Pertamina membeli gas dari Cheniere di 2014, yakni saat harga minyak dunia masih mencapai titik US$ 100 per barel. Sehingga gas tersebut masih kompetitif, untuk di bawa ke domestik.
Pertamina
Pertamina Arief Kamaludin|KATADATA

PT Pertamina (Persero) terancam tidak bisa menyerap gas alam cair (LNG) yang sudah dibeli dari Cheniere Energi Inc. Salah satu penyebabnya, hingga saat ini Pertamina belum mendapat kepastian mengenai izin impor LNG dari pemerintah.

Senior Vice President Gas and Power Pertamina Djohardi Angga Kusumah mengatakan saat ini perusahaan memiliki dua pertimbangan terkait penyerapan gas dari perusahaan asal Amerika Serikat tersebut. Dua hal tersebut adalah mengenai harga dan perizinan impor dari pemerintah.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Kargo Domestik Tak Laku, Kementerian Energi Tolak Impor LNG)

Dari tinjauan harga, impor gas ini dinilai tidak kompetitif saat ini. Pertamina membeli gas dari Cheniere pada 2014, yakni saat harga minyak dunia masih mencapai titik US$ 100 per barel. Sehingga gas tersebut masih kompetitif, untuk di bawa ke Indonesia. Namun, saat ini harga minyak terus menurun, bahkan berada di bawah US$ 50 per barel.

Di sisi lain juga Pertamina butuh kepastian izin impor dari pemerintah, agar gas tersebut bisa masuk ke dalam negeri. “Jadi kami mau mengevaluasi lagi, kalau memang kompetitif dan izin impornya bisa dilakukan kami bawa ke Indonesia untuk mengisi defisit pasokan LNG di 2019,” kata dia di Jakarta, Selasa (8/11).

(Baca: Terancam Defisit, Pertamina Mulai Impor LNG)

Untuk informasi, PT Pertamina (Persero) dan Corpus Christi Liquefaction, LLC, anak perusahaan dari Cheniere Energy Inc, menandatangani perjanjian jual beli (PJB) LNG kedua pada 1 Juli 2014 kemarin. Keduanya menyepakati tambahan pasokan sebesar 0,76 juta ton LNG per tahun selama 20 tahun dari Corpus Christi Liquefaction Terminal Train 2, Texas, Amerika Serikat mulai 2019.

Perjanjian ini merupakan yang kesepakatan kedua antara Pertamina dan Cheniere Energy setelah dua perusahaan menandatangani PJB LNG pertama pada 4 Desember 2013 lalu. Berdasarkan perjanjian sebelumnya, Cheniere telah berkomitmen untuk memasok sekitar 0,76 juta ton LNG per tahun selama 20 tahun.

(Baca: Fokus Pembentukan Holding BUMN Migas Dituding Bermasalah)

Meski begitu, Pertamina sudah menyiapkan beberapa skenario, jika gas tersebut tidak kompetitif atau tidak mendapat izin impor dari pemerintah. Salah satunya dengan melakukan swap atau barter dengan pembeli lain. “Kalau tidak bisa juga, kami jual ke pasar lain. Apalagi  Pertamina mampu untuk pasar di Asia atau Eropa,” ujar dia.

Grafik: Eksportir LNG Terbesar Dunia 2012
Eksportir LNG Terbesar Dunia 2012

 

Artikel Terkait
“Sehingga ke depan kami bisa memprediksi apakah perlu mengimpor LNG atau tidak," kata Arcandra.
Salah satu penyebab kenaikan itu adalah Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang sekarang 100% dikelola Pertamina.
"Di sini (Dumai) dikembangkan terakhir dengan RDMP. RDMP di sini tahun 2021-2022," kata Otto