Erick Thohir Rombak Direksi Asabri, Dirut Tak Dicopot

Menteri BUMN Erick Thohir mencopot Direktur SDM dan Hukum serta Direktur Investasi dan Keuangan Asabri.
Image title
30 Januari 2020, 17:47
menteri bumn erick thohir, asabri, dugaan korupsi asabri, bumn
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Sonny Widjaja tetap dipertahankan sebagai direktur utama Asabri oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

Menteri BUMN Erick Thohir merombak jajaran direksi PT Asabri. Namun, Erick tetap mempertahankan Letjen TNI (Purn) Sonny Widjaja sebagai direktur utama.

Dalam keputusan yang tertu surat nomor 36/MBU/01/2020. Melalui keputusan tersebut, Kementerian BUMN mencopot Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum Herman Hidayat dan Direktur Keuangan dan Investasi Rony Hanityo Apriyanto.

"Kementerian BUMN selaku pemegang saham melakukan penuerahan Salinan Keputusan (SK) Menteri BUMN tentang pemberhentin, perubahan Nomenklatur jabatan dan pengangkatan anggota direksi Asabri," dikutip dari keterangan resmi, pada Kamis (30/1).

Adapun Herman digantikan oleh Eko Setiawan. Sedangkan, untuk jabatan Direktur Keuangan dan Investasi dipisahkan. Direktur Keuangan dijabat oleh Helmi Imam Satriyono, sedangkan Direktur Investasi dijabat oleh Jeffry Haryadi P. Manullang.

(Baca: Cara Asabri Minta Ganti Rugi: Ini Uang TNI Polri, Kami Bersenjata)

Rencana perombakan direksi sebelumnya telah disampaikan Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo. Hal ini berkaitan dengan persoalan portofolio investasi yang dipegang perusahaan tersebut.

Sementara itu, Sonny Widjaja dalam rapat dengan DPR sebelumnya menyatakan  telah mendapatkan komitmen dari Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro untuk mengganti rugi investasi saham Rp 10,9 triliun. 

Menurut Sonny, pihaknya telah meminta tanggung jawab kepada keduanya pada pertengahan 2019, ketika kinerja saham perusahaan terkait semakin turun. Heru Hidayat merupakan pemegang saham sekaligus Komisaris Utama Trada Alam Minera (TRAM), sedangkan Benny Tjokrosaputro merupakan pemegang saham sekaligus Direktur Utama Hanson International (MYRX).

"Kami panggil untuk minta pertanggungjawaban karena saya bilang, ini uangnya prajurit dan Polri, mereka bersenjata. Kalau tidak (ganti), tijitibeh, mati siji mati kabeh," kata Sonny saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (29/1).

(Baca: Asabri Rugi Investasi, Kementerian BUMN Sebut Pencairan Pensiun Lancar)

Sebagai informasi, harga saham TRAM dan MYRX saat ini nyangkut di batas terendah yakni Rp 50. Berdasarkan data Stockbit, Asabri tercatat memegang 833 juta saham atau setara 5,04% dari total saham TRAM pada 17 Desember 2017. Ketika itu, harga saham tercatat Rp 146. Jika dibandingkan dengan posisi harga saham saat ini, maka terjadi penurunan 65,7%.

Sedangkan di MYRX, Asabri tercatat memegang 4,7 miliar saham atau setara 5,4% dari total saham MYRX saat ini. Bila ditelusuri lebih jauh, Asabri tercatat pernah memegang porsi saham yang lebih besar yakni di atas 7% pada Desember 2017 lalu. Ketika itu, harga saham MTRX Rp 114. Ini artinya, telah terjadi penurunan harga saham 56,14% dalam dua tahun.

Secara rinci, Sonny menjelaskan, total aset Asabri untuk produk Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKM) pada 2019 tercatat sebesar Rp 10,6 triliun. Angka tersebut turun 45% dari posisi 2018 yang sebesar Rp 19,4 triliun.

Total aset dari produk Akumulasi Iuran Pensiun (AIP) juga tercatat turun drastis, hampir 30%. Pada 2018, jumlahnya mencapai 26,9 triliun, sedangkan per akhir tahun lalu hanya Rp 18,9 triliun. "Penurunan aset-aset tersebut terjadi karena penurunan nilai di saham dan reksa dana saham," kata dia.

Reporter: Fariha Sulmaihati
Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait