Aprindo: Penjualan Retail Selama Ramadan dan Idul Fitri 2019 Lesu

Selain karena lemahnya daya beli, penjualan produk ritel non makanan dan minuman juga tergerus oleh persaingan dengan penjualan online.
Dimas Jarot Bayu
13 Juni 2019, 19:23
sektor ritel, penjualan ritel non makanan dan minuman, pertumbuhan ritel
Arief Kamaludin | Katadata
Ilustrasi, perdagangan ritel

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan hasil penjualan sektor retail selama Ramadan dan Idul Fitri 2019 lesu. Hal ini terlihat, khususnya, untuk produk retail nonmakanan dan minuman, seperti fesyen dan perlengkapan rumah tangga.

Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta mengatakan, rata-rata pertumbuhan produk makanan dan minuman sebenarnya berada di kisaran 10%. Hanya saja, pertumbuhan retail di sektor lainnya justru mengalami penurunan.

Bahkan, penurunan pertumbuhan ritel di sektor non makanan dan minuman lebih parah dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. "Ada beberapa yang positif, tapi yang turun banyak. Jadi rata-ratanya tetap turun," kata Tutum di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (13/6).

Tutum mengatakan, salah satu faktor utama menurunnya penjualan produk retail nonmakanan dan minuman karena lemahnya daya beli masyarakat. Selain itu, penjualan produk retail nonmakanan dan minuman tergerus persaingan dengan e-commerce atau penjualan online.

Advertisement

(Baca: Tahun Politik, Industri Retail Ditargetkan Tumbuh 10%)

Dengan demikian, Tutum khawatir target pertumbuhan ritel sebesar 8%-10% di akhir tahun ini tak akan tercapai. Pasalnya, momen Ramadan dan Idul Fitri biasanya merupakan penyumbang paling signifikan penjualan ritel.

Ia mengungkapkan, sekitar 20%-30% kontribusi pendapatan sektor ritel ada di saat Ramadan dan Idul Fitri. Alhasil, dengan capaian yang kurang menggembirakan ini para pengusaha ritel harus bekerja ekstra keras di ssisa tahun.

Atas dasar itu, Tutum meminta dukungan dan perlindungan pemerintah terhadap ritel dalam negeri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuka akses pasar di pusat-pusat perbelanjaan yang strategis.

Ia pun meminta agar aturan ketenagakerjaan dikaji kembali, agar sistem pengupahan menjadi lebih adil. Selain itu, ia meminta agar pemerintah tak hanya meningkatkan impor, namun juga mencegah impor. "Jadi lindungi kami juga di dalam negeri," kata Tutum.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait