Rupiah Menguat Rp 14.378/US$ Usai Rusia Tarik Pasukan dari Ukraina

Rupiah menguat seiring meredanya konflik Rusia-Ukraina usai Moscow menarik pasukannya dari perbatasan.
Image title
16 Februari 2022, 09:34
rupiah, rupiah hari ini, rupiah melemah
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Ilustrasi. Rupiah pagi ini diperkirakan menguat ke Rp 14.250 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 22 poin ke level Rp 14.278 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Rupiah menguat seiring meredanya konflik Rusia-Ukraina usai Moscow menarik pasukannya dari perbatasan kemarin.

Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik melemah ke arah Rp 14.280 per dolar AS pada pukul 09.20 WIB. Kendati demikian ini, rupiah masih menguat dibandingkan posisi penutupan kemarin di Rp 14.300 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi. Penguatan juga dialami dolar Singapura 0,06% bersama dolar Taiwan 0,07%, won Korea Selatan 0,2%, peso Filipina 0,13% dan rupee India 0,35%. Sementara yen Jepang melemah 0,07% bersama dolar Hong Kong 0,01%, yuan Cina 0,02% dan bath Thailand 0,06%, sedangkan ringgit Malaysia stagnan.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan menguat ke arah Rp 14.250 per dolar AS, dengan potensi resistensi di kisaran Rp 14.320 per dolar AS. Penguatan terutama dipengaruhi meredanya konflik Rusia-Ukraina.

Advertisement

"Penguatan rupiah setelah pemerintah Rusia mengumumkan akan menarik sebagian pasukannya dari perbatasan Ukraina. Pengumuman ini paling tidak sedikit menurunkan ketegangan antara Rusia dengan NATO," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (16/2).

 

Setelah kabar tersebut, harga minyak dunia langsung berbalik turun setelah sempat menyentuh rekor tertingginya selama lebih dari tujuh tahun pada perdagangan awal pekan ini. Harga minyak anjlok lebih dari 3% pada perdagangan kemarin.

Harga minyak mentah Brent turun US$3,20, atau 3,3% ke level US$93,28 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$3,39, atau 3,6% menjadi US$92,07 per barel.

Meski demikian, pergerakan rupiah juga masih dibayangi kenaikan kasus Covid-19 di dalam negeri yang kini telah mencapai rekor tertingginya sepanjang pandemi.

"Bila pemerintah melihat tingkat keparahan meninggi, pembatasan aktivitas akan diperketat lagi dan ini bisa menekan rupiah," kata Ariston.

Pemerintah melaporkan kasus Covid-19 domestik bertambah 57.049 kasus positif baru pada Selasa (15/2). Angka ini merupakan rekor tertinggi selam pandemi COvid-19. Sebelumnya rekor tertinggi penambahan kasus harian tercatat pada tanggal 15 Juli 2021 atau saat lonjakan varian Delta sebanyak 56.757 kasus baru.

Pergerakan rupiah juga masih akan dibayangi rencana kenaikan bunga acuan bank sentral Amerika, The Federal Reserve (The Fed). Pasar masih mewaspadai potensi kenaikan bunga The Fed yang lebih agresif dalam memerangi inflasi di AS. Sikap Bank Sentral AS itu akan mendorong penguatan dolar AS.

Senada dengan Ariston, analis pasar uang Bank Mandiri Rully A Wisnubroto juga memproyeksikan rupiah menguat ke kisaran Rp 14.264 per dolar AS, dengan potensi pelemahan ke arah Rp 14.342 per dolar AS. Selain karena meredanya konflik di dua negara bekas Uni Soviet, penguatan rupiah masih terimbas rilis data neraca dagang kemarin.

"Pergerakan rupiah hari ini menyusul penguatan kemarin, dipengaruhi oleh neraca perdagangan yang mengalami surplus lebih tinggi dari perkiraan," kata Rully kepada Katadata.co.id.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Januari 2021 kembali surplus sebesar US$ 930 juta. Nilai surplus dagang ini turun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$ 1,02 miliar. Dengan kinerja ini, maka neraca perdagangan Indonesia telah surplus selama 21 bulan beruntun.

Ekspor bulan lalu tercatat US$ 19,16 miliar, turun 14,29% dibandingkan bulan sebelumnya tetapi masih naik 25,3% dibandingkan Januari 2021.  Sementara impor turun 14,62% dibandingkan Desember 2021 tetapi naik 36,77% dibandingkan Januari 2021 menjadi US$ 18,23 miliar. 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait