Survei BI: Optimisme Konsumen Turun Akibat Kurangnya Lapangan Kerja

Penurunan optimisme konsumen yang paling dalam pada ketersediaan lapangan kerja.
Agatha Olivia Victoria
12 Juni 2020, 12:55
survei BI, optimisme konsumen melemah, lapangan kerja
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww.
Konsumen berbelanja kebutuhan pangan di Carefour Lebak Bulus, Jakarta, Minggu (17/5/2020).

Survei Konsumen Bank Indonesia atau BI menunjukkan pelemahan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi masih terus berlanjut. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2020 sebesar 77,8 yang lebih rendah dibandingkan dengan April lalu sebesar 84,8.

Penurunan IKK disebabkan oleh penurunan dua indeks pembentuknya, terutama Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) yang turun menjadi 50,7. Sementara Indeks Ekspektasi Konsumen masih berada pada zona optimis dengan indeks 104,9 pada Mei, sedikit melemah dibandingkan 106,8 pada bulan sebelumnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menyebutkan pelemahan optimisme konsumen terjadi pada seluruh kategori responden, baik menurut tingkat pengeluaran maupun kategori kelompok usia.

"Melemahnya optimisme konsumen terutama disebabkan oleh menurunnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, dengan penurunan terdalam pada indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini," tulis Onny dalam keterangan resminya, Jumat (12/6).

(Baca juga: Survei BI: Konsumsi dan Cicilan Bulan Maret Turun, Simpanan Bank Naik)

Indeks Kondisi Ekonomi atau IKE pada Mei sebesar 50,7 ini lebih rendah data April sebesar 62,8. Menurunnya IKE disebabkan oleh penurunan seluruh komponen penyusunnya dengan penurunan indeks terdalam terjadi pada Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja yang menurun sebesar 13 poin dari 41,2 menjadi 28,2.

Secara spasial, melemahnya IKE terjadi di seluruh kota survei yakni 18 kota dengan penurunan terdalam di Makassar yang turun 42,1 poin, diikuti Mataram 35,6 poin, dan Manado 25,8 poin.

Penurunan indeks ketersediaan lapangan kerja seiring banyaknya tenaga kerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan oleh perusahaan sebagai dampak pandemi.

Berdasarkan data Kementerian Tenaga Kerja yang telah direkonsiliasi bersama BPJS Ketenagakerjaan per 27 Mei, jumlah tenaga kerja terdampak Covid-19, baik dirumahkan maupun terkena PHK sebanyak 1,79 juta pekerja.

Penurunan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja terjadi pada seluruh kategori pendidikan dan responden. Namun, penurunan terdalam pada responden dengan pendidikan SLTA dan Akademi, dan responden berusia di atas 60 tahun.

(Baca: Pendapatan Pekerja Manufaktur Hilang Rp 40 T Akibat Pandemi Corona)

Optimisme konsumen terhadap penghasilan saat ini dibandingkan 6 bulan sebelumnya melemah. Penyebabnya, penurunan penghasilan rutin maupun omset usaha selama diberlakukannya Pembatasan Sosail Berskala Besar pada Mei lalu.

Penurunan indeks terjadi pada seluruh kategori pengeluaran, terutama pada kelompok responden dengan tingkat pengeluaran di atas Rp 5 juta. Sedangkan menurut kategori usianya, penurunan indeks juga terjadi pada seluruh kategori usia respinden dengan penurunan terdalam pada responden berusia di atas 60 tahun.

Sejalan dengan penurunan keuakinan terhadap penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja saat ini, keyakinan konsumen turun untuk membeli barang tahan lama periode Mei. Terutama, pada jenis barang elektronik, furnitur, dan perabot rumah tangga.

Penurunan indeks terjadi pada seluruh kategori tingakt pengeluaran dan kategori usia, terdalam pada responden dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta dan pada responden berusia 51 - 60 tahun.

Advertisement

(Baca: Ekonom Ungkap Dua Kondisi Tidak Tepatnya Kebijakan BI Irit Cetak Uang)

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait