatakan industri alas kaki merupakan industri padat karya yang terbiasa beroperasi penuh. Sistem jam kerja yang berlaku selama PPKM level 4 aturan lama cukup menyulitkan pabrik dalam kegiatan produksi.

“Kemarin kami sudah coba melakukan dua jadwal kerja dengan kapasitas 50%, tapi dalam praktiknya kami justru kehilangan kapasitas produksi sekitar 10-20%, bahkan beberapa pabrik hail kualitasnya menurun,” kata dia.

Namun, pasar domestik dinilainya masih akan sulit dengan kondisi ritel-ritel yang tertekan karena belum diizinkan beroperasi penuh. Bahkan, banyak departemen store yang sudah menutup gerainya.

Akibatnya, tempat penyaluran produksi industri alas kaki semakin berkurang. Padahal, dampak tekanan dari pandemi setahun yang lalu baru dirasakan membaik pada Mei dan Juni 2021, yakni pada momen lebaran.

“Semoga insentif tetap diberikan untuk mendorong daya beli dan bisa menurunkan beban biaya produksi, sehingga recovery bisa lebih cepat,” katanya.

Adapun untuk pasar ekspor, industri alas kaki masih optimistis bisa tumbuh lebih dari 12,5% tahun ini karena demand yang juga masih tinggi sampai saat ini. Kendala yang dihadapi hanya soal kapasitas produksi saat masa PPKM level 4.

Firman mengatakan order atau pesanan masih didominasi dari pasar tradisional seperti Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, dan Tiongkok. Adapun produk dengan permintaan tertinggi yakni, sepatu olahraga, sepatu luar ruangan (outdoor shoes) dan sandal.

“Untuk demand sampai dengan saat ini masih bagus seiring dengan pemulihan ekonomi dan pandemi di negara utama tujuan ekspor kami," ujar dia.

Sebagaimana diketahui, pemerintah memberikan kelonggaran berupa uji coba kepada perusahaan orientasi ekspor dan domestik untuk beroperasi 100% dengan jadwal kerja dua kali.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, daftar perusahaan tersebut akan ditentukan oleh Kementerian Perindustrian. Sedangkan total karyawan yang mengikuti uji coba ini mencapai 390 ribu orang.

Dalam aturan PPKM sebelumnya, perusahaan orientasi ekspor masuk dalam sektor esensial. Di mana mereka bisa beroperasi dengan bukti Pemberitahuan Ekspor Barang dan dibatasi 50% staf pada pelayanan serta 25% untuk pendukung administrasi perkantoran.

 

 

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait