The Fed Ramal Resesi Ekonomi akibat Pandemi Corona di AS Bakal Panjang

The Fed meminta pemerintah AS untuk meningkatkan stimulus fiskal guna membendung dampak pandemi corona.
Image title
14 Mei 2020, 10:21
The Fed, pandemi corona, virus corona, ekonomi AS
ANTARA FOTO/REUTERS/David Ryder/ama/dj
Ilustrasi. The Fed menekankan kondisi perekonomian AS akan bergantung pada seberapa baik pandemi corona dikendalikan dan seberapa cepat vaksin dan pengobatan yang efektif ditemukan.


Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve memperingatkan pelemahan ekonomi akibat pandemi virus corona akan memakan periode panjang . The Fed pun menyerukan pemerintah AS untuk meningkatkan stimulus fiskal guna membendung dampak dari wabah ini.

Gubernur The Fed Jerome Powell memberikan ulasan kondisi ekonomi AS saat ini yang tengah mencatatkan rekor pengangguran tertinggi seiring penutupan aktivitas ekonomi untuk menekan penyebaran virus corona.

Pandemi ini telah membunuh lebih dari 82 ribu orang di AS dan banyak model epidemiologi bahkan menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa dapat melampaui 100 ribu dalam hitungan minggu.

Powell menekankan kondisi perekonomian AS akan bergantung pada seberapa baik pandemi corona dikendalikan dan seberapa cepat vaksin dan pengobatan yang efektif ditemukan.

"Butuh waktu untuk bisa kembali ke kondisi normal. Saya rasa pemulihan ekonomi akan lebih lambat dari yang kami inginkan. Ini mungkin berarti kita perlu berbuat lebih banyak," ujar Powell dalam wawancara dengan Adam Posen, direktur Institut Peterson untuk Ekonomi Internasional, dikutip dari Reuters, Kamis (14/5).

(Baca: Rupiah Melemah Tertekan Ramalan Gubernur The Fed soal Ekonomi AS)

Pernyataan Powell ini memberikan konfirimasi terkair risiko krisis ekonomi yang lebih besar akibat pandemi ini.

Bank Sentral AS telah memangkas suku bunga mendekati nol dan membuat jaring program yang luas untuk memastikan pasar keuangan terus berfungsi selama pandemi. The Fed juga telah merumuskan fasilitas pinjaman yang menetapkan preseden untuk perusahaan dan pembelian obligasi korporasi pertama kalinya.

Kongres AS telah menyetujui hampir US$ 3 triliun untuk bantuan ekonomi selama krisis.

Powell menyebut respons AS saat ini sangat cepat dan kuat. Namun, semakin lama pandemi ini berlanjut, semakin besar kemungkinan bisnis akan gagal dan rumah tangga akan kekurangan uang.

(Baca: Dibuka Menguat, Rupiah Berpotensi Melemah Tunggu Kebijakan The Fed)

Survei The Fed baru-baru ini, kata Powell, memperkirakan bahwa 40% rumah tangga dengan pendapatan kurang dari US$ 40 ribu termasuk yang telah kehilangan pekerjaan sejak Februari.

"Periode pertumbuhan produktivitas rendah dan pendapatan stagnan akan panjang. Dukungan fiskal tambahan memang mahal, tetapi sepadan jika itu membantu menghindari kerusakan ekonomi jangka panjang dan membuat AS pulih lebih cepat," ujar Powell.

Di sisi lain, The Fed memastikan akan menggunakan berbagai instrumen yang dimiliki semaksimal mungkin hingga krisis berlalu dan pemulihan ekonomi berjalan dengan baik. Namun, ini tidak termasuk memangkas suku bunga negatif yang kini diterapkan sejumlah bank sentral lain.

"Suku bunga negatif, bukan sesuatu yang kami pertimbangkan," kata dia.

Bursa saham utama AS ditutup rontok usai pernyataan Powell. Dow Jones anjlok 2,17%, S&P 500 1,75%, dan Nasdaq 1,55%.

Sementara bursa saham Asia pagi ini juga bergerk di zona merah. Hingga pukul 10.00 WIB, Nikkei turun 0,63%, Hang Seng 1,02%, Kospo 1,1%, STI Index 1,52%, sedangkan IHSG 0,1%.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait