Rekor Surplus Neraca Dagang Dongkrak Rupiah ke 14.185 per Dolar AS

Rupiah menguat terdongkrak rilis data neraca dagang Oktober yang kembali mencetak surplus tertinggi sepanjang sejarah.
Image title
16 November 2021, 09:51
kurs rupiah, rupiah hari ini, rupiah, rupiah pagi ini
Arief Kamaludin|KATADATA
Rupiah pagi ini menguat bersama mayoritas mata uang Asia.

Nilai tukar rupiah dibuka naik 0,13 % ke level Rp 14.183 per dolar AS di perdagangan pasar spot pagi ini. Rupiah menguat terdongkrak rilis data neraca dagang Oktober yang kembali mencetak surplus tertinggi sepanjang sejarah.

Mengutip Bloomberg, rupiah kian menguat pada pukul 09.50 WIB. Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi. Dolar Hong Kong menguat 0,02 % bersama dolar Singapura 0,04 %, dolar Taiwan 0,02 %, yuan Cina 0,06 % dan bath Thailand 0,01 %. Sementara itu, ringgit Malaysia melemah 0,01 %, bersama rupee India 0,06 %, peso Filipina 0,2 %, yen Jepang 0,11 % dan won Korea Selatan 0,14 %

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah hari ini akan bergerak menguat di kisaran Rp 14.180 per dolar AS, dengan potensi pelemahan di kisaran Rp 14.250 per dolar AS. Penguatan rupiah masih terpengaruh rilis data neraca dagang kemarin.

"Surplus besar neraca perdagangan Indonesia juga memberikan dukungan bagi penguatan rupiah," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Selasa (16/11).

Advertisement

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca dagang pada Oktober kembali mencetak surplus tertinggi sepanjang sejarah mencapai US$ 5,73 miliar. Dengan demikian, surplus neraca perdagangan sepanjang Januari-Oktober telah mencapai US$ 30,81 miliar.

Kinerja moncer tersebut didorong oleh ekspor yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan impor. Nilai ekspor bulan lalu yang mencapai US$ 22,03 miliar naik 6,89% dibandingkan bulan sebelumnya dan juga merupakan yang  tertinggi sepanjang sejarah. Sementara itu, impor hanya naik 0,36% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi US$ 16,29 miliar. 

Selain terdongkrak kinerja surplus dagang, Ariston juga mengatakan, penguatan nilai tukar terimbas membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko. Ini terlihat dari indeks saham Asia yang bergerak menghijau pagi ini.

Indeks Shanghai SE Composite Cina menguat 0,05%, Hang Seng Hong Kong juga menguat 0,16%, Kospi Korea Selatan 0,14%, Nifty 50 India sebesar 0,04%, Taiex Taiwan 0,1%, Street Times Singapura 0,06%, Thai Set 50 Thailand sebesar 0,46% dan FTSE Bursa Malaysia KLCI 0,21%. Tetapi IHSG melemah 0,53% pagi ini.

Indeks utama Eropa juga menguat pada penutupan semalam. FTSE 100 Inggris menguat 0,05%, Dax Jerman 0,34%, CAC 40 Perancis 0,52% dan Ibex 35 Spanyol sebesar 0,16%. Sedangkan indeks utama AS ditutup merah pada perdagangan semalam. Dow Jones Industrial dan Nasdaq Composite kompak terkoreksi 0,04%, sedangkan S&P 500 stagnan.

Meski demikian, Ariston mengatakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global masih menjadi sentimen yang dapat menahan penguatan rupiah hari ini. Kekhawatiran ini tercermin dari yield obligasi pemerintah AS yang kembali naik dalam beberapa hari terakhir.

"Ini menandakan pasar masih berekspektasi Bank Sentral AS bisa menaikan suku bunga acuannya lebih cepat karena tingkat inflasi AS yang masih meninggi," kata Ariston.

Yield US Treasury untuk semua tenor terpantau naik, teruatam untuk tenor jangka panang. Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali naik menjadi 1,63% pada perdagangan kemarin (15/11). Ini merupakan rekor tertinggi sejak pekan terakhir bulan lalu.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait