IMF Desak The Fed Percepat Tapering Off untuk Meredakan Inflasi

IMF menyarankan The Fed untuk mempercepat laju penarikan stimulus atau tapering off dari rencana awal US$ 15 miliar per bulan seiring penyebaran varian baru dan lonjakan inflasi.
Image title
6 Desember 2021, 12:03
IMF, The Fed, suku bunga, inflasi
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/rwa.
The Fed pada awal bulan lalu memutuskan untuk mengurangi pembelian obligasi sebesar US$ 15 miliar setiap bulan.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyarankan Bank Sentral AS, The Federal Reserve melaksanakan kebijakan pengurangan stimulus atau tapering off dengan kecepatan yang lebih tinggi di tengah lonjakan inflasi yang terjadi di negara tersebut. The Fed pada awal bulan lalu memutuskan untuk mengurangi pembelian obligasi sebesar US$ 15 miliar setiap bulan. 

IMF menilai varian baru Covid-19 dan lonjakan inflasi membuat The Fed harus mempercepat langkahnya dalam melaksanakan tapering off. “Kami melihat AS harus harus memberikan bobot yang lebih besar terhadap inflasi dalam menentukan kebijakan moneternya,” kata IMF di laman resminya, seperti dikutip dari CNBC Internasional, Senin (6/12). 

Lembaga tersebut menilai, The Fed tidak hanya harus meningkatkan upaya untuk mengurangi pembelian, tetapi juga memajukan jadwal kenaikan suku bunga kebijakan. 

Ketua Fed Jerome Powell awal pekan lalu mengindikasikan bahwa bank sentral dapat meningkatkan upaya pengurangan dan kemungkinan akan dibahas pada pertemuan bulan ini.

Data yang dirilis pada November menunjukkan bahwa indeks harga konsumen AS naik 6,2% pada Oktober dari tahun lalu, level tertinggi dalam 30 tahun. Namun, dalam hal menaikkan suku bunga, The Fed mengatakan bahwa pelaku pasar tidak boleh menafsirkan tapering off sebagai tanda kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Dalam konteks ini, IMF meminta bank sentral di berbagai belahan dunia, bukan hanya The Fed untuk mengomunikasikan rencana mereka dengan jelas.

"Sangat penting bagi bank sentral utama untuk secara hati-hati mengomunikasikan tindakan kebijakan mereka agar tidak memicu kepanikan pasar yang akan berdampak buruk tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri," kata IMF.

Para analis memperkirakan, The Fed akan menaikkan suku bunga enam kali hingga 2024 seriring inflasi yang melonjak tinggi. Kepala Strategi Pasar Ekuitas Federated Hermes Phil Orlando mengatakan, tekanan inflasi khususnya di sektor otomotif, hunian, hingga makanan menjadi alasan The Fed meningkatkan suku bunga. Federated Hermes merupakan perusahaan bank investasi besar di AS yang memiliki aset kelolaan hingga US$ 634 miliar.

"Tebakan kami adalah  kami akan melihat kenaikan suku bunga 2,25 poin dari The Fed pada paruh kedua tahun depan, dan mungkin kenaikan suku 4,25 poin selama tahun kalender 2023," kata Orlando seperti dikutip dari CNBC Internasional, Senin (29/11).

Orlando menyoroti tingginya angka inflasi di negeri paman sam beberapa bulan terakhir, terutama yang diukur dari indeks harga konsunen (CPI) dan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE).

Indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang menggambarkan harga-harga yang dikeluarkan oleh konsumen di AS juga naik menjadi 5% secara tahunan. Ini merupakan pertumbuhan tertinggi sejak November 1990. Secara bulanan juga naik 1,3%, lebih tinggi dari perkiraan Dow Jones 1%.

Indeks PCE inti yang mengecualikan harga makanan dan energi juga mencatatkan inflasi sebesar 4,1% secara tahunan, tertinggi sejak Januari 1991. Komponen PCE inti ini merupakan salah satu data inflasi yang paling dipertimbangkan The Fed untuk memulai tapering off.

Inflasi Amerika bulan lalu yang diukur dari CPI juga melesat dan mencapai 6,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tertinggi dalam 30 tahun terakhir. "Mengingat lonjakan inflasi yang telah kita lihat akhir-akhir ini, tidak akan mengejutkan jika The Fed mempercepat laju tapering itu. Setelah tapering off selesai, kami memperkirakan akan melihat beberapa kenaikan suku bunga," kata Orlando.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait