Konsolidasi Retail Grup Lippo, Mantan CEO Matahari Pimpin Hypermart

Pada semester I-2017, penjualan bersih Matahari Putra Prima Rp 6,72 triliun atau turun 3%.Bahkan, perusahaan menderita rugi bersih Rp 169,83 miliar.
Yura Syahrul
18 September 2017, 17:48
Hypermart
Katadata/Agung Samosir
Pembeli sedang memilih barang di pusat perbelanjaan Hypermart di Jakarta, 13 Maret 2013.

Sayap bisnis retail Grup Lippo tengah berbenah dengan melakukan konsolidasi internal. Langkah konsolidasi tersebut berupa rotasi di antara pimpinan anak-anak usaha di sektor retail.

Grup Lippo mendapuk William Travis Saucer sebagai Chief Executive Officer (CEO) PT Matahari Putra Prima Tbk. Ia mulai menjabat medio September ini hingga 12 bulan ke depan. Artinya, jabatan Saucer ini hanya bersifat sementara alias CEO interim hingga pemegang saham menemukan pimpinan baru untuk perusahaan pengelola retail modern besar atau hypermarket tersebut.

“Dewan Komisaris perusahaan memutuskan proses pencarian   segera dimulai, dipimpin oleh Presiden Komisaris, dengan misi mencari kandidat CEO yang permanen,” kata manajemen Matahari Putra Prima, Senin (18/9).

Menurut pihak manajemen, Saucer memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai pasar retail Indonesia dan internal perusahaan. Dengan begitu, dia dapat membimbing dan memimpin proses yang tepat untuk efisiensi dan pertumbuhan Matahari Putra Prima.

Saucer memang bukan orang baru di internal Grup Lippo. Ia telah bergabung dengan Grup Lippo sejak 2006, dan pernah memimpin perusahaan retail department store selaku Chief Executive PT Matahari Department Stores Tbk hingga tahun 2012.

Setahun kemudian, Saucer menjabat Komisaris Matahari Department Stores dan Komisaris Independen Matahari Putra Prima.

Sebelum ke Indonesia, Saucer berkarier di sejumlah perusahaan retail di Amerika Serikat. Ia memulai karier di JC Penney and Saks tahun 1973, dan telah menjabat beragam posisi kepemimpinan, termasuk sebagai CEO McRae’s pada 1998. Pengalamannya di bisnis retail Indonesia dan AS sudah lebih dari 37 tahun.

Ke depan, manajemen Matahari Putra Prima akan tetap fokus memperkuat bisnisnya lewat pemberian nilai tambah bagi pelanggan, inovasi dan meningkatkan efisiensi operasional.

Emiten berkode saham MPPA ini mengibarkan merek dagang Hypermart, yakni grup hypermarket yang mengoperasikan lebih dari 289 gerai multiformat di seluruh Indonesia. Saucer harus bekerja keras memoles perusahaan ini karena kinerjanya tidak memuaskan pada paruh pertama tahun ini.

Pada semester I-2017, penjualan bersih MPPA sebesar Rp 6,72 triliun atau turun 3% dibandingkan periode sama tahun lalu. Kinerja perusahaan pun terpukul oleh pembengkakan beban penjualan dan beban administrasi umum.

Alhasil, perusahaan menderita rugi bersih sebesar Rp 169,83 miliar, memburuk dibandingkan periode sama 2016 yang masih meraup laba bersih Rp 24,89 miliar. Adapun, laba bersih per saham MPPA minus Rp 32.

Di sisi lain, CEO MPPA sebelumnya, Noel Trinder, ditempatkan sebagai Kepala Divisi Consumer Retail Grup Lippo. Tinder pernah memimpin MPPA selama 10 tahun pada periode 2003-2013. Setahun kemudian, dia kembali menjadi CEO perusahaan tersebut.

Grup Lippo memiliki tiga anak usaha besar yang bergerak di bisnis retail. Selain MPPA, grup ini mempunyai Matahari Department Store yang memiliki 156 gerai dan mencetak laba bersih Rp 1,34 triliun atau naik 15,6% pada semester satu tahun ini.

Pada awal tahun 2015, Grup Lippo juga merambah ke bisnis perdagangan secara elektronik atau e-commerce dengan mendirikan mataharimall.com. Lewat PT Global Ecommerce Indonesia, Lippo menaruh modal awal US$ 500 juta. Saat ini, lapak di jaringan internet tersebut dipimpin oleh Hadi Wenas sebagai CEO.

Editor: Yura Syahrul

Video Pilihan

Artikel Terkait