Dua Investor Korsel Minati Proyek Pembangkit Listrik Senilai Rp 80 Triliun

Realisasi investasi Korsel pada semester I2015 naik 20 persen menjadi US 790 juta Padahal izin prinsipnya meningkat 39 persen menjadi US 148 miliar
Yura Syahrul
31 Agustus 2015, 14:58
Katadata
KATADATA

KATADATA ? Dua investor asing asal Korea Selatan (Korsel) mengaku tertarik dengan proyek pembangunan pembangkit listrik di Indonesia. Selain itu, investor asal Negeri Ginseng juga menaruh minat berinvestasi di sektor energi terbarukan.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani mengatakan, minat investor asing tersebut disampaikan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika mengunjungi Seoul, Korea Selatan, akhir pekan lalu. Dalam lawatan tersebut, Jusuf Kalla juga bertemu dengan Perdana Menteri dan Menteri Energi, Perdagangan dan Industri Korea Selatan.

Menurut Franky, dua investor berstatus badan usaha milik negara (BUMN) Korsel mengungkapkan secara spesifik ketertarikannya mengikuti tender proyek pembangkit listrik di Banten dan Jawa Barat. Kedua proyek itu masing-masing berkapasitas 2 x 1.000 Mega Watt (MW)  dengan total nilai investasi sekitar Rp 80 triliun.

Selain itu, satu perusahaan Korsel yang bergerak di bidang smart solution untuk penyediaan energi yang berasal dari energi terbarukan, tertarik masuk ke Indonesia. Mereka berencana membuat kantor perwakilan di Indonesia dan melakukan studi kelayakan untuk menyediakan tenaga listrik di daerah terpencil. ?Itu tindak lanjut dari pertemuan one-on-one dengan Wapres RI,? kata Franky dalam siaran pers BKPM, Minggu (30/8).

Advertisement

Animo investor Korsel terhadap Indonesia memang cukup tinggi. Berdasarkan catatan BKPM, realisasi investasi Korsel pada semester I-2015 naik 20 persen dari periode sama 2014 menjadi US$ 790 juta. Padahal, izin prinsip Korsel meningkat 39 persen pada paruh pertama tahun ini menjadi US$ 1,48 miliar.

Korsel salah satu dari lima negara dengan nilai investasi terbesar di Indonesia. Rasio realisasi investasi Korsel mencapai 64,5 persen. Salah satunya adalah pembangunan pabrik di Cikarang, Jawa Barat, oleh perusahaan raksasa dunia asal Korea di bidang industri peralatan telekomunikasi. Pabrik yang telah mengantongi izin prinsip penanaman modal dari BKPM senilai Rp 6 triliun tersebut tengah dalam proses konstruksi.

Menurut Franky, potensi investasi Korsel yang dapat ditarik ke Indonesia masih besar. Untuk membuka peluang yang lebih lebar, BKPM juga melakukan fungsi match making dalam pemasaran investasinya di Korsel. Salah satu wadahnya adalah acara business gathering yang dihadiri 200 pebisnis Korsel dan Indonesia. Melalui acara yang digelar akhir pekan lalu itu, BKPM memberikan akses seluas-luasnya kepada perusahaan-perusahaan Indonesia untuk bertemu dengan calon mitra bisnisnya dari Korsel. Mereka bergerak di berbagai bidang usaha, mulai dari energi, kimia dan petrokimia, farmasi, tekstil dan produk tekstil, industri makanan-minuman, industri alas kaki, perbankan dan pembiayaan, infrastruktur, pelabuhan, industri galangan kapal, pertambangan hingga minyak dan gas bumi (migas).

Kegiatan tersebut dipandang cukup efektif dalam memberikan akses kepada pengusaha Indonesia untuk mendapatkan prospek mitra bisnis yang memiliki kemampuan handal di bidang teknologi dan pendanaan. ?Ada beberapa perusahaan Korsel yang tertarik melakukan fact finding mission ke Indonesia, sebagai tindak lanjut pertemuan itu,? ujar Franky.

Reporter: Redaksi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait